Harga Kain Pasar Cipadu Naik, Pasar Jadi Seji di Tangerang

Rini S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Harga Kain Pasar Cipadu Naik, Pasar Jadi Seji di Tangerang

Gambar atau konten salah?

Harga bahan baku tekstil yang dibawa dari luar negeri semakin melonjak akibat konflik di Timur Tengah. Dampaknya sudah mulai terasa di pasar kain lokal, di mana harga kain untuk pakaian dan seragam perlahan menanjak.

Pasar Cipadu di Tangerang, yang lama dikenal sebagai pusat tekstil legendaris, menjadi contoh nyata. Di sana, pedagang kain sudah merasakan kenaikan harga meski belum terlalu signifikan.

“Harga memang sudah naik, sudah naik dari agen‑agennya. Sudah satu minggu. Kalau dari agen ke kita Rp 1.500 per yard naiknya. Ini kan kita cuma jual American drill namanya, biasanya yang paling murah Rp 30.000 per yard, sekarang Rp 31.500‑32.000 lah kita jual,” kata Muklis, salah satu pedagang kain di pasar tersebut, pada Kamis 16 April 2026.

Dia menambahkan, “Ya harga barang yang kita jual ikut naik, kita sesuai kenaikan agen kan. Ibarat kita ambil modal 10, nggak mungkin kan kita jual 9, rugi.”

Muklis menjelaskan bahwa kenaikan harga masih terasa tidak terlalu besar karena produsen dan agen masih menahan harga secara bertahap. Ia tidak dapat memastikan apakah harga kain akan terus naik.

“Ke depannya belum tahu, nanti bisa lebih tinggi lagi. Nggak tahu besok ini naiknya bisa berapa kan? Bisa Rp 5.000 naiknya, nggak tahu kita kan,” ujarnya.

Namun, bagi Muklis, perhatian utamanya bukan hanya kenaikan harga, melainkan juga kehadiran pembeli. “Masalah utamanya kan bukan di harga, tapi di ekonomi kita. Kan ini saya jual bahan kebanyakan untuk seragam pabrik. Kalau dulu orang pabrik dapat seragam setahun dua kali, sekarang paling tiga tahun sekali, efisiensi. Percuma harga nggak naik kalau nggak ada yang beli,” jelasnya.

Ia menilai pasar kini sangat sepi. “Di pasar pun sama, kelihatan kan (kondisi pasar) ini bagaimana. Dulu orang ramai lalu lalang, sekarang sepi. Siapa yang beli kalau sepi begini, paling cuma andalkan langganan pesan lewat WA,” tambahnya sambil menunjukkan suasana pasar yang kosong.

Di sisi lain, Ade, penjaga toko kain lain di Pasar Cipadu, juga merasakan kenaikan harga. Ia menjual kain per meter, yang ia sebut keteng, maupun kain per rol atau gulungan.

“Harga naik Rp 2.000 per meter, per rol‑an (gulung). Kalau per rol itu Rp 27.500 per yard naik jadi Rp 29.000 per yard. Satu rol itu 30 yard atau 27 meter, kan satu yard 0,9 meter. Jadi se‑rol dari Rp 825.000 jadi Rp 870.000. Kalau keteng Rp 35.000 naik jadi Rp 37.000 per meter,” jelasnya.

Alih‑alih masalah kenaikan harga, Ade lebih prihatin dengan kondisi pasar yang sudah sangat sepi. Ia mengibaratkan situasi seperti “jatuh tertimpa tangga,” takut pasar akan semakin sulit bila pembelian semakin berkurang akibat kenaikan harga.

“Sekarang memang sepi, jauh lebih ramai yang dulu daripada sekarang. Dulu bisa sehari 20 rol, sekarang jarang, sepi sekarang, satu rol saja susah. Keteng lah paling masih ada satu dua yang beli,” kata Ade.

Di Pasar Cipadu, penjual kain harus menyesuaikan strategi. Kenaikan harga bahan baku membuat margin menipis, sementara permintaan menurun. Banyak pedagang kini mengandalkan pesanan melalui pesan singkat, mengurangi interaksi langsung di pasar.

Ketidakpastian harga dan penurunan volume pembelian menimbulkan ketegangan di kalangan pedagang. Mereka berusaha menyeimbangkan antara menyesuaikan harga agar tetap menguntungkan dan menjaga hubungan dengan pelanggan yang semakin sedikit.

Secara keseluruhan, kenaikan biaya bahan baku akibat konflik di Timur Tengah menekan industri tekstil lokal. Harga kain di Pasar Cipadu meningkat perlahan, namun permintaan yang menurun membuat pedagang menghadapi tantangan ganda: menyesuaikan harga dan mencari pembeli di pasar yang semakin sepi.

harga bahan baku tekstilPasar Cipadukonflik Timur Tengahpeningkatan hargapermintaan menurunmargin menipispembeli sepi

Komentar

Memuat komentar...