Indonesia Tahan Krisis Energi, Pertumbuhan 5,61% YoY

Agus P. · 2 min baca · 23 hari lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Indonesia Tahan Krisis Energi, Pertumbuhan 5,61% YoY

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat meski dunia menghadapi tekanan. Pernyataan ini didukung oleh J.P. Morgan, lembaga keuangan global. Evita Manthovani, staf ahli di bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, mengungkapkan hasil analisis J.P. Morgan.

Menurut Evita, J.P. Morgan menempatkan Indonesia sebagai negara kedua paling tahan terhadap krisis energi global, setelah Afrika Selatan. Negara ini berada di atas China dan Amerika Serikat. “J.P. Morgan juga menilai Indonesia sebagai negara yang paling tahan krisis energi kedua setelah Afrika Selatan di atas Tiongkok dan Amerika. Ditopang oleh produksi batubara domestik yang memiliki sekitar 48% konsumsi energi dan juga gas bumi domestik 22% serta energi terbarukan sebesar 7%,” ujar Evita dalam sambutannya di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin, 11 Mei 2026.

Hasil ini dianggap sejalan dengan kondisi ekonomi nasional yang diklaim solid pada awal 2026. Evita menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia naik 5,61% secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan pertama 2026. Ia menegaskan bahwa angka tersebut lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara anggota G20. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi China berada di level 5%, sementara Korea Selatan 3,6%.

“Ini membuktikan bahwa fundamental ekonomi kita tetap kokoh, kuat, pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dari bagian besar negara G20, China itu 5%, dan Korea Selatan 3,6%. Bahkan ini melebihi proyeksi berbagai lembaga penilaian,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan pertumbuhan mencapai 5,52%.

Selain itu, belanja pemerintah pada triwulan pertama 2026 juga mengalami akselerasi. Belanja pemerintah tercatat mencapai 21,21% dari APBN atau sekitar Rp 815 triliun, tumbuh 31,4% secara tahunan dan berada di atas rata-rata historis. Di sisi lain, inflasi pada April 2026 berada di level 2,42%, yang berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5% plus minus 1%.

Indeks keyakinan konsumen tetap berada di zona optimistis pada level 122,9. Neraca dagang Indonesia pada Maret 2026 mencatat surplus sebesar US$ 3,32 miliar, sekaligus memperpanjang tren surplus perdagangan menjadi 71 bulan berturut‑turut. “Ini surplus kita sudah 71 bulan berturut‑turut, ini capaian yang luar biasa, patut kita syukuri. Dan credit growth di Maret itu 9,49% naik dari Februari yang sebesar 9,37% year on year-nya,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menahan tekanan energi dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang solid. Kinerja konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan neraca perdagangan yang positif memperkuat posisi ekonomi negara ini di tengah dinamika global. Dengan ketahanan energi yang didukung oleh produksi batubara, gas bumi, dan energi terbarukan, serta kebijakan fiskal yang aktif, Indonesia menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik terhadap tantangan ekonomi internasional.

Ekonomi IndonesiaJ.P. MorganKrisis energiPertumbuhan ekonomiNeraca perdaganganBelanja pemerintahKonsumsi rumah tanggaInflasi

Komentar

Memuat komentar...