Idul Adha 2026: Tanggal, Persiapan, Makna Tradisi Penting

Mira T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Idul Adha 2026: Tanggal, Persiapan, Makna Tradisi Penting

Gambar atau konten salah?

Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Lebaran Haji, akan segera dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Istilah Lebaran Haji muncul karena perayaan ini bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci.

Menurut laman Kementerian Agama Bali, asal‑usul nama Lebaran Haji berkaitan dengan momen pelaksanaan wukuf di Arafah. Sehari sebelum Idul Adha, jemaah haji menunaikan wukuf sebagai rukun puncak perjalanan haji. Wukuf sendiri berarti berhenti atau berdiam diri di Arafah dalam keadaan ihram, biasanya dari terbenam matahari pada Dzulhijjah hingga fajar hari berikutnya, yakni 10 Dzulhijjah.

Selama wukuf, jemaah haji berdoa, berdzikir, dan memperbanyak sholawat. Di waktu yang sama, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan puasa sunnah Arafah. Pada hari berikutnya, jemaah haji melanjutkan rangkaian ibadah seperti lempar jumrah, sementara umat yang tidak berhaji menunaikan penyembelihan hewan kurban.

Sejarah Idul Adha bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini tercatat dalam Al‑Qur’an, khususnya surah As‑Saffat ayat 100‑111. Nabi Ibrahim menghadapi ujian besar ketika ia bermimpi menyembelih putranya. Karena mimpi para nabi dianggap wahyu, ia meyakini bahwa itu adalah perintah Allah. Dalam Al‑Qur’an, surah As‑Saffat ayat 102 menyatakan:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: “Ketika ia mencapai usia yang mampu bekerja bersamanya, ia berkata: ‘Wahai anakku, aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatku termasuk orang-orang sabar.’”

Ketika Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah itu, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai bentuk penghargaan atas ketaatan dan keikhlasan keduanya. Peristiwa ini menjadi dasar makna Idul Adha: pengorbanan dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah.

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menegaskan bahwa Idul Adha mengajarkan pentingnya pengorbanan dan keikhlasan. Umat Islam diajarkan untuk selalu berkorban, baik dalam bentuk harta, waktu, maupun tenaga, demi menjaga kepatuhan dan keikhlasan dalam ibadah.

Menurut kalender Hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama Republik Indonesia, Idul Adha 2026 diperkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Penetapan resmi masih menunggu hasil sidang isbat penentuan awal Zulhijjah 1447 H. Muhammadiyah telah menetapkan tanggal yang sama, tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Dengan kesamaan tersebut, diprediksi Idul Adha 2026 akan dirayakan secara serentak di Indonesia.

Jika dihitung mundur dari Rabu, 22 April, masih tersisa 34 hari menuju Idul Adha 2026. Waktu ini masih cukup bagi umat untuk menyiapkan segala keperluan, seperti hewan kurban dan persiapan lainnya.

Artikel ini ditulis oleh Bagus Rahmat Nugroho, peserta Program Magang Hub Bersertifikat dari Kemnaker. Di akhir tulisan, terdapat ajakan untuk menonton video “Video: Boleh Kurban Dulu Padahal Belum Akikah?” yang menampilkan gambaran singkat tentang praktik kurban.

Dengan memahami asal‑usul nama Lebaran Haji dan makna Idul Adha, umat dapat lebih menghargai nilai pengorbanan dan keikhlasan yang menjadi inti perayaan ini. Menyambut hari raya, persiapan fisik dan spiritual bersama keluarga menjadi bagian penting dalam meneguhkan iman dan solidaritas sosial.

Idul AdhaLebaran HajiWukufKurbanNabi IbrahimNabi IsmailPengorbanan

Komentar

Memuat komentar...