Ibu‑ibu Bandung Demo SPMB, Tuntut Proses Lebih Jelas
Gambar atau konten salah?
Beberapa ibu-ibu di Kota Bandung turun ke jalan pada 11 Juni 2026 untuk mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat 2026. Mereka menilai proses ini sangat merepotkan dan membingungkan orang tua.
Aksi dimulai di depan Gedung DPRD Jawa Barat di Jalan Diponegoro. Para demonstran membawa poster yang menuliskan tuntutan dan kritik terkait kerumitan SPMB tahun ini. Mereka mengeluhkan sistem pendaftaran yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, serta skema SPMB Sekolah Maung yang menambah kebingungan.
Orang tua, khususnya ibu-ibu, menyatakan bahwa mereka tidak memahami narasi Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) yang dianggap tidak transparan. Salah satu peserta, Neni Suhaeni, mengungkapkan bahwa perannya adalah memperjuangkan hak anak-anak mereka, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, agar tetap bisa bersekolah di sekolah negeri.
“Ini kan kita lagi memperjuangkan hak anak orang miskin, anak-anak yang mau sekolah masuk SMA negeri,” ujar Neni saat diwawancarai di sela‑sela aksi. Ia menambahkan bahwa dalam pelaksanaan PCMB, banyak anak yang seharusnya dapat masuk ke sekolah negeri baik SMA maupun SMK, namun sistem secara otomatis mengarahkan mereka ke sekolah swasta.
“Tapi dari sistem itu malah dimasukkan ke SMK swasta, tanpa ada pilihan satupun. Padahal dia mau masuk ke SMA, SMK negeri satu, pilihan dianya itu,” jelas Neni. Ia menekankan bahwa keputusan sistem tidak memberi ruang bagi pilihan yang diinginkan.
Selama demonstrasi, Neni melakukan aksi teatrikal dengan memasak di depan Gedung DPRD. Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk protes karena SPMB Jabar telah menyita waktu orang tua, sehingga mereka harus meninggalkan kewajiban di rumah.
“Kita mah ibu‑ibu ya, jangan sampai gitu lah direpotin untuk seperti ini lah harus demo‑demo kayak gitu. Kita inginnya kita memasak untuk anak‑anak di rumah, untuk suami, terus anak‑anak belajar di sekolah,” kata Neni. Ia menutup pernyataannya dengan, “Ya salah satu bentuk protes, karena apa, kita harusnya memasak di rumah, waktu kita dibawa ke sini, begitu.”
Demonstrasi ini menyoroti ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan SPMB yang dianggap tidak adil dan tidak transparan. Para ibu menuntut agar proses pendaftaran menjadi lebih jelas, memberikan pilihan yang sesuai bagi setiap calon murid, dan memperhatikan kebutuhan keluarga berpenghasilan rendah.
Peristiwa ini mencerminkan kebutuhan akan dialog terbuka antara pihak pendidikan dan masyarakat agar kebijakan penerimaan murid baru dapat berjalan lebih efektif dan adil bagi semua pihak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kendala Situs SPMB 2026 Orang Tua Kesulitan Akses Hasil
Banjir di Jakarta, Ribuan Penduduk Pindah ke Kawasan Tinggi
PKB Jabar Fest 14 Juni: DPAC Jawa Barat Di Arcamanik Youth
Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia Setelah IPO SpaceX
Satria Muda Kalah 79-82 vs Bogor Hornbills Semifinal IBL
Layang-Layang Menghambat Kereta Cepat Whoosh, KCIC Amankan 452
Berita Terbaru
Perekonomian Inggris Mengalami Kontraksi 0,1% di April
U‑19 Indonesia vs Kamboja, Juara Ketiga Piala AFF 2026
Puasa Tasu'a & Asyura 2026: Rabu 24 Juni dan Kamis 25 Juni
Indonesia Tertunduk, China Raih Final Australian Open 2026
Prabowo Bentuk Menko Infrastruktur untuk Keadilan Sosial
Timnas U-19 Indonesia Hadapi Kamboja 13 Juni, Posisi Ketiga
