Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan, Siap Tangani Kasus Ebola
Gambar atau konten salah?
Surabaya – Setelah lonjakan kasus hantavirus, perhatian global kembali tertuju pada wabah ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Meskipun Indonesia belum mencatat kasus ebola, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetap meningkatkan kewaspadaan.
Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Octavianus, menekankan pentingnya surveillance atau pengintaian kasus. “Pokoknya prinsipnya kekuatan kita di surveillance-nya. Makanya surveillance itu betapa pentingnya,” ujarnya kepada wartawan di FK Unair pada 21 Mei 2026.
Menurut Kemenkes, belum ada indikasi ebola di Indonesia. Kabiro Komunikasi dan Informasi Publik, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa penetapan status darurat menandakan perlunya kewaspadaan global. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut diambil karena penyebaran lintas wilayah, tingginya tingkat kematian, dan ketidakpastian tentang luasnya wabah di Afrika Tengah.
Aji juga mengumumkan bahwa kementerian terus memantau situasi global dan memperkuat kewaspadaan lintas sektor. “Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak,” kata beliau dalam edaran yang diterima pada 20 Mei 2026.
Untuk menanggapi potensi masuknya orang yang terinfeksi, Kemenkes akan menyiapkan tenaga kesehatan di lapangan dan meningkatkan skrining bagi pelaku perjalanan. Prosedur rujukan rumah sakit juga sudah disiapkan untuk pasien internasional yang menunjukkan gejala ebola.
Semua laporan dari pintu masuk Indonesia akan dipantau melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Pusat Operasi Darurat Kesehatan (Public Health Emergency Operation Center / PHEOC). Meski pengawasan ditingkatkan, Aji mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu khawatir dan tidak mudah terpengaruh informasi tidak valid atau hoaks di media sosial.
Ebola adalah penyakit infeksi virus dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50%. Saat ini terdapat tiga jenis strain yang sering memicu wabah: Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan Bundibugyo Virus Disease (BVD) yang sedang berkembang di Kongo.
Langkah terbaik bagi masyarakat adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit.
Dengan sistem pengawasan yang terintegrasi dan kewaspadaan yang tinggi, Indonesia berusaha memastikan bahwa ebola tidak menembus perbatasan. Masyarakat tetap disarankan untuk mengikuti petunjuk resmi dan tidak menanggapi rumor sembarangan. Kemenkes menegaskan bahwa kesiapsiagaan ini adalah bagian dari upaya global untuk mengendalikan penyebaran virus berbahaya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
