Hipertensi Meningkat di Surabaya: 1,4 Miliar Orang Dunia Mengalami

Rizki W. · 3 min baca · 12 hari lalu · 51 dibaca
Bisik.id
Hipertensi Meningkat di Surabaya: 1,4 Miliar Orang Dunia Mengalami

Gambar atau konten salah?

Di Surabaya, tekanan darah tinggi—yang sering disebut hipertensi—kembali menjadi topik hangat. Banyak orang muda yang tampak sehat, namun tekanan darahnya sudah melebihi batas aman. Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak yang baru mengetahui keberadaannya saat sudah terjadi komplikasi serius.

Menurut data terbaru dari World Health Organization (WHO), 1,4 miliar orang dewasa di dunia mengalami hipertensi pada tahun 2024. Angka ini mewakili 33 % populasi usia 30‑79 tahun. Dua pertiga dari mereka tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Lebih dari setengah—sekitar 600 juta orang—tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi ini. Hanya 630 juta orang yang sudah didiagnosis dan 320 juta orang yang berhasil mengendalikan tekanan darahnya.

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah ≥140/90 mmHg pada dua pengukuran terpisah. Angka sistolik menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah, sedangkan diastolik menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat. Bila pembacaan sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg pada dua hari berbeda, maka kondisi tersebut dinyatakan hipertensi.

WHO menegaskan bahwa hipertensi merupakan penyebab utama kematian dini di dunia. Kondisi ini dapat memicu stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Karena itu, WHO menargetkan penurunan prevalensi hipertensi yang tidak terkendali sebesar 25 % antara tahun 2010 dan 2025.

Berikut penyebab paling umum hipertensi menurut WHO:

  • Pola makan tinggi garam – Garam meningkatkan retensi cairan, sehingga tekanan pembuluh darah naik. Makanan cepat saji, camilan kemasan, dan lauk tinggi sodium sering menjadi penyebab.
  • Berat badan berlebih dan obesitas – Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah, sehingga tekanan meningkat. Obesitas juga sering dikaitkan dengan kolesterol tinggi dan diabetes.
  • Kurang aktivitas fisik – Duduk terlalu lama dan minim gerak membuat pembuluh darah menjadi kurang fleksibel. WHO merekomendasikan minimal 150 menit aktivitas fisik per minggu.
  • Stres dan kurang tidur – Hormon stres menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan denyut jantung.
  • Kebiasaan merokok dan alkohol – Nikotin merusak pembuluh darah, sedangkan alkohol berlebihan memberi efek serupa.
  • Faktor usia dan genetik – Risiko bertambah seiring usia dan adanya riwayat keluarga.

Gejala hipertensi sering tidak terdeteksi. Namun, bila tekanan mencapai 180/120 mmHg atau lebih, beberapa gejala dapat muncul, termasuk:

  • Sakit kepala parah
  • Nyeri dada
  • Pusing
  • Kesulitan bernapas
  • Mual dan muntah
  • Penglihatan kabur atau perubahan penglihatan
  • Kecemasan dan kebingungan
  • Berdengung di telinga
  • Mimisan
  • Irama jantung abnormal

Jika tekanan darah mencapai 180/120 mmHg atau lebih dan disertai gejala seperti nyeri dada atau sesak napas, kondisi tersebut merupakan darurat medis. Penanganan segera diperlukan.

Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung. Tekanan tinggi membuat arteri menjadi kaku dan menyempit, mengurangi aliran darah dan oksigen ke jantung. Akibatnya, risiko serangan jantung, gagal jantung, dan gangguan irama jantung meningkat. Selain itu, pembuluh darah yang memasok darah ke otak dapat tersumbat atau pecah, meningkatkan risiko stroke. Gagal ginjal juga menjadi risiko serius.

WHO menyarankan perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah:

  • Perbanyak sayuran dan buah-buahan.
  • Kurangi waktu duduk.
  • Aktifkan tubuh: berjalan kaki, berlari, berenang, menari, atau latihan kekuatan.
  • Lakukan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75 menit intensitas tinggi.
  • Latihan penguatan otot dua hari atau lebih per minggu.
  • Turunkan berat badan jika kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Kelola stres.
  • Kurangi paparan udara tercemar.
  • Minum obat sesuai resep.
  • Periksa tekanan darah secara teratur.

Selain itu, hindari kebiasaan yang memicu peningkatan tekanan darah:

  • Makan terlalu banyak garam (≤ 2 gram per hari).
  • Minum makanan tinggi lemak jenuh atau trans.
  • Merokok.
  • Minum alkohol berlebihan (maksimal 1 gelas per hari untuk wanita, 2 gelas untuk pria).
  • Lupa minum obat.

Pengobatan hipertensi biasanya dimulai dengan perubahan gaya hidup. Jika belum cukup menurunkan tekanan darah, dokter akan meresepkan obat. Obat-obatan umum meliputi:

  • ACE inhibitor (enalapril, lisinopril) – merelaksasi pembuluh darah dan melindungi ginjal.
  • ARB (losartan, telmisartan) – efek serupa dengan ACE inhibitor.
  • Calcium channel blocker (amlodipine) – merelaksasi pembuluh darah.
  • Diuretik (hydrochlorothiazide, klortalidon) – mengeluarkan kelebihan air.

Setiap pasien memerlukan penyesuaian obat berdasarkan usia, riwayat penyakit, dan risiko komplikasi. Oleh karena itu, jenis obat yang diberikan dapat berbeda-beda.

Hipertensi sering dianggap sepele, namun konsekuensinya serius. Gaya hidup modern, pola makan tinggi garam, kurang olahraga, dan stres dapat memicu tekanan darah naik tanpa disadari. Mulailah rutin memeriksa tekanan darah, perbaiki pola makan, cukup tidur, aktif bergerak, dan kelola stres. Langkah kecil ini dapat menurunkan risiko hipertensi dan mencegah komplikasi berbahaya seperti stroke dan penyakit jantung.

Dengan memahami penyebab, gejala, dan cara menurunkan tekanan darah, masyarakat dapat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan jantung dan sistem peredaran darah. Kesehatan jantung bukan hanya tentang usia atau pekerjaan, tapi juga tentang kebiasaan sehari-hari yang sederhana namun berpengaruh besar.

hipertensitekanan darah tinggiWHOpola makan tinggi garamobesitasaktivitas fisikgejala hipertensiobat antihipertensi

Komentar

Memuat komentar...