IHSG Turun 2,41%, Berhasil Menembus 7.200,86, Risiko Tinggi

Bayu K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
IHSG Turun 2,41%, Berhasil Menembus 7.200,86, Risiko Tinggi

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah selama perdagangan sepekan terakhir. Pada hari ini, indeks bergerak di zona merah sejak pembukaan. Data RTI Business menunjukkan IHSG turun 2,41% menjadi 7.200,86 pada pukul 10.35 WIB. Penurunan ini mencerminkan ketidakpastian di pasar domestik.

Sementara itu, indeks sempat menembus level lebih rendah, mencapai 7.193,42. Jika dilihat sepanjang minggu, IHSG telah melemah 5,82%. Selama periode tersebut, net foreign sell mencapai Rp 1,88 triliun, menandakan penarikan dana asing yang signifikan.

Posisi pergerakannya masih berada di fase downtrend-nya dan berpeluang menutup gap-gap yang terjadi beberapa waktu lalu. Di sisi lain, kemarin nilai tukar rupiah terhadap USD sudah menyentuh Rp 17.300, ungkap Herditya, Jumat 24 April 2026. Ia menekankan bahwa nilai tukar menambah tekanan pada pasar saham.

Dari dalam negeri masih terdapat risiko fiskal yg mengakibatkan re-rating untuk outlook Indonesia, diperkirakan hal ini menyebabkan outflow, imbuhnya. Ia menambahkan bahwa perubahan kebijakan fiskal dapat memicu penurunan kepercayaan investor.

Sentimen risk off masih dominan karena dipicu ketidakpastian arah suku bunga global, penguatan dolar, serta tensi geopolitik yang membuat memicu outflow asing di IHSG, jelasnya. Ia menilai bahwa ketidakpastian suku bunga global masih menjadi faktor utama.

Pasar juga masih dalam fase penyesuaian terhadap kebijakan baru seperti isu penambahan free float dan HSC yang membuat sebagian saham kehilangan daya tarik dalam jangka menengah. Ini tercermin dari net sell asing yang konsisten, yang menandakan bahwa tekanan bukan sekadar teknikal, tapi ada rebalancing portofolio, pungkasnya. Ia menekankan perlunya waktu bagi investor untuk menyesuaikan strategi.

Konflik di Timur Tengah tetap menjadi sentimen negatif. Gencatan senjata antara Amerika SerikatIran dan IsraelLebanon masih berlangsung, menambah ketidakpastian di pasar global.

Net foreign sell sebesar Rp 1,88 triliun menunjukkan penarikan dana asing. Penarikan ini dipicu oleh kombinasi nilai tukar, risiko fiskal, dan kebijakan BEI. Investor asing cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih stabil.

Perubahan kebijakan BEI, termasuk penambahan free float dan HSC, mengurangi daya tarik saham tertentu. Investor menyesuaikan portofolio, sehingga tekanan tidak hanya teknikal. Kebijakan ini juga memaksa perusahaan untuk menyesuaikan struktur kepemilikan.

Secara keseluruhan, IHSG menghadapi tekanan dari faktor domestik dan internasional. Nilai tukar, kebijakan fiskal, dan geopolitik berkontribusi pada penurunan indeks. Investor kini menunggu sinyal kebijakan dan stabilitas ekonomi untuk menilai arah pasar.

IHSGpenurunannet foreign sellnilai tukar rupiahkebijakan fiskalgeopolitikfree floatHSC

Komentar

Memuat komentar...