Huang Yiliang: Dari Panggung Televisi ke Gerai Seafood
Gambar atau konten salah?
Huang Yiliang adalah mantan aktor terkenal asal Singapura yang kini menempuh kehidupan baru sebagai penjual seafood kaki lima. Usianya sudah 64 tahun, ia memulai hari dengan menyiangi ikan di pasar basah.
Setiap pagi, ia bangun tepat pukul 07.00 di MacPherson Market and Food Centre. Di sana, ia membersihkan dan menyiangi ikan di lapak pasar basah miliknya. Setelah selesai, ia berjalan kaki sekitar 400 meter menuju Circuit Road Hawker Centre.
Di gerai Old Fisherman, ia membuka pintu sekitar pukul 11.00. Dapur kecilnya menjadi tempat ia menyiapkan berbagai hidangan seafood. Ia memasak hingga pukul 14.00 untuk pelanggan siang, lalu beristirahat sebentar sebelum kembali berjualan hingga 20.00 malam. Rutinitas ini ia jalani enam hari dalam seminggu.
Di masa lalu, Huang pernah bergabung dengan stasiun televisi nasional Singapura pada tahun 1985. Ia meraih penghargaan Aktor Pendukung Terbaik sebanyak tiga kali pada tahun 2002, 2003, dan 2006. Setelah 23 tahun berkarier, ia memutuskan untuk keluar dari dunia hiburan pada tahun 2008 dan mencoba bisnis lain, termasuk usaha plumbing dan produksi film.
Namun perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Beberapa tahun terakhir, ia sempat terjerat masalah hukum dan harus menjalani hukuman penjara. Pengalaman tersebut menjadi titik balik bagi ia.
“Saya sempat berhenti sejenak dari semuanya dan berpikir, apa yang benar-benar ingin saya lakukan,” ujarnya. “Saya ingin melakukan sesuatu yang saya sukai. Saya orang yang aktif, tidak bisa diam,” lanjut Huang.
Awalnya, ia berencana mengimpor dan mendistribusikan kepiting. Ia bahkan menjual kepiting seharga sekitar Rp 480 ribuan. Namun karena kendala pemasok, ia mulai menjual ikan sekaligus belajar mengolahnya sendiri.
Di Februari 2026, ia membuka gerai Old Fisherman dengan modal sekitar Rp 240 juta. Menu andalannya adalah bihun kepiting, serta aneka olahan seafood seperti kepiting saus lada hitam, saus cabai, hingga salted egg.
Meskipun masih belajar memasak secara otodidak, Huang mengaku telah mempelajari resep dari lebih dari 20 koki. “Saya datang ke dapur mereka, bahkan ke rumahnya, untuk belajar. Dari situ saya meracik resep saya sendiri,” katanya.
Menjalankan usaha ini tentu tidak mudah. Ia sempat kewalahan di hari-hari pertama, bahkan harus menolak pelanggan karena antrean panjang. Panasnya dapur juga menjadi tantangan tersendiri. “Di minggu pertama, saya sampai makan lima mangkuk es serut setiap hari,” ujarnya sambil tertawa.
Kini, ia perlahan mulai beradaptasi dan bahkan dibantu oleh asisten paruh waktu. Meski begitu, Huang tetap turun tangan langsung, termasuk mencuci piring sendiri demi menekan biaya.
“Saya tidak peduli bagaimana orang melihat saya. Saya bisa menurunkan ego saya,” katanya. “Saya ini orang biasa. Tidak bisa lebih biasa lagi,” tutupnya.
Huang Yiliang menunjukkan bahwa transisi karier tidak harus menimbulkan rasa malu. Ia menemukan kebahagiaan dalam pekerjaan sederhana, tetap menghargai setiap pelanggan, dan terus belajar. Perjalanan hidupnya mengingatkan bahwa setiap perubahan, walau menantang, dapat membuka peluang baru bagi siapa pun yang bersedia mengambil langkah pertama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Londo Kampung Nikmati Pasar Blauran Baru dengan Rp 50.000
Buket Brokoli Prewedding Viral, Hemat dan Ramah Lingkungan
Ghibli's Table: Resep Ramen & Minuman Spesial Ponyo
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
One Satrio Jadi Destinasi Kuliner Jakarta Selatan Penuh
Berita Terbaru
Busan: Tujuh Tempat Wisata Wajib bagi Para Turis 2026
UTM Dapat Izin Buka Dua Program Kedokteran, Mulai 2026/2027
PT PP & Kemen Pekerjaan Umum Selesaikan 69 SPPG dalam 37 Hari
Gubernur Bengkulu Minta BPKAD Cepat Pencairan Gaji ke-13 ASN
USU Buka Proses Banding UKT, Mahasiswa Bisa Perbaiki Tarif
PLN Junivaganza: Voucher Rp10.000 untuk Token Listrik
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
