Guru SMP Kuningan Terkena Pencatutan Identitas: Ferrari Palsu

Tika M. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 86 dibaca
Bisik.id
Guru SMP Kuningan Terkena Pencatutan Identitas: Ferrari Palsu

Gambar atau konten salah?

Rizal Nurdimansyah, seorang guru honorer berusia 39 tahun, berasal dari desa Winduherang di Kabupaten Kuningan. Pada awalnya, ia hanya mengajar di sebuah SMP lokal dan tidak pernah memiliki mobil mewah.

Di 02 April 2026, Rizal menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Penelepon mengaku berasal dari Ciawigebang dan meminta data pribadi Rizal untuk keperluan pembelian mobil atas nama bosnya.

"Kronologinya awalnya waktu tanggal 2 April tuh ada yang menelepon ngakunya dari Ciawigebang, mau pinjam data kayak KTP. Katanya mau ada pembelian mobil dari bosnya gitu. Nah, ketika itu tanggal 2 April-nya juga lagi, 14 menit selang itu, di telepon lagi, nanti dikasih iming-iming uang Rp 5 juta. Tapi saya tetap tolak," tutur Rizal, Kamis (16/4/2026).

Meskipun Rizal menolak, penelepon kembali menghubungi beberapa menit kemudian dan menawarkannya Rp5 juta sebagai kompensasi. Namun, Rizal tetap menolak dan tidak memberikan data pribadi.

Rizal baru mengetahui adanya pencatutan identitasnya pada 13 April 2026. Seorang teman di desa memberitahunya bahwa ia telah membeli mobil Ferrari. Rizal merasa terkejut karena tidak pernah memiliki mobil tersebut.

"Pas tanggal 13 April, hari Senin, saya dikasih kabar gitu, Kata teman yang ada di desa, 'Pak, Aa katanya itu udah beli mobil Ferrari. Masa sih? Ah ya jangan bercanda gitu kan. Saya kira bercanda. Serius A nih, datanya ada. Pas dicek di Samsat hari tanggal 14-nya, benar ada data saya gitu, data pembelian, data pajak untuk bayar pajak. Nggak punya foto mobilnya. Cuman ada data mobil Ferrari 458 yang harganya sekitar 4,2 miliar ," tutur Rizal.

Untuk memastikan kebenaran, Rizal mengunjungi kantor Samsat pada 14 April 2026. Pemeriksaan menunjukkan adanya faktur pembelian kendaraan atas nama Rizal. Dokumen tersebut mencatat Rizal sebagai pembeli dan wajib membayar pajak mobil Ferrari 458 Speciale Aperta.

"Dari Samsat-nya instruksinya diblokir aja. kalau bukan dari Aa, ya lanjut ke itu aplikasi Samsat, pakai KTP asli sama face recond, yang pakai wajah tuh. Nah itu dipakai face juga gitu, langsung bisa diblokir," tutur Rizal.

Rizal tidak memiliki mobil tersebut dan khawatir akan beban pajak serta masalah hukum. Ia memutuskan untuk memblokir identitasnya di Samsat agar tidak terpaksa membayar pajak atas kendaraan yang tidak dimilikinya.

Merasa perlu melindungi diri, Rizal melaporkan kasus pencatutan identitas ke kepolisian. Ia takut akan konsekuensi hukum jika tidak melaporkan. Ia berharap laporan tersebut dapat menegur pihak yang menipu.

"Iya pas itu kaget. Saya kan cuman guru honorer di SMP. Jadi buat laporan ke kepolisian. Supaya sayanya perlindungan diri, takutnya harus membayar apa, membayar pembelian mobil begitu takutnya. Kalau sudah lapor kan saya tidak bertanggung jawab gitu," tutur Rizal.

Polres Kuningan menerima laporan resmi dari Rizal. Iptu Abdul Aziz menyatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti melalui proses penyelidikan. Ia menegaskan bahwa identitas Rizal telah dipalsukan.

"Sudah diterima. Sudah buat laporan tadi barusan. Kita akan lakukan proses penyelidikan dulu. Itukan memalsukan identitasnya si korban," pungkas Abdul saat dikonfirmasi.

Kasus ini menyoroti risiko pencatutan identitas yang dapat menimbulkan beban finansial dan hukum bagi korban. Langkah cepat Rizal untuk memblokir identitas dan melaporkan ke polisi menjadi contoh penting bagi masyarakat dalam menghadapi penipuan data pribadi.

pencatutan identitasRizal Nurdimansyahpencurian data pribadimobil Ferrari 458Samsatpenipuanpajak kendaraanKepolisian

Komentar

Memuat komentar...