Indonesia Perkenalkan Label Nutri Level untuk Makanan dan Minuman

Dian P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Indonesia Perkenalkan Label Nutri Level untuk Makanan dan Minuman

Gambar atau konten salah?

JakartaIndonesia baru saja memperkenalkan label baru bernama Nutri Level pada makanan dan minuman siap saji. Label ini bertujuan memberi petunjuk cepat tentang seberapa sehat suatu produk berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak jenuh (GGL).

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK/01/07/MENKES/301/2026 menetapkan empat level: A, B, C, dan D. Level A dianggap paling sehat karena rendah gula, garam, dan lemak. Level D, sebaliknya, menunjukkan kandungan GGL yang bisa jauh melebihi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berikut kriteria masing-masing level berdasarkan kandungan per 100 ml:

  • Gula (per 100 ml) Level A: tanpa pemanis tambahan, kurang dari 1 gram Level B: sekitar 1 hingga 5 gram Level C: lebih dari 5 hingga 10 gram Level D: lebih dari 10 gram
  • Garam (per 100 ml) Level A: kurang dari atau sama dengan 5 mg Level B: lebih dari 5 hingga 120 mg Level C: lebih dari 120 hingga 500 mg Level D: lebih dari 500 mg
  • Lemak jenuh (per 100 ml) Level A: kurang dari atau sama dengan 0,7 gram Level B: lebih dari 0,7 sampai 1,2 gram Level C: lebih dari 1,2 hingga 2,8 gram Level D: lebih dari 2,8 gram

Pencantuman nilai Nutri Level pada kemasan dihitung dalam persentase, yaitu gram atau miligram per 100 ml. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, memberi contoh: ‘apabila kandungan gula di suatu pangan siap saji sebesar 5,01 gram per 100 mililiter, persentase kandungan gulanya akan sebesar 5,01 persen’. Prinsip yang sama berlaku untuk garam dan lemak jenuh.

Label menunjukkan huruf yang paling tinggi di antara tiga parameter tersebut. Misalnya, jika gula memiliki persentase tertinggi, label menonjolkan huruf A, B, C, atau D sesuai dengan level gula.

Siti Nadia Tarmizi menyatakan belum ada industri besar yang secara sukarela mencantumkan Nutri Level, namun ia berharap semua pangan siap saji akan mengadopsi label ini dalam dua tahun ke depan. Ia menegaskan sasaran awal industri besar, belum sampai UMKM, pada konferensi pers Selasa, 14 April 2026.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai label baru lebih efektif dalam menekan kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti obesitas dan diabetes dibandingkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Ia menekankan bahwa paksaan sering tidak memberikan pengaruh besar.

‘Satu hal yang kami pelajari, kalau kesehatan itu dipaksakan pemerintah dalam program, hasilnya itu tidak pernah lebih baik dibandingkan kalau kesehatan menjadi kesadaran pribadi dalam bentuk gerakan’, ujar Sadikin. Ia mencontohkan pilihan minuman sehat dengan kategori A berwarna hijau, seperti kopi hitam tanpa gula. Ia juga berkata, ‘Kalau kita minumnya warna merah nggak keren, kita harusnya minumnya yang hijau’.

Sadikin menambahkan, ‘Kalau dulu minum kopi pakai gula, pakai susu kental manis, tapi kalau sekarang kopinya espresso sama americano lebih keren’. Ia berharap label ini memicu diskusi sehat dan tren baru dalam memilih makanan dan minuman.

Singapura telah menerapkan sistem NutriGrade yang mirip dengan Nutri Level. Sejak diberlakukan, konsumen di sana menunjukkan kebiasaan baru memilih minuman lebih sehat. Banyak industri berlomba reformulasi produk agar lebih rendah GGL.

Pakar epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia menilai pengaruh Nutri Level tidak akan seefektif Nutri Grade bila edukasi masyarakat tidak terbentuk. Menurutnya, setiap level harus disertai peringatan risiko penyakit. Ia menekankan bahwa konsumen sering menganggap level terendah sebagai pilihan terakhir, sehingga mereka mengonsumsi produk level D sesekali tanpa menyadari dampak jangka panjang.

‘Jadi tanpa narasi yang kuat, konsumen atau publik masyarakat dengan literasi rendah itu cenderung merasa bahwa mengonsumsi pangan level D sesekali tidak berdampak jangka panjang’, kata Budiman. Ia menyoroti pentingnya terminologi yang jelas dan peringatan tegas. Ia menyarankan, ‘Jadi perlu penajaman terminologi. Sebetulnya bisa mewajibkan pencantuman teks peringatan yang lebih tegas, lugas, jelas, tambahkan keterangan ekspilist tinggi gula, garam, lemak, batas konsumsi’.

Budiman juga menjelaskan bahwa Singapura menggabungkan sistem label dengan peringatan visual, seperti warna merah dominan atau simbol peringatan di samping huruf D. Ia menilai pendekatan ini berhasil menurunkan kasus obesitas lebih dari tiga persen.

Dengan demikian, jika suatu produk jatuh ke level D karena gula tinggi, label harus menampilkan profil tersebut secara spesifik, misalnya ‘visualisasi merah yang lebih dominan, atau simbol peringatan di samping huruf D’, jelas Budiman pada 14 April 2026.

Label Nutri Level diharapkan menjadi alat sederhana bagi konsumen untuk membuat pilihan lebih sehat. Namun, keberhasilan tergantung pada penerapan peringatan yang jelas dan edukasi publik. Jika kedua elemen tersebut terintegrasi, label ini dapat membantu menurunkan konsumsi GGL dan menurunkan risiko penyakit tidak menular.

Nutri LevelGGLLabel makananKesehatanIndustri makananPenyakit tidak menularEdukasi masyarakat

Komentar

Memuat komentar...