IHSG Anjlok 1,11% ke 6.313, 513 Saham Melemah
Gambar atau konten salah?
Pada sesi perdagangan pertama hari Selasa, 22 September, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan. Indeks saham utama Indonesia ini berada di kisaran level 6.300-an setelah ditutup melemah pada paruh pertama perdagangan siang hari.
Data dari RTI Business menunjukkan bahwa IHSG turun sebesar 1,11% ke posisi 6.313,56 pada penutupan sesi I. Padahal, pada awal pembukaan pagi tadi, indeks sempat menyentuh level tertingginya di angka 6.423,83. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama dan indeks berbalik arah melemah.
Volume perdagangan tercatat mencapai 20,63 miliar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 7,98 triliun. Frekuensi perdagangan saham sepanjang paruh pertama hari ini mencapai 1.358.244 kali. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 147 saham berhasil menguat, sementara 513 saham justru melemah, dan 128 saham lainnya stagnan.
Indeks LQ45, yang berisi 45 saham paling likuid, juga ikut tertekan dengan melemah 0,73% pada sesi I hari ini. Saham-saham bank milik negara kompak berada di zona merah. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah tipis 0,24% ke level Rp 4.190 per saham. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun lebih dalam, yaitu 1,38% ke level Rp 3.570 per saham. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 1,82% ke level Rp 3.240 per saham.
Pelemahan IHSG pada sesi pertama ini menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan di pasar. Jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat, dengan rasio hampir 3,5 banding 1. Ini mengindikasikan sentimen negatif melanda sebagian besar sektor, tidak hanya perbankan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI: Standalone Market Bukan Kategori Terendah MSCI
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade
BEI Kaget MSCI Umumkan Potensi Status Baru Lebih Cepat dari Jadwal
IHSG Melemah, Investor Asing Jual Rp 2,92 Triliun
Menkeu: Riset Jerman Buktikan MSCI Tak Selalu Benar
Airlangga Kaget MSCI Umumkan Lebih Cepat soal Status Pasar Modal RI
