Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus, 3 Kematian, Fokus Tikus

Nurul H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 231 dibaca
Bisik.id
Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus, 3 Kematian, Fokus Tikus

Gambar atau konten salah?

Hantavirus sudah terdeteksi di Indonesia. Kementerian Kesehatan melaporkan 23 kasus tersebar di sembilan provinsi, dengan tiga kematian dalam tiga tahun terakhir. Virus yang ditemukan berbeda dengan yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius.

Hantavirus berasal dari genus Orthohantavirus dan biasanya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penyakit ini termasuk zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Penularan biasanya terjadi lewat gigitan, kontak dengan saliva, urine, feses, atau inhalasi debu yang terkontaminasi.

Setelah insiden MV Hondius, publik kembali memperhatikan hantavirus. Hingga 7 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia mencatat lima dari delapan suspek terkait kapal tersebut telah terkonfirmasi positif. Tiga orang meninggal, termasuk pasangan suami istri Belanda dan warga Jerman, karena infeksi Andes virus. Andes virus dikenal dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu, meskipun penularan sangat terbatas.

Di Indonesia, semua kasus hantavirus berasal dari Seoul virus, bukan Andes virus. Ini penting karena karakteristik penularan berbeda. Seoul virus biasanya menular melalui tikus, dan belum ada bukti penularan antarmanusia di Indonesia.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, “23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal.” Ia menambahkan bahwa tingkat kematian tinggi tidak hanya karena virus, tetapi juga faktor lain seperti ko-infeksi, kanker hati, atau kegagalan multiorgan.

Kasus hantavirus tersebar di sembilan provinsi, dengan Pulau Jawa menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Berikut sebaran kasus:

  • Sumatera Barat: 1 kasus
  • Banten: 1 kasus
  • DKI Jakarta: 6 kasus
  • Jawa Barat: 5 kasus
  • Jawa Timur: 1 kasus
  • DI Yogyakarta: 6 kasus
  • Nusa Tenggara Timur: 1 kasus
  • Kalimantan Barat: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus

Di tahun 2025, jumlah kasus Seoul virus mencapai 17, sedangkan pada 2024 hanya satu kasus. Hingga 2026, ada tambahan lima kasus baru. Kemenkes belum menjelaskan alasan tingginya kasus di Pulau Jawa, namun diperkirakan karena kepadatan penduduk dan interaksi manusia dengan lingkungan perkotaan.

Tikus berkembang biak dengan cepat di area permukiman padat, saluran air, pasar, dan lingkungan dengan sanitasi kurang baik. Oleh karena itu, daerah perkotaan memiliki potensi paparan lebih tinggi dibanding wilayah lain.

Menurut Aji, kelompok pekerjaan dengan risiko tinggi terpapar hantavirus meliputi:

  • Petugas kebersihan
  • Petani
  • Pekerja konstruksi
  • Pengendali hama
  • Pembersih selokan
  • Pekerja laboratorium

Paparan dapat terjadi saat menyentuh area yang tercemar urine atau feses tikus, atau saat menghirup debu terkontaminasi.

Aji menegaskan bahwa belum ada kasus penularan antarmanusia untuk hantavirus di Indonesia. Ia mengutip: “Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan.”

Perbedaan situasi di Indonesia dengan wabah MV Hondius terlihat jelas. Di Indonesia, penularan lebih sering lewat tikus, sementara di kapal pesiar, penularan antarmanusia terjadi melalui kontak dekat.

Meski jumlah kasus masih terbatas, data menunjukkan hantavirus bukan ancaman baru di Tanah Air. Penyebaran utama berkaitan dengan paparan tikus dan lingkungan yang terkontaminasi.

Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus, dan mengenali gejala awal hantavirus menjadi langkah penting untuk menekan risiko. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengandalkan informasi resmi agar tidak mudah termakan kepanikan.

Hantavirus di Indonesia masih dalam fase pengawasan. Meskipun belum ada penularan antarmanusia, tetap penting bagi semua pihak untuk waspada terhadap tikus dan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi. Dengan kebersihan yang baik dan pengetahuan tentang gejala, risiko dapat dikurangi secara signifikan.

HantavirusSeoul virusIndonesiatikusMV HondiusAndes virusKementerian KesehatanPulau Jawa

Komentar

Memuat komentar...