Imbo Putui Destin Wisata, Pendapatan Tumbuh 10 Kali

Ningsih R. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 76 dibaca
Bisik.id
Imbo Putui Destin Wisata, Pendapatan Tumbuh 10 Kali

Gambar atau konten salah?

Hutan Adat Imbo Putui, yang terletak di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, telah berubah menjadi tempat wisata alam yang menonjol di Provinsi Riau. Program Desa Wisata membawa kawasan bersejarah ini melewati proses perbaikan yang intensif. Fasilitas baru dan pelatihan pengelola tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengunjung, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal.

Hutan ini menjadi contoh pertama di Riau yang mendapat pengakuan resmi negara lewat Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019. Pada 2020, Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai hutan adat. Potensi alamnya meliputi hutan lebat, sungai alami, dan area camping yang menarik. Sebelumnya, kurangnya MCK dan kapasitas pengelola membuat kunjungan terbatas, hanya ramai pada akhir pekan.

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan masuk sebagai “Sahabat Pendukung”. Mereka meluncurkan program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Langkah-langkahnya meliputi pelatihan pengelolaan desa wisata, penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), promosi lewat media sosial, dan pembangunan infrastruktur fisik secara masif. Hasilnya, wajah Imbo Putui berubah drastis.

Fasilitas MCK yang semula dua unit kini bertambah menjadi enam. PHR juga memperluas area camping, merevitalisasi musala, menambah papan petunjuk, dan menyediakan tempat sampah. Semua perubahan bertujuan meningkatkan kenyamanan dan kualitas pengalaman bagi pengunjung.

Perubahan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Said Afrizal, 27 tahun, yang akrab dipanggil Eja, memegang posisi Ketua Pokdarwis Imbo Putui. Ia memimpin gerakan perubahan di lapangan. Bersama anggota kelompoknya, Eja menggerakkan gotong‑royong, menjaga kebersihan, mengatur area camping, dan memastikan pengunjung mematuhi aturan adat. Salah satu tugasnya adalah memisahkan area pemandian laki‑laki dan perempuan di sungai.

“Pesan kami untuk pengunjung yang datang ke Hutan Adat Imbo Putui adalah untuk selalu menjaga kebersihan dan fasilitas yang sudah ada agar liburan tetap nyaman. Diharapkan semua pengunjung membuang sampah ke tempat yang disediakan, pohon jangan ditebang sembarangan, dan aturan adat setempat harus kita terapkan demi kenyamanan dan keamanan bersama,” ujar Eja.

Hasil kerja keras tersebut terlihat pada periode libur panjang satu bulan terakhir. Kunjungan wisatawan diperkirakan mencapai hampir 400 orang, berasal dari komunitas, keluarga, dan mahasiswa. Wisatawan kini dapat menikmati mandi di sungai, camping, dan hiking di hutan dengan lebih nyaman. Peningkatan kunjungan langsung memengaruhi kesejahteraan pengelola.

Omzet mingguan kelompok yang sebelumnya berkisar Rp300 ribu kini melonjak menjadi sekitar Rp3 juta per minggu saat musim liburan. Ini merupakan lompatan pendapatan hingga 10 kali lipat. Perubahan ini menegaskan komitmen PHR dalam menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui kolaborasi ini, PHR ingin memastikan bahwa kekayaan alam dan budaya tidak hanya lestari, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa. Kami berharap transformasi ini menjadikan Imbo Putui sebagai model desa wisata berkelanjutan di Riau,” kata Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faizal.

Meski sektor pariwisata terus berkembang, komitmen masyarakat Petapahan dan Pokdarwis untuk menjaga kelestarian lingkungan serta aturan adat tetap kuat. Keberhasilan Hutan Adat Imbo Putui menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi multi pihak dapat mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal tanpa mengorbankan kelestarian alam hayati yang berkelanjutan.

Hutan Adat Imbo Putui kini menjadi contoh bagaimana pengelolaan hutan adat dapat diselaraskan dengan tujuan wisata. Melalui pelatihan, fasilitas yang memadai, dan partisipasi aktif masyarakat, kawasan ini berhasil menumbuhkan ekonomi lokal sambil menjaga nilai budaya dan lingkungan. Dengan dukungan PHR, desa Petapahan menunjukkan bahwa pengembangan wisata berkelanjutan dapat dicapai melalui kerja sama yang solid antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Hutan Adat Imbo PutuiDesa WisataPertamina Hulu RokanPokdarwisPariwisata BerkelanjutanEkonomi LokalKelestarian Lingkungan

Komentar

Memuat komentar...