Habonaron: Kepercayaan Asli Simalungun yang Masih Hidup

Ika P. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 80 dibaca
Bisik.id
Habonaron: Kepercayaan Asli Simalungun yang Masih Hidup

Gambar atau konten salah?

Di Medan, sebelum Islam dan Kristen masuk ke Tanah Simalungun, masyarakat sudah mengamalkan kepercayaan asli bernama Habonaron. Habonaron tidak sekadar mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga menjadi panduan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sesama.

Penulis dan akademisi Erond L Damanik menjelaskan bahwa Habonaron merupakan agama atau keyakinan asli masyarakat Simalungun yang telah berkembang jauh sebelum masuknya agama-agama besar ke wilayah tersebut.

“Habonaron adalah agama atau keyakinan asli orang Simalungun. Sama seperti agama-agama tradisional lainnya, agama ini memiliki dewata tertinggi yang disebut Naibata (Tuhan), serta memiliki dewa-dewi hingga melahirkan manusia pertama di Desa Naualuh yang kemudian tersebar ke seluruh Simalungun,” ujar Erond, Rabu (3 Juni 2026).

Menurutnya, keberadaan Habonaron telah dicatat dalam tulisan J. Tideman pada 1922 yang mengisahkan penciptaan jagat raya dan manusia dalam kepercayaan masyarakat Simalungun. Catatan tersebut menjadi salah satu sumber awal yang mendokumentasikan kehidupan keagamaan masyarakat Simalungun sebelum masuknya agama-agama samawi.

Erond menjelaskan inti ajaran Habonaron adalah kebajikan dan keseimbangan. Kepercayaan ini mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, hewan, tumbuhan, dan seluruh unsur kehidupan.

“Agama ini berintikan kebajikan tentang sesama manusia, hewan, tumbuhan ataupun lingkungan. Ini adalah keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos yakni manusia dan lingkungan alam atau jagad raya,” katanya.

Ketika Islam mulai masuk ke Bandar pada 1886, kemudian disusul Protestan di Raya pada 1903 dan Katolik di Haranggaol pada 1937, masyarakat Simalungun tidak menunjukkan perlawanan yang berarti. Menurut Erond, masuknya agama-agama baru tersebut berlangsung bersamaan dengan kolonialisme yang menawarkan pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan konsep kehidupan baru kepada masyarakat.

“Tidak ada catatan tentang konflik rasial, agama, dan etnisitas di Simalungun ketika agama tradisional Simalungun harus takluk pada kolonialisme,” ujarnya.

Meski kepercayaan Habonaron perlahan memudar dan tidak lagi ditemukan penganut yang secara terbuka menyebut diri sebagai Parhabonaron, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya disebut masih bertahan hingga saat ini.

Erond mengungkapkan hasil survei yang dilakukannya pada 2004 hingga 2005 tidak menemukan masyarakat yang mengaku masih memeluk agama Habonaron. Namun nilai-nilai yang diwariskan kepercayaan tersebut tetap hidup dalam adat dan budaya masyarakat Simalungun. “Nilai‑nilai Habonaron tetap hidup di Simalungun meskipun kepercayaan itu telah memudar,” katanya.

Nilai‑nilai tersebut kemudian dirumuskan kembali dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1963 melalui falsafah hidup Habonaron do Bona, yang menempatkan kebenaran sebagai dasar dalam berpikir, bertindak, dan menjalani kehidupan.

Hingga kini, jejak Habonaron masih dapat ditemukan dalam berbagai upacara adat dan ritus masyarakat Simalungun. Menurut Erond, hampir seluruh tradisi adat Simalungun masih mencerminkan konsep keseimbangan antara manusia dan alam yang menjadi inti ajaran Habonaron.

“Konsep keyakinan ini adalah keseimbangan antara makro dan mikrokosmos, di mana manusia menjadi poros yang menjalin hubungan dengan jagat raya dan lingkungan. Oleh sebab itu, keyakinan ini cenderung mengarah kepada kebajikan,” tuturnya.

Meski tidak lagi dianut sebagai agama, Habonaron tetap menjadi bagian penting dalam memahami sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Simalungun hingga hari ini.

Kepercayaan Habonaron, meski tidak lagi dipraktikkan secara terbuka, masih mempengaruhi adat dan budaya Simalungun. Nilai‑nilai keseimbangan dan kebajikan yang diajarkannya tetap hidup dalam tradisi, menandai warisan spiritual yang melekat pada identitas masyarakat setempat.

HabonaronSimalungunkepercayaan aslikeseimbangankolonialismeadatidentitas

Komentar

Memuat komentar...