Ikan Sapu‑Sapu Naik Pesat di Ciliwung, Pemerintah Tangkap

Dwi H. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Ikan Sapu‑Sapu Naik Pesat di Ciliwung, Pemerintah Tangkap

Gambar atau konten salah?

Di beberapa aliran sungai di Jakarta, ikan sapu‑sapu telah menjadi masalah besar. Fenomena ini muncul karena populasi ikan tersebut melonjak di sungai perkotaan, terutama di aliran Ciliwung. Jumlahnya yang terus bertambah menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem perairan, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan akademisi dan pemerintah.

Ikan sapu‑sapu dikenal sebagai “pembersih kolam” di akuarium. Namun, ketika berada di alam liar, ikan ini dapat menimbulkan dampak serius. Banyak orang tidak menyadari bahwa ikan ini bukan berasal dari Indonesia. Seiring waktu, keberadaannya menjadi ancaman bagi ekosistem sungai, karena sifatnya yang sangat adaptif dan sulit dikendalikan.

Spesies ini bernama ilmiah Pterygoplichthys pardalis dan berasal dari wilayah Sungai Amazon di Amerika Selatan. Di habitat aslinya, ikan ini dianggap biasa dan aman dikonsumsi. Namun, di Indonesia, ikan sapu‑sapu masuk melalui perdagangan ikan hias. Bentuk tubuhnya yang unik, dengan lapisan keras bertutul, membuatnya menarik bagi pemilik akuarium. Ikan ini juga dikenal sebagai “pembersih alami” karena memakan lumut, alga, dan sisa makanan.

Menurut buku Yuk Mengenal Ikan Sapu‑sapu Sungai Ciliwung karya Dewi Elfidasari, ikan ini merupakan spesies introduksi, yaitu spesies yang sengaja didatangkan dari luar wilayah atau negara lain. Minat masyarakat membuat ikan sapu‑sapu semakin banyak didatangkan ke Indonesia. Masalah muncul ketika pemilik ikan tidak lagi mampu merawatnya dan memilih melepaskannya ke sungai tanpa menyadari dampaknya.

Petugas gabungan turun langsung ke aliran kali di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, pada 17 April 2026 untuk menangkap ikan sapu‑sapu sekaligus membersihkan sampah dan sedimen yang mencemari perairan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pengendalian populasi.

Keunggulan adaptasi tinggi menjadi alasan utama ikan sapu‑sapu menjadi masalah. Ikan ini dapat hidup di berbagai kondisi perairan, termasuk lingkungan tercemar dan memiliki kadar oksigen rendah. Dosen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Veryl Hasan, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat ikan sapu‑sapu menjadi dominan di sungai‑sungai yang kualitas airnya buruk.

“Singkatnya, ketika sungai tercemar berat, ikan lain mati, sementara sapu‑sapu tetap bertahan. Itu yang membuat populasinya tampak meledak,” ujar Veryl, dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga. Artinya, ketika ikan lokal tidak mampu bertahan, ikan sapu‑sapu justru berkembang pesat tanpa pesaing yang seimbang. Kondisi ini menjadi awal dari ketidakseimbangan ekosistem.

Masalah lain yang memperparah kondisi adalah tidak adanya predator alami bagi ikan sapu‑sapu di perairan Indonesia. Berbeda dengan habitat aslinya, di Indonesia ikan ini tidak memiliki musuh alami yang signifikan. Akibatnya, populasi terus bertambah tanpa kendali.

“Ketika berada di luar habitat aslinya, sapu‑sapu dapat menggeser keberadaan ikan lokal. Karena sedikit organisme yang memangsa, populasinya tumbuh tanpa hambatan berarti,” jelasnya. Tanpa predator dan dengan kemampuan bertahan yang tinggi, ikan sapu‑sapu dengan cepat mendominasi ekosistem sungai.

Awalnya, ikan sapu‑sapu hanya memakan alga dan lumut. Namun, seiring waktu, perilakunya berubah. Ikan ini menjadi predator oportunis, yang berarti memakan hampir semua sumber daya yang tersedia. Selain mengonsumsi tumbuhan air, ikan sapu‑sapu juga memakan sisa organisme mati, hewan kecil di perairan, bahkan telur ikan lain. Perilaku ini membuat ikan lokal semakin terancam. Mereka tidak hanya kehilangan sumber makanan, tetapi juga kehilangan peluang berkembang biak karena telurnya dimakan.

Dampaknya tidak hanya pada keanekaragaman hayati, tetapi juga pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Sungai yang didominasi satu spesies cenderung menjadi tidak sehat. Fenomena ledakan populasi ikan sapu‑sapu paling sering terjadi di sungai yang tercemar. Hal ini bukan kebetulan. Menurut Veryl Hasan, kondisi sungai yang rusak justru menguntungkan bagi ikan sapu‑sapu. Ketika kualitas air menurun, ikan lokal yang sensitif akan mati atau berpindah. Sebaliknya, ikan sapu‑sapu tetap bertahan.

Di Sungai Ciliwung misalnya, populasi ikan ini terus meningkat karena kondisi lingkungan yang kurang ideal bagi ikan lokal. Akibatnya, ikan sapu‑sapu menjadi spesies dominan dan disebut sebagai spesies invasif. Spesies invasif adalah organisme yang masuk ke suatu ekosistem dan menyebabkan gangguan, baik terhadap lingkungan, ekonomi, maupun kesehatan manusia.

Keberadaan ikan sapu‑sapu tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga bisa memengaruhi aspek lain seperti ekonomi. Dominasi ikan ini dapat menurunkan populasi ikan konsumsi lokal, mengganggu aktivitas perikanan, dan menurunkan kualitas perairan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa merugikan masyarakat yang bergantung pada sumber daya perairan.

Upaya penanganan dan solusi melibatkan pemerintah dan berbagai pihak. Pemerintah melakukan pemusnahan massal sebagai langkah pengendalian populasi. Namun, menurut para ahli, cara ini bukan satu-satunya solusi. Veryl Hasan menekankan bahwa perbaikan ekosistem menjadi kunci utama.

“Kunci utamanya bukan hanya menangkap sapu‑sapu, tetapi juga memperbaiki habitat sungainya,” tegasnya. Beberapa langkah yang disarankan antara lain penegakan aturan larangan pelepasan ikan asing, pengawasan ketat di lapangan, pemulihan kualitas air sungai, dan edukasi kepada masyarakat.

Ikan sapu‑sapu yang ditangkap juga bisa dimanfaatkan, misalnya sebagai bahan baku tepung ikan untuk pakan. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Peran masyarakat sangat penting, terutama dalam mencegah penyebaran ikan sapu‑sapu. Veryl mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan melepas ikan ke alam bebas.

“Jika tidak mampu merawat, lebih baik dijual kepada penghobi yang bertanggung jawab atau dimusnahkan dengan benar, jangan dilepas ke sungai,” pungkasnya. Kesadaran ini menjadi kunci agar kasus serupa tidak terus berulang di masa depan.

Secara keseluruhan, ikan sapu‑sapu memang terlihat tidak berbahaya di akuarium, tetapi di alam liar, terutama di Indonesia, keberadaannya bisa menjadi ancaman serius. Kemampuan adaptasi tinggi, tidak adanya predator alami, serta sifatnya sebagai pemakan segala membuat ikan ini mendominasi ekosistem dan mengancam ikan lokal. Pemusnahan massal yang dilakukan saat ini merupakan langkah darurat. Namun, solusi jangka panjang tetap terletak pada pemulihan lingkungan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama. Upaya pengendalian populasi harus disertai dengan perbaikan kualitas air dan edukasi masyarakat. Hanya dengan pendekatan terpadu, kita dapat mencegah kerusakan lebih lanjut dan melestarikan keanekaragaman hayati di sungai-sungai Indonesia.

ikan sapu‑sapusungai Ciliwungspesies invasifekosistempengendalian populasipredator alamikualitas airtepung ikan

Komentar

Memuat komentar...