IHSG Turun 0,82% ke 6.318,50, Saham Energi Jatuh 4,67%

Surya B. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
IHSG Turun 0,82% ke 6.318,50, Saham Energi Jatuh 4,67%

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,82 % menjadi 6.318,50 pada hari Rabu, 20 Mei 2023. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan pada mayoritas sektor, terutama industri dasar yang turun paling dalam sebesar 4,67 %. Sektor keuangan justru menjadi penopang pasar, naik 1,21 %. Saham Mora Telematika Indonesia (MORA) menjadi yang paling kuat, melonjak 19,75 %, diikuti Sinarmas Multiartha (SMMA) naik 8,49 % dan Bank Mandiri (BMRI) menguat 2,42 %.

Di sisi lain, saham-saham grup petrokimia dan energi menjadi pemberat utama IHSG. Chandra Asri Pacific (TPIA) turun 14,74 %, Barito Pacific (BRPT) melemah 10,18 % dan Barito Renewables Energy (BREN) terkoreksi 7,62 %. Investor asing mencatat jual bersih sebesar Rp130,88 miliar di pasar reguler, namun secara keseluruhan masih mencatat beli bersih sebesar Rp249,17 miliar.

Sentimen pasar juga dipengaruhi rencana pemerintah membentuk BUMN ekspor untuk sentralisasi ekspor CPO dan batu bara. Kebijakan tersebut dinilai memberi tekanan pada saham berbasis komoditas. Pelaku pasar menunggu rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed serta data neraca berjalan Indonesia kuartal I 2026 yang diproyeksikan mencatat defisit US$4,50 miliar.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat menutup menguat. Dow Jones naik 1,31 % ke level 50.009, S&P 500 bertambah 1,08 % menjadi 7.432, dan Nasdaq menguat 1,55 % ke posisi 26.270.

Indika Energy Tbk. (INDY)
INDY melaporkan laba bersih sebesar US$13,59 juta pada kuartal I 2026, meningkat 33,88 % dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$10,15 juta. Pendapatan INDY naik tipis menjadi US$493,21 juta dari US$489,59 juta. Perseroan juga mencatat kenaikan pendapatan investasi sebesar 73,51 % menjadi US$5,47 juta, didorong peningkatan investasi pada Nanshan Aluminium International Holdings Ltd yang mencapai US$20,04 juta. Total beban perusahaan turun 1,57 % menjadi US$419,18 juta. Penurunan beban pokok dipengaruhi kenaikan persediaan batu bara selama kuartal berjalan, yang turut menekan biaya pokok penjualan secara tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan produksi batu bara lebih tinggi dibanding volume penjualan pada periode tersebut.

Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA)
CSRA membidik volume pengolahan tandan buah segar (TBS) sebanyak 700 ribu ton tahun ini, naik dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 500 ribu ton. Hingga kuartal I 2026, produksi TBS perseroan telah mencapai 18 % dari target tahunan. Untuk mendukung ekspansi, CSRA menganggarkan belanja modal Rp100 miliar yang akan digunakan untuk program replanting dan penambahan landbank. Perseroan juga menargetkan pendapatan tahun ini tumbuh menjadi Rp2 triliun dari sebelumnya Rp1,89 triliun.

Bangun Kosambi Sukses (CBDK)
CBDK menyiapkan dana maksimal Rp250 miliar untuk pelaksanaan pembelian kembali saham menggunakan kas internal. Posisi kas perseroan pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp2,75 triliun. Perseroan menyebut aksi buyback akan dilakukan dalam periode 20 Mei hingga 19 Agustus 2026 melalui Ina Sekuritas Indonesia. Jumlah saham yang dibeli kembali tetap mengacu pada ketentuan POJK terkait saham treasuri.

Rekomendasi Saham Hari Ini

  • PTBABuy 2 770–2 820 | TP 2 850–2 900 | SL 2 650
  • ASIIBuy 5 900–5 950 | TP 6 050–6 100 | SL 5 700
  • MYORBuy 1 845–1 865 | TP 1 890–1 920 | SL 1 750
  • OASABuy 416–424 | TP 432–442 | SL 394
  • KETRBuy 600–615 | TP 625–645 | SL 565

Disclaimer
Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

Pasar saham menunjukkan fluktuasi yang dipengaruhi oleh dinamika sektor komoditas, kebijakan pemerintah, dan perkembangan ekonomi global. Pergerakan indeks dan saham perusahaan utama mencerminkan ketidakpastian dan peluang yang harus dipertimbangkan oleh para pelaku pasar.

IHSGindustri dasarMORAFOMCbatu baraTBSbuyback

Komentar

Memuat komentar...