IHSG Turun 2,86% di Zona Merah, Industri Dasar Menderita

Endah K. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
IHSG Turun 2,86% di Zona Merah, Industri Dasar Menderita

Gambar atau konten salah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan pada 8 Mei 2023 di zona merah, turun 2,86% menjadi 6.969,40. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan di sebagian besar sektor, khususnya basic industry yang mengalami penurunan paling tajam, sebesar 7,80%. Sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang naik, mencapai 0,70%.

Beberapa saham menjadi penentu pergerakan indeks. Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) melesat 20%, Telkom Indonesia Tbk (TLKM) naik 1,02%, dan Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menguat 12,36%. Sebaliknya, Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 11,83%, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melemah 14,94%, dan Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi 9,27%, menjadi penekan utama IHSG.

Investor asing mencatat jual bersih sebesar Rp485,02 miliar di pasar reguler. Namun, secara keseluruhan, posisi asing tetap positif dengan beli bersih Rp11,42 triliun di seluruh pasar.

Indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia juga turun, masing-masing 1,46% dan 2,59%, menambah tekanan pada pasar.

Pasar memantau rencana pemerintah untuk merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 terkait tarif royalti mineral. Kementerian ESDM sedang menggelar public hearing untuk membahas penyesuaian royalti komoditas seperti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak seiring kenaikan Harga Mineral Acuan (HMA) sepanjang 2026.

Harga acuan perak naik lebih dari dua kali lipat menjadi US$79,27 per troy ons. Sementara itu, harga timah naik menjadi US$51.101 per ton, emas menjadi US$4.746 per troy ons, tembaga ke level US$12.655 per dmt, dan nikel mencapai US$16.822 per dmt.

Dalam usulan tersebut, tarif royalti tembaga diusulkan naik menjadi 7%-10%, emas menjadi 14%-20%, dan perak menjadi 6%-8%. Untuk timah, tarif diusulkan naik menjadi 5%-12,5% dengan tambahan lapisan tarif baru. Pemerintah juga mengusulkan penyesuaian skema royalti nikel serta tambahan pungutan baru untuk beberapa komoditas turunan mineral. Kebijakan ini dapat memengaruhi margin emiten tambang mineral apabila resmi diterapkan.

Berita emiten: BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) setelah kepemilikan terkonsentrasi tercatat mencapai 95,82% dari total saham perusahaan. WBSA merupakan emiten pertama yang melantai di bursa tahun ini dengan melepas 1,8 miliar saham di harga Rp168 per saham dan free float sebesar 20,75%. Perseroan kini menjadi emiten ke-10 yang masuk kategori HSC bersama sejumlah saham lain seperti BREN, DSSA, dan MGLV. Kondisi tersebut membuat pergerakan saham WBSA menjadi sorotan pasar.

Berita emiten: Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) resmi memiliki pengendali baru. Pacific Universal Investments, afiliasi CVC Capital Partners, mengambil alih 51% saham MAPI dari Satya Mulia Gema Gemilang senilai Rp11,81 triliun atau setara Rp1.395 per saham. Transaksi atas 8,46 miliar saham tersebut telah diselesaikan pada 8 Mei 2023. Setelah transaksi rampung, Pacific Universal akan melaksanakan penawaran tender wajib melalui Samudra Investment dan Ocean Continuum dengan harga Rp1.550 per saham. MAPI sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia yang mengelola lebih dari 150 merek global dan memiliki lebih dari 4.000 gerai di lebih dari 80 kota. Penguatan saham MAPI turut menjadi perhatian pasar setelah aksi korporasi tersebut diumumkan.

Rekomendasi Saham Hari Ini:

MAPA - Buy 650-665 | TP 680-695 | SL 620

MAPI - Buy 1435-1455 | TP 1480-1500 | SL 1350

KLBF - Buy 905-920 | TP 935-950 | SL 865

CHEK - Buy 148-151 | TP 153-156 | SL 140

PRDA - Buy 2500-2530 | TP 2570-2600 | SL 2390

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.

Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia pada 8 Mei 2023 menunjukkan tekanan di sebagian besar sektor, dengan indeks turun hampir tiga persen. Sementara itu, sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang naik, menandakan ketidaksetaraan performa antar sektor. Penurunan saham di sektor energi dan pertambangan menambah beban bagi indeks, sementara beberapa saham teknologi dan telekomunikasi masih menunjukkan potensi kenaikan. Rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif royalti mineral menambah ketidakpastian bagi perusahaan tambang, karena perubahan tarif dapat memengaruhi margin keuntungan. Di sisi lain, aksi korporasi di BSA Logistics dan Mitra Adiperkasa menambah dinamika pasar, memberikan peluang bagi investor yang tertarik pada perubahan struktur kepemilikan dan strategi ekspansi. Dengan demikian, investor diharapkan tetap waspada terhadap pergerakan sektor, kebijakan pemerintah, dan aksi korporasi yang dapat memengaruhi nilai saham.

IHSGRoyalti MineralHarga Mineral AcuanMitra AdiperkasaBSA LogisticsSektor KesehatanTelkom Indonesia

Komentar

Memuat komentar...