Indonesia Cari LPG Pengganti Nafta Bahan Plastik Untuk Industri
Gambar atau konten salah?
Perang di Timur Tengah menimbulkan kenaikan harga bahan baku plastik, atau nafta. Pemerintah membuka peluang untuk mengganti nafta dengan LPG sebagai bahan baku pembuatan plastik. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan bahwa Indonesia selama ini bergantung pada pasokan nafta dari Timur Tengah, namun konflik yang tak kunjung reda mengganggu jalur logistik dan membuat harga melambung.
Seiring dengan itu, pemerintah kini melirik negara lain untuk memasok nafta, termasuk India, Afrika, dan Amerika Serikat. Pada pertemuan di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat pada Kamis (16 April 2026), Budi Santoso menyatakan:
"Tapi kita sudah dapat alternatif dari India, Afrika dan Amerika. Memang masih dalam perjalanan, tetapi industri kita jalan terus,"
Selain itu, Budi Santoso menjelaskan bahwa pemerintah tengah berupaya mengganti nafta dengan LPG. Ia menambahkan bahwa Indonesia sedang menjajaki kerja sama dengan negara‑negara di kawasan Eurasia untuk merealisasikan rencana tersebut. Dalam pembicaraannya, ia berkata:
"Nah sekarang kita mencari juga LPG, kan bisa menggantikan nafta. Pakai LPG kita mencoba mencari dari Eurasia. Dari negara‑negara di sekitar Rusia. Kita sudah mencoba melakukan pendekatan,"
Menjelaskan harapan, Budi Santoso menyatakan bahwa krisis bahan baku ini segera berakhir. Plastik merupakan salah satu komponen dalam rantai pasok berbagai produk konsumsi. Ia mengungkapkan harapannya:
"Dan mudah-mudahan segera selesailah krisis ini ya. Jadi mudah-mudahan plastik juga segera turun karena kan nanti bisa dampaknya ke yang lain. Kan banyak produk yang dibungkus plastik,"
Dengan mengganti nafta, pemerintah berharap harga plastik turun, memberi dampak positif pada produk yang dibungkus plastik. Harapan Budi Santoso bahwa krisis segera selesai mencerminkan upaya negara untuk menjaga stabilitas industri dan konsumen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
