Hantavirus pada Kapal Pesiar: Peringatan One Health
Gambar atau konten salah?
Kasus dugaan hantavirus kembali menimbulkan perhatian publik. Laura Navika Yamani, pakar epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, menekankan pentingnya pendekatan One Health untuk mengatasi penyakit zoonosis ini.
One Health menggabungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Dengan cara ini, deteksi dini dan pencegahan penyebaran penyakit dapat diperkuat. Menurut Laura, langkah‑langkah penting meliputi penguatan sanitasi, surveilans kesehatan, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif.
“Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan,” jelas Laura pada Senin, 11 Mei 2026.
Pernyataan tersebut muncul setelah munculnya klaster dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Beberapa penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara. Laura menjelaskan bahwa hantavirus biasanya tidak muncul secara tiba‑tiba di tempat tertutup seperti kapal pesiar. Ia menilai kemungkinan paparan terjadi sebelum perjalanan atau saat berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.
Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi, ujar Laura. Mobilitas lintas negara, khususnya perjalanan laut, dapat memperluas jangkauan deteksi tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung.
Dari sisi penularan, Laura menyebut hantavirus dapat menyebar melalui paparan partikel dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan terjadi melalui inhalasi partikel terkontaminasi dan tidak selalu membutuhkan kontak langsung. Ia menuturkan bahwa sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antar manusia. Namun, beberapa strain seperti Andres virus mempunyai kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia. Oleh karena itu, investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi.
Perubahan lingkungan, seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat satwa, turut memengaruhi penyebaran reservoir penyakit. “Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” terangkan Laura.
Gejala awal hantavirus cenderung tidak spesifik: demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi pneumonia berat, kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan syok. Pasien perlu mendapat penanganan intensif di fasilitas kesehatan apabila sudah pada fase tersebut.
Menurut Laura, bentuk berat infeksi hantavirus yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. “Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30‑50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” pungkasnya.
Kasus ini menyoroti perlunya koordinasi lintas disiplin dan pemantauan terus menerus terhadap potensi zoonosis, terutama di wilayah yang sering menjadi jalur perjalanan internasional. Dengan pendekatan One Health, deteksi dini dan respons cepat dapat mengurangi risiko penyebaran penyakit menular yang berpotensi fatal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Surabaya Pasang Pot Bunga di TPS Liar, Coba Hindari Sampah
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
Delapan Kabupaten Jatim Siaga Darurat Kekeringan Surabaya
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
