Indonesia Tetap Stabil, Fokus Pangan, Energi, Air di Krisis
Gambar atau konten salah?
Indonesia tetap menjadi contoh negara dengan perekonomian yang stabil meski dunia menghadapi gejolak ekonomi dan politik. Pada sesi Board of Advisors Prasasti, Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa kondisi global saat ini adalah salah satu yang terberat dalam sejarah modern, bahkan melampaui krisis sebelumnya.
Namun, situasi tersebut justru menegaskan pentingnya strategi ketahanan yang sudah lama ditekankan pemerintah, khususnya dalam sektor pangan, energi, dan air.
Pada acara Prasasti Luncheon Talk di Ballroom Pullman Jakarta, Hashim menyatakan: “Program utama yang menjadi fokus adalah food security, energy security, dan water security,”.
Di sektor pangan, Indonesia telah mencatat capaian signifikan. Stok beras nasional yang dikelola pemerintah kini mencapai 5 juta ton.
Hashim menambahkan: “Apapun yang terjadi, Indonesia aman untuk satu tahun ini, bahkan mungkin dua tahun,”.
Sementara itu, di sektor energi, Hashim yang juga merupakan adik Presiden Prabowo Subianto mengakui masih ada ketergantungan pada impor. Ia mengungkapkan bahwa diplomasi tingkat tinggi telah menghasilkan pasokan energi yang lebih stabil.
Ia menegaskan: “Kita mendapatkan suplai sekitar 100 juta barrel dari Rusia, dan ini akan mulai dikirim dalam waktu dekat. Kita juga memiliki opsi tambahan hingga sekitar 50 juta barrel,”.
Hashim menilai kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih kuat, didukung oleh surplus neraca perdagangan dan kemandirian pembiayaan. Ia berkata: “Kita memiliki surplus sekitar US$ 27 miliar dan tidak perlu bergantung pada fasilitas pembiayaan eksternal,”.
Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana, menegaskan bahwa pemerintah memastikan stabilitas makro tetap terjaga sebagai fondasi utama pertumbuhan. Ia menyoroti disiplin fiskal sebagai prioritas.
Eka mengatakan: “Sampai saat ini tidak ada niat untuk memperlebar defisit. Justru yang kita dorong adalah bagaimana belanja menjadi lebih produktif dan berdaya ungkit bagi ekonomi nasional,”.
Ia menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global, termasuk tekanan geopolitik dan volatilitas pasar keuangan.
Investor mulai melihat adanya perbaikan fundamental yang mendorong optimisme terhadap prospek Indonesia. Managing Partner Ashmore Asset Management Indonesia, Arief Wana, menekankan pertumbuhan sebagai pertimbangan utama dalam keputusan investasi.
Arief menyebut: “Dalam enam bulan terakhir, trajectory dari growth itu sudah membaik. Money supply meningkat, interest rate turun, bond yield juga sudah turun, bond price naik, dan equity juga membaik,”.
Dari sisi valuasi, Indonesia dinilai relatif menarik dibandingkan negara lain di kawasan. Dengan rasio price-to-earnings (PER) yang lebih rendah, pasar domestik masih memiliki ruang kenaikan.
Namun, investor tetap mencermati risiko, terutama terkait keberlanjutan pertumbuhan dan dinamika eksternal. Arief memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan pada 2026 akan lebih moderat dibandingkan proyeksi awal.
Pada 23 April 2026, pernyataan Hashim dan Eka menegaskan bahwa Indonesia berada di posisi yang kuat, dengan kebijakan fiskal yang disiplin dan strategi ketahanan yang teruji. Investor melihat peluang, namun tetap berhati-hati terhadap risiko eksternal.
Secara keseluruhan, Indonesia menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid, didukung oleh cadangan pangan, pasokan energi, dan surplus perdagangan. Kebijakan fiskal tetap terjaga, sementara investor menilai pasar domestik masih menarik meski risiko tetap ada.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Menteri Keuangan: Rupiah Menurun, BI Jaga Stabilitas
Dolar AS Kuat, Rupiah Tertekan ke Rp18.000 per Unit Jumat
Purbaya: Outlook Negatif Danantara Sesuai Peringkat
Kebakaran Rumah di Musim Kemarau, Asuransi Zurich Lindungi
Doni Akbar Tekankan Data Akurat dan Modernisasi Rel Kereta
Rupiah Rp18.000/dolar, Siapkan Barter Filipina Indonesia
