Ibadat Jumat Agung di Semarang: Umat Mencium Kaki Yesus
Gambar atau konten salah?
Ibadat Jumat Agung di Katedral Semarang berlangsung khidmat. Tahun ini, umat kembali menjalani tradisi penghormatan salib dengan mencium kaki Yesus yang ditiadakan sejak pandemi Covid‑19.
Di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Kecamatan Semarang Selatan, umat berkumpul pada pukul 15.00 WIB untuk mengikuti ibadat Jumat Agung. Ibadat dipimpin oleh Romo Kevikepan Semarang dan Romo Rudy.
Alfonsus Pradipta, Ketua Komsos Katedral Semarang, menjelaskan rangkaian perayaan. Ia mengingatkan bahwa perayaan dimulai dengan jalan salib dan visualisasi pada pagi hari. “Untuk rangkaian Jumat Agung, kita mulai dengan jalan salib dan visualisasi tadi pagi pukul 08.00 WIB. Visualisasi itu dilakukan oleh teman-teman OMK (Orang Muda Katolik), untuk menggambarkan jalan salib Yesus,” ujar ia.
Ia menambahkan bahwa ibadat Jumat Agung digelar dalam dua sesi, pukul 15.00 WIB dan 18.00 WIB. “Kalau untuk ibadat Jumat Agung kita tidak misa. Karena Yesus sudah wafat, jadi tidak ada doa syukur agung atau konsekrasi. Komuni tetap dibagikan, tapi menggunakan hosti yang sudah diberkati pada Kamis Putih,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan makna rangkaian Trihari Suci, termasuk tradisi pembasuhan kaki pada Kamis Putih yang digelar pada 02 April 2026, yang menjadi simbol kerendahan hati Yesus. “Pembasuhan kaki itu mencontohkan bahwa Yesus saja mau membasuh kaki murid-murid-Nya. Yesus mencontohkan, ‘Aku Tuhanmu saja mau membasuh kakimu’. Artinya kita juga diajak untuk melayani sesama,” tambahnya.
Pada Jumat Agung hari ini, prosesi penghormatan salib menjadi momen reflektif bagi umat. Tradisi sempat berubah selama pandemi. “Dulu sebelum pandemi, umat mencium kaki Yesus yang disalib. Lalu saat pandemi sejak 2019 hanya menunduk. Nah, tahun ini pertama kali mulai kembali dengan mencium salib,” ungkapnya.
Prosesi dilakukan secara bergantian. Umat maju satu per satu untuk mencium kaki salib. Namun bagi yang tidak berkenan, tetap diperbolehkan menunduk. “Kalau tidak mencium, bisa tetap menunduk. Itu pilihan masing-masing umat,” tambahnya.
Ia memaknai Jumat Agung hari ini sebagai momentum penting untuk refleksi diri atas pengorbanan Yesus Kristus. “Dengan wafat Yesus, kita diajak melihat kembali kehidupan kita. Apa yang perlu diperbaiki, apa yang masih kurang, supaya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Keberlangsungan ibadat ini menegaskan kembali nilai tradisi dan refleksi dalam Trihari Suci, mengingatkan umat tentang pengorbanan dan panggilan pelayanan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Berita Terbaru
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Raphinha: Brasil kuat menyerang, butuh pertahanan Piala Dunia
SPMB 2026 Jambi: Mulai 8 Juni, Jalur Afirmasi & Mutasi
Mandian Air Hangat vs Air Dingin: Manfaat bagi Tubuh
Kebakaran Rumah di Musim Kemarau, Asuransi Zurich Lindungi
Trans7 Mengajar Cipasung: Pelatihan Konten Digital Mahasiswa
Cucurella Siap Transfer ke Barcelona, Chelsea Tuntut
