Indonesia Pilih Dua Syarikah Haji 2026, Hindari Masalah Lalu

Vera T. · 4 min baca · 29 hari lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Indonesia Pilih Dua Syarikah Haji 2026, Hindari Masalah Lalu

Gambar atau konten salah?

Di Surabaya, banyak calon jemaah haji masih mengira penyelenggaraan ibadah haji tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya, Arab Saudi terus melakukan reformasi besar melalui sistem syarikah, yang kini menjadi fondasi utama layanan haji modern. Perubahan ini memengaruhi pengelolaan jemaah, terutama koordinasi, transportasi, dan fasilitas selama di Makkah, Madinah, hingga Armuzna.

Istilah syarikah berasal dari bahasa Arab “sharika” yang berarti “berusaha bersama”. Dalam konteks haji, istilah ini menggambarkan kerja sama penyelenggaraan layanan bagi jemaah. Syarikah haji merujuk pada perusahaan penyelenggara layanan haji di Arab Saudi yang mendapat mandat resmi dari pemerintah setempat. Perusahaan ini telah melalui proses akreditasi dan berada di bawah pengawasan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.

Selama ini, layanan haji di wilayah Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sepenuhnya dilakukan oleh Muassasah atau lembaga pemerintahan, mirip Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Indonesia. Indonesia sendiri dulu dilayani oleh Muassasah Asia Tenggara. Pada tahun 2023, otoritas haji Arab Saudi mulai mengenalkan konsep syarikah untuk memberikan layanan secara lebih profesional, mengingat pelaksanaannya adalah pihak swasta.

Peran syarikah haji sangat penting. Sebagai perusahaan resmi yang ditunjuk pemerintah Arab Saudi, syarikah bertanggung jawab mengelola layanan utama agar pelaksanaan haji berjalan tertib, aman, dan nyaman sesuai standar. Tugasnya meliputi:

  • Akomodasi, termasuk hotel dan pemondokan di Makkah dan Madinah.
  • Transportasi antar kota suci dan saat puncak haji dari rute Arafah, Muzdalifah, Mina.
  • Konsumsi, termasuk makan dan minum selama ibadah.
  • Perlengkapan dan logistik haji.
  • Manasik dan edukasi jemaah.
  • Pelayanan kesehatan dasar dan darurat.

Setiap negara pengirim jemaah haji bekerja sama atau mengontrak syarikah tertentu yang akan menjadi mitra lokal di Arab Saudi. Kementerian Agama melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah bekerja sama dengan syarikah-syarikah yang telah ditunjuk pemerintah Saudi. Meskipun sebagian besar layanannya berasal dari pihak ketiga di Arab Saudi, jemaah tetap berada dalam pengawasan pemerintah Indonesia.

Menurut Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, pemerintah memastikan hanya ada dua syarikah yang melayani 203 ribu jemaah haji reguler pada musim haji 2026. Kantor Urusan Haji (KUH) RI di Jeddah mengumumkan kabar itu lewat unggahan resmi pada 29 September 2025. Dua syarikah tersebut adalah Rakeen Mashariq Al Mutamayizah Company For Pilgrim Service dan Al Bait Guest atau Dhuyuf Al Bait.

Untuk haji 2025, ada delapan syarikah yang melayani jemaah haji Indonesia di Makkah. Delapan syarikah ini merupakan hasil penilaian terhadap 23 proposal syarikah. Berikut daftar delapan syarikah tersebut:

  • Al-Bait Tamu (BTG) yang melayani 35.977 jemaah.
  • Rakeen Mashariq (RKN) yang melayani 35.090 jemaah.
  • Sana Mashariq (SNA) yang mengelola 32.570 jemaah.
  • Rehlat & Manafea (RHL) yang mengelola 34.802 jemaah.
  • Alrifadah (RFH) yang mengelola 20.317 jemaah.
  • Rawaf Mina (RWF) yang mengelola 17.636 jemaah.
  • MCDC yang mengelola 15.645 jemaah.
  • Rifad (RFD) yang melayani 11.283 jemaah.

Keputusan hanya dua syarikah yang melayani jemaah haji 2026 bukan tanpa alasan. Tahun lalu, pemerintah sempat menerapkan skema multisyarikah. Hasilnya, banyak masalah di lapangan. Skema multisyarikah membuat jemaah haji menjadi korban.

Berikut jadwal perjalanan haji 2026 berdasarkan keputusan resmi Kemenhaj. Jadwal ini menjadi panduan bagi jemaah sejak keberangkatan dari tanah air hingga kembali ke Indonesia. Rangkaian jadwal ibadah haji 2026 mencakup tahapan penting di Arab Saudi, mulai dari kedatangan di Madinah dan Makkah, hingga puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

  • 21 April 2026 (4 Zulkaidah 1447 H): Jemaah haji masuk asrama haji.
  • 22 April 2026 (5 Zulkaidah 1447 H): Awal pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari Tanah Air ke Madinah.
  • 1 Mei 2026 (14 Zulkaidah 1447 H): Awal pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari Madinah ke Makkah.
  • 6 Mei 2026 (19 Zulkaidah 1447 H): Akhir pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari Tanah Air ke Madinah.
  • 7 Mei 2026 (20 Zulkaidah 1447 H): Awal pemberangkatan jemaah haji gelombang II dari Tanah Air ke Jeddah.
  • 15 Mei 2026 (28 Zulkaidah 1447 H): Akhir pemberangkatan jemaah haji gelombang I dari Madinah ke Makkah.
  • 21 Mei 2026 (4 Zulhijah 1447 H): Akhir pemberangkatan jemaah haji gelombang II dari Tanah Air ke Jeddah.
  • 21 Mei 2026 (4 Zulhijah 1447 H): Closing date KAAIA Jeddah (pukul 24.00 WAS).
  • 25 Mei 2026 (8 Zulhijah 1447 H): Pemberangkatan jemaah haji dari Makkah ke Arafah.
  • 26 Mei 2026 (9 Zulhijah 1447 H): Wukuf di Arafah.
  • 27 Mei 2026 (10 Zulhijah 1447 H): Idul Adha 1447 H.
  • 28 Mei 2026 (11 Zulhijah 1447 H): Hari Tasyrik I.
  • 29 Mei 2026 (12 Zulhijah 1447 H): Hari Tasyrik II (Nafar Awal).
  • 30 Mei 2026 (13 Zulhijah 1447 H): Hari Tasyrik III (Nafar Tsani).
  • 1 Juni 2026 (15 Zulhijah 1447 H): Awal pemulangan jemaah haji gelombang I dari Makkah melalui Bandara Jeddah ke Tanah Air.
  • 1 Juni 2026 (15 Zulhijah 1447 H): Awal kedatangan jemaah haji gelombang I di Tanah Air.
  • 7 Juni 2026 (21 Zulhijah 1447 H): Awal pemberangkatan jemaah haji gelombang II dari Makkah ke Madinah.
  • 15 Juni 2026 (29 Zulhijah 1447 H): Akhir pemulangan jemaah haji gelombang I dari Jeddah ke Tanah Air.
  • 16 Juni 2026 (1 Muharam 1448 H): Tahun Baru Hijriah 1448 H.
  • 16 Juni 2026 (1 Muharam 1448 H): Awal pemulangan jemaah haji gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.
  • 16 Juni 2026 (1 Muharam 1448 H): Awal kedatangan jemaah haji gelombang II di Tanah Air.
  • 21 Juni 2026 (6 Muharam 1448 H): Akhir pemberangkatan jemaah haji gelombang II dari Makkah ke Madinah.
  • 30 Juni 2026 (15 Muharam 1448 H): Akhir pemulangan jemaah haji gelombang II dari Madinah ke Tanah Air.
  • 1 Juli 2026 (16 Muharam 1448 H): Akhir kedatangan jemaah haji gelombang II di Tanah Air (irb/hil).

Dengan perubahan sistem, jemaah haji Indonesia kini lebih terkoordinasi. Pemerintah Indonesia tetap mengawasi proses, namun sebagian besar layanan diserahkan kepada syarikah yang telah ditunjuk. Keputusan untuk menggunakan dua syarikah pada musim haji 2026 menandai langkah strategis mengurangi masalah di lapangan. Pengalaman multisyarikah tahun sebelumnya menunjukkan bahwa koordinasi yang lebih sederhana dapat meningkatkan kepuasan jemaah. Syarikah, sebagai entitas swasta yang diakreditasi, harus memenuhi standar keamanan, kenyamanan, dan pelayanan kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi. Jemaah dapat mengandalkan sistem ini untuk menjalankan ibadah dengan lancar, dari kedatangan di Madinah hingga kembali ke Indonesia.

syarakahhajiArab SaudiIndonesiatransportasilogistikmultisyarikah

Komentar

Memuat komentar...