Ikan Sapu‑Sapu Danau Sidenreng Jadi Pakan Bebek Lokal

Surya B. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Ikan Sapu‑Sapu Danau Sidenreng Jadi Pakan Bebek Lokal

Gambar atau konten salah?

Ikan sapu-sapu yang dulu dianggap hama di Danau Sidenreng, Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, kini menjadi bahan baku pakan ternak di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Pada bulan November tahun lalu, Ketua Kelompok Ternak Bebek Muhammad Abu Rizal memulai program pemanfaatan ikan ini. “Tahun lalu bulan November itu dimulai program memanfaatkan ikan sapu-sapu menjadi pakan,” katanya.

Rizal menjelaskan bahwa ide tersebut muncul karena banyaknya ikan sapu-sapu dan eceng gondok di danau tersebut. Ia menambahkan, “Awalnya ikan sapu-sapu dan eceng gondok ini dianggap hama di danau, tidak ada manfaatnya,” tuturnya. Namun, kondisi danau menarik perhatian Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, yang kemudian mengusulkan cara mengolah ikan tersebut menjadi pakan ternak.

Pengolahan masih sederhana. Ikan digiling dengan alat penggiling daging, lalu dicampur dengan bahan lain untuk pakan bebek. Rizal menjelaskan, “Kadang direbus dulu, kadang juga langsung diolah. Kalau dimasak bisa bertahan sampai satu hari. Kalau tidak dimasak, maksimal tiga jam sudah harus dipakai, karena kalau lewat itu sudah tidak bisa dipakai.”

Menurut Rizal, inovasi ini membantu peternak dengan menurunkan biaya pakan. Namun bagi nelayan, ikan sapu-sapu belum memiliki nilai jual di pasar. “Alhamdulillah sangat membantu peternak bebek. Tapi untuk nelayan belum ada manfaatnya karena belum ada harganya,” ujar Rizal. Saat ini, sekitar 30 peternak bebek di wilayah pesisir Danau Sidenreng sudah menggunakan ikan sapu-sapu sebagai pakan.

Pak Bupati menekankan pentingnya mengatasi gangguan ekosistem yang ditimbulkan oleh ikan sapu-sapu. Ia mengatakan, “Pak Bupati itu memang berpikir agar ikan sapu-sapu dan enceng gondok di Danau Sidenreng dapat diatasi karena mengganggu ekosistem di danau.” Untuk itu, program bantuan bebek dan pakan dari ikan sapu-sapu diinisiasi. Rizal menambahkan, “Peluang pengembangan pakan berbahan ikan sapu-sapu sebenarnya cukup besar. Namun keterbatasan modal dan peralatan masih menjadi kendala utama.”

Di sisi lain, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengakui warga masih mengonsumsi ikan sapu-sapu secara terbatas. Ia menegaskan, “Itu ikan sapu-sapu di Danau Sidenreng kontaminasinya tidak ada karena tidak ada industri yang dekat dari danau. Makanya itu biasa tetap konsumsi tetapi secara terbatas karena dagingnya sedikit lebih banyak tulangnya.” Meskipun tidak terkontaminasi, ia tetap menyarankan agar ikan tersebut diolah menjadi pakan ternak karena sifatnya yang predator.

Di DKI Jakarta, pemerintah tetap menggencarkan penangkapan ikan sapu-sapu. Hingga 23 April, sebanyak 10 ton ikan sapu-sapu telah dibasmi di Jakarta. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyatakan, “Hingga saat ini, total akumulasi ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap dari seluruh perairan di DKI Jakarta mencapai 10,189 ton.”

Jumlah tersebut berasal dari tangkapan serentak pada 17 April. Selain itu, Pemkot Jakarta Timur melakukan penangkapan pada 20 April dan Pemkot Jakarta Selatan pada 21 April. Dinas KPKP Jakarta menyusun SOP penanganan ikan sapu-sapu agar tidak mencemari lingkungan. Hasudungan menjelaskan, “Untuk pemusnahan, ikan sapu-sapu harus dipastikan mati dengan cara dibelah atau dipatahkan lehernya kemudian dimasukkan ke dalam karung tertutup rapat untuk dibawa dan dibuang di lokasi yang telah ditentukan.”

Program di Sidrap dan Jakarta menunjukkan dua pendekatan berbeda terhadap ikan sapu-sapu. Di Sidrap, ikan dianggap sebagai sumber pakan ternak dan potensi ekonomi lokal. Di Jakarta, ikan dianggap sebagai hama yang perlu dihilangkan demi menjaga ekosistem perairan. Kedua kebijakan menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, perbedaan strategi ini mencerminkan perbedaan kondisi lingkungan dan kebutuhan ekonomi di masing-masing wilayah. Di Sidrap, pemanfaatan ikan sapu-sapu membantu peternak dan menurunkan biaya pakan, sementara di Jakarta, upaya penghapusan ikan sapu-sapu bertujuan melindungi keseimbangan ekosistem perairan. Keduanya menunjukkan bahwa solusi terhadap masalah hama dapat bervariasi tergantung pada konteks lokal dan potensi ekonomi yang tersedia.

Ikan sapu-sapuDanau SidenrengPakan ternakPeternak bebekEkosistem perairanPenangkapan ikan hamaPengelolaan sumber daya alam

Komentar

Memuat komentar...