India Turunkan Pertumbuhan Hingga 7,4% Biaya Energi Tinggi
Gambar atau konten salah?
India melaporkan risiko penurunan target pertumbuhan ekonomi menjadi 7 % hingga 7,4 % untuk tahun fiskal yang dimulai pada 01 April 2026. Penyebabnya adalah lonjakan biaya energi dan gangguan pasokan akibat konflik panas di Timur Tengah.
Konflik yang pecah sebulan lalu setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mengacaukan jalur pelayaran utama dunia. Jalur ini menampung sekitar 20 % pasokan minyak global. Akibatnya, biaya energi dan logistik meroket tajam, sementara rantai pasok pun dapat terganggu.
Menurut tinjauan pemerintah, situasi ini menimbulkan dampak pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi India. Kepala Penasihat Ekonomi India, V Anantha Nageswaran, menyatakan bahwa data ekonomi pada bulan April dan Mei akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai prospek ke depan.
Ia juga menegaskan bahwa defisit anggaran negara diprediksi akan semakin melebar. Pada kuartal‑IV 2025, defisit mencapai 1,3 % dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan diperkirakan akan lebih parah di tahun ini.
Ekonomi India semakin tertekan setelah mata uang rupee melemah hingga 95 per dolar AS pada 01 Maret 2026. Pelemahan nilai tukar rupee dipicu oleh larinya modal asing keluar dari India dan devisa terkuras akibat harga energi yang melambung.
Secara keseluruhan, kombinasi biaya energi tinggi, gangguan pasokan, dan melemahnya mata uang menambah tekanan pada pertumbuhan ekonomi India, sementara defisit anggaran yang melebar menambah ketidakpastian fiskal di tahun fiskal mendatang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BEI: Standalone Market Bukan Kategori Terendah MSCI
IHSG Anjlok 10,76%, Rupiah Tembus 18.000 Usai MSCI Umumkan Downgrade
BEI Kaget MSCI Umumkan Potensi Status Baru Lebih Cepat dari Jadwal
IHSG Melemah, Investor Asing Jual Rp 2,92 Triliun
Menkeu: Riset Jerman Buktikan MSCI Tak Selalu Benar
Airlangga Kaget MSCI Umumkan Lebih Cepat soal Status Pasar Modal RI
