Importir Kendalikan Harga Kedelai agar Tempe Tetap Murah
Gambar atau konten salah?
Harga kedelai melonjak tajam, menimbulkan kekhawatiran bahwa harga tempe juga akan naik. Tempe, yang diharapkan tetap terjangkau, kini berada di ambang kenaikan karena bahan bakunya, kedelai, sebagian masih diimpor.
Di Istana Kepresidenan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta para importir menahan harga kedelai agar tempe tidak ikut terangkat. Ia berkata, “Nanti kami kumpulkan teman-teman importir jangan terlalu menaikkan harga tinggi, tapi yang terpenting bahan pokok kita yang paling vital beras posisi sangat aman, sangat aman,” sambil menegaskan bahwa beras tetap aman baik dari pasokan maupun harganya.
Amran menekankan bahwa stabilitas harga pangan penting bagi masyarakat. Ia menambahkan, “Kedelai nanti kita minta kepada importir untuk tidak menaikan harga terlalu tinggi, mari kita jaga stabilitas harga pangan dan kita ada empati peduli saudara-saudara kita,” sambil mengingatkan bahwa harga beras masih terjaga.
Di Kota Batu, para pelaku usaha mikro tempe merasakan dampak langsung. Siti Komariah, produsen tempe dari Desa Beji, melaporkan bahwa harga kedelai impor yang biasa dipakai naik dari Rp 9.000 menjadi Rp 10.500 per kilogram. Ia mengatakan, “Harga kedelai ini naik sudah ada satu bulan,” menandakan kenaikan yang sudah berlangsung lama.
Dengan situasi ini, Siti tidak berani menaikkan harga jual tempe karena takut produknya tidak laku di pasaran. Untuk menghindari kerugian, ia memilih memperkecil ukuran tempe, menyesuaikan dengan biaya bahan baku yang lebih tinggi.
Perubahan harga kedelai menekan produsen tempe kecil, memaksa mereka mencari cara adaptasi. Upaya Menteri Pertanian untuk menahan harga kedelai dan menjaga stabilitas beras menjadi kunci agar tempe tetap terjangkau bagi masyarakat. 08 April 2026.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI: Standalone Market Bukan Kategori Terendah MSCI
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade
BEI Kaget MSCI Umumkan Potensi Status Baru Lebih Cepat dari Jadwal
IHSG Melemah, Investor Asing Jual Rp 2,92 Triliun
Menkeu: Riset Jerman Buktikan MSCI Tak Selalu Benar
Airlangga Kaget MSCI Umumkan Lebih Cepat soal Status Pasar Modal RI
