Harga Pertamax Naik Rp4.000, Bandung Beralih Pertalite
Gambar atau konten salah?
Di Jalan Soekarno Hatta, Bandung, SPBU biasanya penuh sesak. Namun, pada pagi hari ini, antrean di jalur pengisian Pertalite terlihat lebih padat, sementara jalur Pertamax tampak sepi. Kondisi ini muncul bersamaan dengan kenaikan harga Pertamax yang mulai berlaku pada Rabu, 10 Juni 2026, dini hari.
Harga Pertamax RON 92 melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green RON 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp19.000 per liter. Perubahan ini membuat banyak warga beralih ke Pertalite.
“Pertamax naiknya hampir Rp4.000, mahal banget,” kata Diki (32), salah satu warga. Diki menjelaskan bahwa ia terpaksa beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran harian. “Sebetulnya biasa pakai Pertamax, karena sayang juga ke motor. Tapi naiknya nggak manusiawi gini mah mau nggak mau beralih ke Pertalite,” ujarnya.
Diki tidak banyak mengomentari kebijakan kenaikan BBM, hanya mengajak pemerintah agar lebih berpihak kepada rakyat kecil. “Bayangin aja a, jatah buat bensin itu sudah ditakar per bulannya. Kalau saya paksain beli Pertamax harus ada yang dikurangi lagi, apalagi kebutuhan pokok serba naik. Tapi gajih tetap, nggak tahu lagi deh,” jelasnya.
Indah Mawari (30) juga mengeluhkan situasi serupa. Ia mengaku terpaksa tetap menggunakan Pertamax karena mesin kendaraan yang sudah terbiasa. “Mobil saya sudah biasa pakai Pertamax. Paling sekarang solusinya kurangi jajan, tapi nggak tahu deh,” ucap Indah.
Indah tidak bisa beralih ke transportasi umum karena jarak menuju kantornya di kawasan Batununggal cukup jauh. Ia menambahkan, “Pakai motor ada saya juga di rumah. Suka pakai mobil karena banyak yang harus dibawa. Terus tahu sendiri di Bandung transportasinya belum kaya Jakarta.”
“Harapan saya sebagai warga, Pertamax harganya turun lagi, itu aja. Kita selama ini sudah membantu pemerintah dengan tidak membeli BBM bersubsidi, tapi sekarang naiknya tinggi banget, sebel banget serius pas lihat medsos tadi pagi baca berita kenaikan ini,” pungkasnya.
Situasi ini menunjukkan bagaimana perubahan harga BBM langsung memengaruhi pilihan konsumen. Banyak yang menyesuaikan pola pengisian bahan bakar demi menjaga anggaran, sementara beberapa tetap terpaksa menggunakan jenis BBM yang sudah diatur mesin mereka. Kebijakan pemerintah terkait harga BBM kini menjadi topik hangat di kalangan masyarakat, menyoroti ketergantungan ekonomi rumah tangga pada biaya transportasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
