India Gasifikasi Batu Bara, Kurangi Impor Energi, Mendukung

Wahyu T. · 3 min baca · 3 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
India Gasifikasi Batu Bara, Kurangi Impor Energi, Mendukung

Gambar atau konten salah?

India sedang mempercepat upaya mengubah batu bara menjadi gas. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor energi. Dorongan tersebut semakin kuat setelah gangguan pelayaran di Selat Hormuz selama konflik antara AS dan Israel melawan Iran mengancam pasokan minyak mentah, LPG, dan bahan baku pupuk ke negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk India.

Untuk India, gasifikasi batu bara dianggap solusi yang masuk akal karena negara tersebut memiliki cadangan batu bara yang melimpah. Namun, para ahli menilai India menghadapi tantangan yang lebih besar dibanding negara-negara lain. Hambatan tersebut antara lain karakteristik batu bara India, kebutuhan air yang tinggi dalam proses produksi, keterbatasan pendanaan, hingga kebijakan yang belum terkoordinasi dengan baik.

Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga batu bara konvensional yang membakar batu bara secara langsung, teknologi gasifikasi mengubah batu bara menjadi gas sintetis atau syngas. Teknologi ini telah digunakan selama berabad-abad. Ia bekerja dengan memanaskan batu bara dan mereaksikannya dengan oksigen serta uap air untuk menghasilkan syngas yang sebagian besar terdiri atas karbon monoksida dan hidrogen. Syngas kemudian dapat diolah menjadi berbagai produk seperti pupuk, metanol, dimetil eter (DME), gas alam sintetis, dan hidrogen. DME juga dapat digunakan sebagai pengganti LPG. Bahkan karbon dioksida yang dihasilkan dari proses tersebut masih bisa ditangkap dan diolah menjadi produk lain.

Para ahli menilai gasifikasi batu bara hanya dapat mengurangi sebagian kebutuhan impor energi, bukan menggantikannya secara penuh. Pasalnya, kebutuhan industri sangat besar, beragam, dan tidak mudah dialihkan dalam waktu singkat.

CEO perusahaan konsultan transisi energi Dastur Energy, Atanu Mukherjee, mengatakan teknologi ini lebih tepat dipandang sebagai cara untuk memperkuat ketahanan energi dan memperluas pilihan sumber energi, bukan sebagai jalan untuk mengakhiri ketergantungan terhadap impor.

Menurut para ahli, gasifikasi batu bara selama ini belum berkembang luas karena biaya proyek yang mahal, teknologi yang kompleks, dan proses pembangunan yang memakan waktu lama. Mukherjee mencontohkan China yang membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk membangun industri gasifikasi batu bara hingga mencapai skala besar.

Meski demikian, minat terhadap teknologi tersebut kembali meningkat karena banyak negara pengimpor minyak dan gas mencari cara untuk mengurangi dampak gejolak pasokan energi global.

Pemerintah India menjadi salah satu negara yang kini mempercepat pengembangan proyek batu bara menjadi gas. Bulan lalu, pemerintah India menyetujui program senilai US$ 3,9 miliar untuk mendukung gasifikasi batu bara. Pemerintah akan memberikan insentif hingga 20% dari biaya pembangunan pabrik dan pengadaan mesin untuk proyek baru. Pemerintah berharap program tersebut dapat menarik investasi swasta dalam skala besar melalui mekanisme lelang yang kompetitif. Menurut pemerintah, program itu bertujuan memperkuat ketahanan energi, meningkatkan pemanfaatan batu bara domestik, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar, pupuk, dan bahan baku industri kimia.

Sejumlah negara Asia lainnya juga telah mengambil langkah serupa. China saat ini memiliki 13 proyek batu bara menjadi gas yang sedang dibangun atau dalam tahap perencanaan. Langkah itu dilakukan untuk memanfaatkan cadangan batu bara domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor gas alam. Dorongan tersebut semakin kuat setelah konflik di Iran mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah dan memperlihatkan besarnya ketergantungan China terhadap impor minyak dan gas. Menurut konsultan energi China, OilChem, proyek-proyek tersebut berpotensi menghasilkan syngas yang setara dengan 12% pasokan gas nasional China.

Sementara itu, Indonesia dilaporkan meluncurkan enam proyek gasifikasi batu bara pada awal Februari, sebelum perang Iran pecah. Nilai investasinya mencapai US$ 9,8 miliar dan difokuskan untuk memproduksi DME sebagai pengganti LPG. Berdasarkan data pemerintah setempat, impor minyak mentah, produk minyak, dan LNG menyumbang sekitar seperempat total impor India serta sekitar 15% impor Indonesia. Sementara itu, data Bank Dunia menunjukkan impor bahan bakar, termasuk energi mineral, menyumbang sekitar 20% total impor China.

Inisiatif ini mencerminkan tren regional yang lebih luas untuk memanfaatkan cadangan batu bara domestik guna meningkatkan ketahanan energi. Namun, tantangan biaya, kompleksitas teknologi, dan koordinasi kebijakan tetap menjadi penghalang utama. Keberhasilan proyek-proyek ini akan bergantung pada investasi berkelanjutan dan waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan infrastruktur gasifikasi yang memadai.

gasifikasi batu baraketahanan energiIndiaIndonesiaChinaDMEinsentif pemerintah

Komentar

Memuat komentar...