IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan ke 2,5% karena Harga Energi
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Pada hari Selasa, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global.
Lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah menjadi penyebab utama perlambatan ekonomi. Gangguan pasokan energi akibat ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut.
IMF menilai dunia sudah beralih ke skenario yang lebih buruk, dengan pertumbuhan lebih lemah. Organisasi ini merilis tiga skenario pertumbuhan ekonomi tahun ini: lebih lemah, lebih buruk, dan sangat parah.
Dalam skenario terbaik, IMF mengasumsikan konflik di Timur Tengah bersifat sementara. Harga minyak diperkirakan kembali normal pada paruh kedua tahun 2026, dengan rata‑rata US$ 82 per barel.
Sementara itu, skenario risiko sedang memprediksi konflik sedikit lebih panjang. Harga minyak diperkirakan tetap sekitar US$ 100 per barel tahun ini dan turun menjadi US$ 75 per barel pada tahun 2027. Pertumbuhan global diperkirakan turun menjadi 2,5 % tahun ini dari 3,4 % pada tahun 2025.
Di sisi lain, skenario terburuk menunjukkan harga minyak mencapai US$ 110 per barel pada tahun 2026 dan US$ 125 per barel pada tahun 2027. Dalam kondisi ini, ekonomi global berada di ambang resesi.
Beberapa menit setelah merilis prospek tersebut, Kepala Ekonom IMF Pierre‑Olivier Gourinchas menyatakan bahwa prospek tersebut mungkin sudah usang. Ia mengatakan, “Saya akan mengatakan bahwa kita berada di antara skenario sedang dan skenario buruk. Dan tentu saja, setiap hari yang berlalu dan setiap hari kita mengalami lebih banyak gangguan di bidang energi, kita semakin mendekati skenario buruk.”
Gourinchas menambahkan bahwa gangguan energi yang terus berlanjut dan tidak adanya jalan yang jelas untuk mengakhiri konflik membuat kemungkinan skenario buruk IMF terlihat sangat mungkin terjadi.
Namun, tanpa adanya konflik di Timur Tengah, IMF memprediksi prospek pertumbuhan ekonomi bisa naik menjadi 3,4 %. Faktor-faktor yang mendukung termasuk peningkatan investasi teknologi, suku bunga yang lebih rendah, tarif AS yang tidak terlalu ketat, dan dukungan fiskal di beberapa negara.
Secara keseluruhan, perubahan harga energi akibat konflik di Timur Tengah menempatkan ekonomi global pada posisi rapuh. Kinerja ekonomi di masa depan sangat tergantung pada dinamika konflik dan kemampuan dunia untuk menstabilkan pasokan energi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
BKN Tegaskan Poster CPNS 2026 Hoaks, Cek Sumber Resmi
DPR Setujui RUU P2SK, OJK Diperluas Tugas Pengawasan
Prabowo Tegaskan Tegas Mitra Curang MBG, Siap Bantu Penegak
Pertamina Dukungan Desa Energi, Padi Bali Naik 7,5 Ton
Garuda Atur Jadwal Pemulangan Haji 2026 di Jeddah.
Berita Terbaru
Harga Emas Antam Palembang Turun Rp2,759.000 per Gram
Harga Emas Antam Medan Turun Rp15.000 per Gram di Medan
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
Kementerian Sosial Buka 5.127 Posisi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026
BKN Tegaskan Poster CPNS 2026 Hoaks, Cek Sumber Resmi
Kementerian Lingkungan Target Turunkan Emisi CO2 15% 2025
Korea Selatan & Panama Menang Uji Coba Piala Dunia 2026
Furtasan Usulkan PTN Seleksi Mahasiswa Hanya Dua Jalur
