Hari Kartini 2026: Merayakan Perjuangan Pendidikan Wanita
Gambar atau konten salah?
Hari Kartini diperingati setiap 21 April sebagai penghormatan atas perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak dan pendidikan bagi perempuan di Indonesia.
Di masa lalu, budaya patriarki masih sangat kental. Perempuan tidak memiliki akses yang setara pada pendidikan dan lebih dibatasi pada urusan rumah. Kondisi ini mendorong Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan, terutama dalam bidang pendidikan bagi perempuan.
Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1897 di Jepara, Jawa Tengah. Ia merupakan salah satu anak dari bangsawan Jawa, yang memiliki akses untuk mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, Europeesche Lagere School (ELS).
Ketika masih muda, Kartini harus menjalani masa pingitan, sebuah adat dari budaya Jawa yang berlaku di masa itu. Meski berada dalam keterbatasan fisik, semangatnya tidak surut. Ia belajar secara otodidak dan tetap menjalin korespondensi dengan teman-temannya di Belanda.
Korespondensi ini kemudian menjadi jalan bagi Kartini untuk menyuarakan pemikirannya tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan, kesetaraan hak, serta kritik terhadap sistem feodalisme dan kolonialisme yang menindas.
Dalam surat-suratnya, ia mengungkapkan keprihatinan mengenai nasib perempuan pribumi yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan. Dari surat-surat inilah sebuah buku berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang" terbit, berisi kumpulan surat-surat R.A. Kartini.
Ia menolak anggapan bahwa perempuan hanya layak berada di ranah domestik dan tidak perlu berpendidikan tinggi. Menurutnya, perempuan cerdas akan melahirkan generasi yang lebih baik. Karena itu, Kartini mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di Jepara, menjadi wadah bagi perempuan untuk memperoleh ilmu dan keterampilan, yang pada akhirnya membantu mereka menjadi lebih mandiri.
Upaya ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Indonesia. Gagasan ini juga mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk memberikan perhatian pada pendidikan bagi perempuan pribumi. Salah satu tokoh Belanda yang mengagumi pemikiran Kartini adalah J.H. Abendanon, yang menerbitkan kumpulan surat Kartini yang menjadi inspirasi banyak orang, tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di Eropa.
Meski usia R.A. Kartini tergolong singkat, hanya 25 tahun, ia wafat setelah melahirkan anak pertamanya. Warisan pemikirannya jauh melampaui zaman dan tetap ada hingga kini.
Oleh karena besarnya jasa dan peranan yang dilakukan R.A. Kartini, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Penetapan ini dilakukan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964.
Berbagai cara dilakukan masyarakat Indonesia untuk memperingati dan menghormati jasa Raden Ajeng Kartini, di antaranya:
- Mengadakan dan mengikuti upacara Hari Kartini.
- Menggunakan busana tradisional seperti kebaya.
- Menulis surat untuk ibu, adik, dan kakak perempuan.
- Membaca salah satu buku karya R.A. Kartini.
Hari Kartini menjadi momen penting bagi generasi muda untuk mengenang perjuangan perempuan Indonesia. Dengan mengenang sejarahnya, kita dapat memahami betapa pendidikan dan kesetaraan hak tetap menjadi kunci bagi kemajuan bangsa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
PPPK Boleh Dapat Gaji ke-13 2026, Besar Sesuai Masa Kerja
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Berita Terbaru
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Rakhmad Basuki: Dari Larangan Orang Tua Jadi Pelatih Pro
Tahu: Protein Nabati, Rasa Martabak, Bola, Gejrot Tradisional
SIM Digital Korlantas: Praktis, Aman, dan Dinamis Baru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
