Ikan Asin Tertarik Risiko Kanker Nasofaring Tinggi

Endah K. · 2 min baca · 39 menit lalu · 17 dibaca
Bisik.id
Ikan Asin Tertarik Risiko Kanker Nasofaring Tinggi

Gambar atau konten salah?

Ikan asin, atau ikan yang diawetkan dengan garam, sudah lama menjadi hidangan favorit di Indonesia. Namun, beberapa studi baru saja mengangkat kembali perhatian publik terhadap potensi risiko kesehatan yang terkait dengannya, khususnya kanker nasofaring.

Kanker nasofaring menyerang bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang hidung. Penyakit ini cukup sering ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, serta di wilayah China Selatan, Afrika Utara, dan kawasan Arktik. Menurut data Indonesia Cancer Care Community (ICCC), penyebab pasti kanker nasofaring belum diketahui secara pasti. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa pola makan dapat memengaruhi risiko terkena penyakit ini.

Berbagai studi secara konsisten menemukan bahwa orang yang sering mengonsumsi ikan asin memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker nasofaring dibandingkan mereka yang jarang atau tidak mengonsumsinya. Risiko ini juga dilaporkan meningkat seiring semakin sering dan semakin lama seseorang mengonsumsi ikan asin. Temuan menarik lainnya menunjukkan hubungan tersebut lebih kuat jika kebiasaan makan ikan asin sudah dimulai sejak masa kanak‑kanak, terutama sebelum usia 10 tahun. Risiko pada kelompok ini lebih tinggi dibandingkan mereka yang baru mulai mengonsumsi ikan asin saat beranjak dewasa.

ICCC menjelaskan bahwa salah satu mekanisme yang mungkin menjadi penghubung antara ikan asin dan kanker nasofaring adalah terbentuknya senyawa N‑nitroso di dalam tubuh. Senyawa tersebut dapat muncul dari reaksi antara kandungan amina pada ikan dengan nitrat atau nitrit yang terdapat dalam garam selama proses pengawetan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa N‑nitroso termasuk kelompok zat yang bersifat karsinogenik atau berpotensi memicu kanker. Selain ikan asin, beberapa makanan yang diawetkan dengan garam lainnya juga kerap dikaitkan dengan risiko serupa, termasuk berbagai jenis makanan fermentasi dan diawetkan yang umum dikonsumsi di sejumlah negara Asia.

Peneliti juga menduga konsumsi ikan asin dapat berhubungan dengan aktivasi virus Epstein‑Barr (EBV). Virus ini sangat umum ditemukan pada manusia; sebagian besar orang dewasa pernah terpapar virus ini, namun hanya sebagian kecil yang kemudian berkembang menjadi kanker nasofaring. Para peneliti meyakini bahwa munculnya kanker nasofaring kemungkinan dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari paparan virus, faktor lingkungan, pola makan, hingga kerentanan genetik.

ICCC mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah gejala yang dapat muncul pada kanker nasofaring, di antaranya:

  1. Benjolan di leher
  2. Hidung tersumbat yang tidak kunjung membaik
  3. Mimisan berulang
  4. Telinga berdenging
  5. Gangguan pendengaran
  6. Nyeri telinga
  7. Sakit kepala
  8. Kesulitan bernapas
  9. Kesulitan berbicara

Jika gejala-gejala tersebut muncul dan berlangsung terus‑menerus, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Di Indonesia sendiri, kanker nasofaring termasuk salah satu kanker kepala dan leher yang paling sering ditemukan. Angka kejadiannya mencapai sekitar 6,2 kasus per 100.000 penduduk.

Dengan demikian, meskipun ikan asin tetap menjadi bagian penting dari kebudayaan kuliner Indonesia, penting bagi masyarakat untuk memperhatikan pola konsumsi. Mengetahui potensi risiko dan gejala awal dapat membantu deteksi dini, yang pada akhirnya dapat meningkatkan peluang pengobatan dan pemulihan.

Ikan asinKanker nasofaringN‑nitrosoVirus Epstein‑BarrPola makanRisiko kesehatanGejala awal

Komentar

Memuat komentar...