Indonesia Tegaskan Peran Satelit dalam Kedaulatan 2045

Rizki W. · 2 min baca · 22 hari lalu · 62 dibaca
Bisik.id
Indonesia Tegaskan Peran Satelit dalam Kedaulatan 2045

Gambar atau konten salah?

Risdianto Yuli Hermansyah, Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) periode 2026‑2029, menegaskan bahwa industri satelit kini tidak sekadar pelengkap jaringan terestrial. Ia menilai satelit telah menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan infrastruktur digital nasional.

Industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, peran satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga turut mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional secara lebih luas,” ujar Risdianto di Jakarta pada 12 Mei 2026.

Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, memiliki posisi geografis strategis. Kebutuhan konektivitas yang terus meningkat menandakan pasar yang luas serta pengalaman industri yang cukup matang. “Indonesia memiliki modal yang cukup baik, mulai dari kebutuhan pasar, sumber daya manusia, hingga pengalaman pelaku industri. Tugas kita bersama adalah bagaimana mengintegrasikan industri, riset, talenta, dan kebijakan dalam satu strategi yang berkelanjutan,” tambahnya.

Peran satelit juga dianggap semakin penting dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045. Koneksi di wilayah 3T—terdepan, terluar, tertinggal—diharapkan dapat diperluas. Satelit juga mendukung ketahanan nasional, konektivitas maritim, dan mitigasi bencana.

Di tingkat global, industri satelit menghadapi tantangan baru. Konstelasi satelit yang semakin banyak, integrasi jaringan satelit dan seluler, ancaman keamanan siber, serta isu keberlanjutan ruang angkasa menjadi fokus utama. Risdianto menilai isu kedaulatan digital kini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. “Yang perlu dijaga adalah bagaimana kita dapat membangun kapasitas nasional yang memadai, baik dari sisi teknologi, regulasi, maupun sumber daya manusia,” ungkapnya.

Ia memprediksi bahwa teknologi AI, cloud, Internet of Things (IoT), fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terhubung dalam satu ekosistem digital terpadu. Kondisi ini membuka peluang baru bagi industri, namun juga menuntut kesiapan infrastruktur, regulasi, talenta, dan investasi yang adaptif.

Isu-isu tersebut menjadi inti pembahasan dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026, yang diselenggarakan oleh ASSI di Fairmont Jakarta pada 12‑13 Mei 2026. Edisi ke‑22 konferensi internasional ini mengangkat tema “The Future of Satellite Ecosystems: Importance of Sovereignty, AI, Innovation and Technological Integration”.

Acara tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, hingga mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik. Di antara peserta, hadir Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Konferensi ini menyoroti pentingnya integrasi teknologi satelit dengan jaringan seluler dan layanan digital lainnya. Diskusi menekankan perlunya kebijakan yang mendukung inovasi sekaligus menjaga kedaulatan digital. Pihak industri menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem satelit nasional.

Dengan latar belakang geografis dan kebutuhan konektivitas yang tinggi, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pemain penting dalam ekosistem satelit di kawasan Asia Pasifik. Kegiatan seperti APSAT 2026 menunjukkan komitmen pemerintah dan industri untuk mengembangkan kapasitas nasional dan menjaga kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global.

Satelit NasionalKedaulatan DigitalKonektivitas 3TTeknologi AIKonferensi SATAP 2026Infrastruktur DigitalRegulasi SatelitEkosistem Satelit

Komentar

Memuat komentar...