Imam Membaca Pelan di Salat Zuhur dan Asar, Fokus Siang
Gambar atau konten salah?
Salat lima waktu memiliki variasi cara membaca, khususnya pada dua waktu siang: Zuhur dan Asar. Pada kedua salat ini, imam biasanya tidak mengeraskan bacaan Al‑Qur’an, berbeda dengan Magrib, Isya, dan Subuh. Kebiasaan ini sering menimbulkan pertanyaan di kalangan umat.
Menurut buku Sifat Ash Shalah An Nabi yang diterjemahkan oleh Rohidin Wakhid, bacaan Al‑Fatihah dan surah lain dengan suara keras disebut jahr. Namun pada Zuhur dan Asar, imam memilih membaca memelankan suara, istilah yang disebut sirr dalam literatur.
Berikut dua alasan utama mengapa imam tidak bersuara pada dua rakaat pertama salat Zuhur dan Asar:
- Meneladani cara Nabi Muhammad SAW
Hadits yang sama menegaskan bahwa imam tidak bersuara di dua rakaat pertama karena mengikuti contoh Rasulullah SAW. Nabi mencontohkan muslim untuk memelankan suara bacaan ketika rakaat terakhir Magrib dan rakaat ketiga serta keempat Isya. Untuk Zuhur dan Asar, ijma ulama mengacu pada hadits dan atsar yang menyebutkan praktik ini.
Contoh hadits yang sering dikutip: “Kami bertanya kepada Khabbab, 'Apakah Nabi Muhammad SAW membaca dalam salat Zuhur dan Asar?' Dia menjawab, 'Benar.' Kami bertanya lagi, 'Dengan apa kalian mengetahui hal itu?' Dia menjawab, 'Dengan gerakan jenggotnya'.” (HR Bukhari)
Rasulullah juga bersabda: “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” (HR Bukhari dan Ad Darimi)
Hadits-hadits ini menegaskan bahwa imam harus meniru cara Nabi, termasuk cara membaca dengan suara pelan.
- Siang merupakan waktu sibuk sehingga sulit fokus bermunajat
Waktu siang biasanya penuh aktivitas manusia. Karena itu, sulit bagi imam untuk tetap fokus dalam bermunajat. Abu Bakr ad‑Dimyathi menjelaskan hal ini dalam kitab I'anah ath‑Thalibin 'ala Hall Alfazh Fath al‑Mu'in, yang dikutip dalam buku 140 Permasalahan Fiqih Seputar Membaca Al‑Qur’an oleh Cece Abduwaly.
Berbeda dengan malam atau sebelum fajar, saat itu sunyi sehingga cocok untuk bersendiri dan bermunajat kepada Allah. Pada malam, bacaan salat dianjurkan dikeraskan agar muslim dapat merasakan nikmat bermunajat.
Kenapa imam hanya mengeraskan bacaan pada dua rakaat pertama? Alasan utamanya adalah semangat dan fokus yang tinggi pada dua rakaat pertama. Dalam buku Hikmah at‑Tasyri' wa Falsafatuhu yang diterjemahkan oleh Faisal Saleh, dijelaskan bahwa membaca Al‑Fatihah pada salat sama dengan memuji, bersyukur, dan mengagungkan Allah.
Imam menyesuaikan bacaan pada malam hari karena suasana hening dan tenang, berbeda dengan siang yang penuh kebisingan. Hal ini membantu imam menjaga konsentrasi dan kualitas doa.
Secara singkat, praktik imam membaca dengan pelan pada Zuhur dan Asar berasal dari contoh Nabi dan kebutuhan untuk tetap fokus di tengah kesibukan siang. Pada malam, bacaan dikeraskan untuk menambah kedalaman bermunajat. Praktik ini tetap menjadi bagian penting dalam tata cara salat bagi umat muslim.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gempa 3,7 di Nias Selatan 18 Juni 2026, Tanpa Tsunami
Perkiraan Hujan Sedang di Sumatera Utara 18 Juni 2026
Kebakaran Pasar Parluasan Hancurkan 100 Kios, Dugaan Korsleting
Messi Luncurkan Hat-Trick, Argentina Kalahkan Algeria 3-0
Samosir Siap Bangun Gedung Pertunjukan Rp15 Miliar Tahun Ini
Pemadaman Listrik 3 Jam di Medan Baru, 16 Lokasi Terpengaruh
Berita Terbaru
KIP Kuliah 2026: Pendaftaran dan Persyaratan Mahasiswa Miskin
Sananta Kembali ke Persebaya, Reuni dengan Tavares 2024
Bahlil dan Airlangga Bahas Kompensasi, Subsidi PLN
Kemnaker Siap Tinjau Aturan Outsourcing, Buka Dialog Sosial
444 Jemaah Haji Kloter 11 Tiba di Palembang, Total 4.868
Polres Kotamobagu Antar Siswa Sehari Kamis Hari Bhayangkara
Didit Prabowo Kunjungi Jokowi di Solo, Tetap Rahasia
Puasa Tasu'a dan Asyura: Tradisi Bulan Muharram Suci Penting
