Idul Fitri Ponorogo: Tradisi Sungkeman dan THR Keluarga

Wahyu T. · 1 min baca · 2 bulan lalu · 57 dibaca
Bisik.id
Idul Fitri Ponorogo: Tradisi Sungkeman dan THR Keluarga

Gambar atau konten salah?

Idul Fitri 2026 menyelimuti Ponorogo, Jawa Timur. Suasana hangat dan penuh haru tercipta ketika keluarga besar almarhum Mbah Supeno berkumpul di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak pada Jumat (20 Maret 2026).

Tradisi sungkeman, yakni saling memaafkan, dilaksanakan setelah melaksanakan salat Idul Fitri. Anggota keluarga yang merantau pulang ke kampung halaman. Saat berpelukan, banyak yang menangis. Momen ini menunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada orang tua dan saudara.

Setelah prosesi sungkeman, suasana berubah menjadi ceria. Anak‑anak menunggu giliran menerima tunjangan hari raya (THR). Sekitar 40 anak terlihat antusias. Beberapa dari mereka mendapat THR hingga Rp 1 juta.

Rafasa Zidane Raharjo, salah satu anak, mengatakan senang mengikuti tradisi. Ia berencana menggunakan uang THR untuk membeli sepatu.

Setyo Budiyono, sesepuh keluarga, menjelaskan bahwa tradisi berbagi THR, atau dalam bahasa Jawa disebut sangu, telah dilakukan turun‑temurun. Ia menekankan makna mendalam: mempererat hubungan kekeluargaan, menciptakan rasa memiliki dan persatuan.

Tradisi sungkeman dan berbagi THR bukan hanya ritual; ia juga menjadi wujud rasa syukur atas rezeki. Lebaran menjadi ajang berkumpul dan memperkuat nilai kebersamaan dalam keluarga.

Ringkasan: Di Ponorogo, keluarga almarhum Mbah Supeno merayakan Idul Fitri dengan sungkeman dan berbagi THR. Tradisi ini mempererat hubungan keluarga, menumbuhkan rasa hormat, dan mengekspresikan syukur atas rezeki. Anak-anak menantikan THR, sementara sesepuh menegaskan makna kesatuan dalam keluarga.

Idul Fitritradisi sungkemanTHRkeluarga besarPulau JawakebersamaanLebaran

Komentar

Memuat komentar...