IHSG Turun 4,15% Menembus Support 5.735, Investor Khawatir
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka pada 04 Juni 2026 pukul 10.02 WIB dengan penurunan 247 basis poin atau 4,15 %, mencapai 5.693. Nilai ini menandai kelanjutan tekanan jual yang sudah terlihat pada sesi sebelumnya.
Hari sebelumnya, IHSG menutup di 5.941 setelah terkorreksi turun 4,11 %. Pergerakan ini menegaskan bahwa pasar masih berada di zona merah, memunculkan kekhawatiran di kalangan investor.
Penurunan terbesar diantara saham utama terlihat pada BBCA turun 3,17 %, TPIA 9,9 %, BMRI 2,22 %, BBRI 3,1 %, dan AMMN 9,37 %. Saham-saham ini menjadi pemimpin dalam menurunnya indeks.
"Pelemahan pasar domestik sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang bergerak di zona merah, dipicu meningkatnya ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran," tulis MNCS Retail Research pada 04 Juni 2026.
Nilai tukar Rupiah semakin melemah terhadap dolar AS, menembus level psikologis Rp 18.000. Hal ini menambah ketidakpastian makroekonomi. "Tekanan jual juga masih datang dari investor asing, dengan tercatat net foreign sell sebesar Rp 993,23 miliar pada perdagangan 03 Juni 2026," tambah MNCS Retail Research.
Analisis BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa penurunan ini membawa IHSG menembus area support penting 5.735, level terendah pada gejolak tarif global tahun 2025. "Struktur harga masih menunjukkan pola downtrend dengan pembentukan lower high dan lower low yang berlanjut. Belum terlihat adanya sinyal pembalikan tren yang kuat pada grafik mingguan," jelas BRI Danareksa.
Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi turun ke 5.350–5.400, area support teknikal terdekat dan konsolidasi historis 2020‑2021. "Apabila tekanan jual berlanjut maka indeks saham Garuda ini berpotensi masuk area support psikologis sekaligus area mayor di level 5.000," katakan BRI Danareksa.
Perlu diingat, area support dan resistance di atas merupakan analisa teknikal berdasarkan pergerakan harga historis. "Arah IHSG selanjutnya juga akan sangat ditentukan oleh sentimen pasar, kondisi makroekonomi, arus dana asing, serta katalis domestik dan global yang berkembang saat ini," tegas BRI Danareksa Sekuritas.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia menunjukkan ketidakpastian tinggi, dipengaruhi oleh dinamika global, nilai tukar, dan arus modal asing. Investor harus tetap waspada terhadap perubahan cepat dalam kondisi makroekonomi dan kebijakan perdagangan internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
