Helium Terbatas, Chip Industri Terancam Terganggu Global
Gambar atau konten salah?
Helium, gas yang tak terlihat namun penting, kini berada di tengah krisis pasokan global. Gas ini dipakai di setiap tahap pembuatan chip: dari pendinginan mesin, deteksi kebocoran, hingga proses manufaktur presisi. Tanpa helium, pabrik chip tidak dapat beroperasi dengan standar tinggi.
Harga helium telah naik tajam, hampir dua kali lipat sejak akhir Februari. Pergerakan harga ini meniru pola minyak dan komoditas lain, menandakan ketegangan di pasar.
Alasan utama terletak pada gangguan distribusi. Sebagian besar pasokan helium dunia harus melewati Selat Hormuz, yang kini tidak beroperasi penuh karena ketegangan di Timur Tengah. Pengiriman lewat jalur ini menjadi bottleneck utama.
Situasi memburuk ketika Qatar, pemasok helium terbesar kedua, mengumumkan status force majeure. Hampir sepertiga pasokan global hilang karena keputusan tersebut.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa cadangan helium di Korea Selatan kemungkinan hanya akan bertahan sampai Juni 2026. Alarm ini menggerakkan dua raksasa semikonduktor, Samsung Electronics dan SK Hynix, untuk bertindak cepat.
Kedua perusahaan tersebut beralih ke impor dari Amerika Serikat, berusaha mengamankan stok. Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan menyatakan optimisme untuk paruh pertama tahun ini, namun di lapangan terasa ketegangan yang lebih nyata.
Prioritas utama bagi Samsung dan SK Hynix adalah mengamankan stok daripada menekan harga. Cadangan mereka hanya cukup untuk beberapa bulan dan terus menipis.
Krisis ini sudah merambah ke rantai pasok teknologi global. Pakar rantai pasok di Semicon China memperingatkan bahwa kelangkaan helium dapat memicu penundaan produksi. Perusahaan seperti VAT dan Mycronic sudah melaporkan waktu tunggu pengiriman yang lebih lama.
Jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut, industri chip menghadapi dua pilihan: memperlambat produksi atau menutup lini produksi. Konsekuensinya meluas ke smartphone, perangkat elektronik, dan industri otomotif yang sangat bergantung pada chip.
Di sisi lain, Rusia memiliki cadangan helium melimpah. Namun sanksi Barat membuat helium Rusia sulit masuk ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. China memanfaatkan celah ini, meningkatkan impor helium dari Moskow hingga melonjak 60 persen pada tahun 2025.
Dengan pasokan yang menipis, industri semikonduktor harus menyesuaikan strategi. Pengalihan sumber daya, diversifikasi pemasok, dan penyesuaian jadwal produksi menjadi kunci untuk mengurangi dampak. Sementara itu, ketergantungan pada helium menyoroti betapa rapuhnya rantai pasok teknologi saat menghadapi gejolak geopolitik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rupiah Menembus Rp 18.000 Pagi Saat Dolar Tembus 18k Indonesia
Safari Apple: Kecepatan, Baterai, dan Privasi Unggul
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Fabiola Elizabeth Tersangka Penipuan Online Internasional
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
