Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial

Bambang W. · 3 min baca · 1 jam lalu · 31 dibaca
Bisik.id
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial

Gambar atau konten salah?

Seorang influencer di Jakarta menayangkan video yang menampilkan dirinya berpakaian seperti penyandang disabilitas. Konten tersebut tidak hanya menampilkan aksi cosplay, tetapi juga mempromosikan produk kecantikan dari merek ternama. Video‑video ini cepat menyebar di media sosial, memicu reaksi keras dari netizen.

Netizen menilai bahwa video tersebut tidak etis karena mengubah kondisi disabilitas menjadi bahan candaan sekaligus bagian dari personal branding. Salah satu komentar yang sering muncul adalah, "mungkin pengen ngerasain jadi disabilitas," tulis salah satu netizen. Sementara yang lain menambahkan, "dan yang endorse dia juga pada stres. kok bisa marketing ke KOL yang konten bullying diskriminasi buat teman-teman disabilitas dan dibuat katanya becandaan? gak waras," timpal netizen lain.

Reaksi ini menarik perhatian dr Adam Prabata, seorang dokter yang rutin membagikan edukasi kesehatan dan ulasan jurnal ilmiah di media sosial. Ia menilai bahwa candaan yang menjadikan disabilitas sebagai objek hiburan bukan sekadar persoalan sensitivitas, tetapi berpotensi berdampak pada kesehatan mental penyandang disabilitas. "Konten seperti ini bisa memperkuat stigma sosial yang sudah lama dihadapi teman-teman disabilitas," ujar dr Adam kepada media sosial, Kamis, 04 Juni 2026.

Dr Adam menjelaskan bahwa fenomena ini terkait dengan konsep ableism, yaitu diskriminasi atau prasangka terhadap penyandang disabilitas yang menganggap kondisi fisik atau mental tertentu lebih “normal” atau lebih bernilai dibandingkan kondisi disabilitas. Menurut kajian yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health (NIH), ableism sering kali berbahaya karena dianggap sebagai sesuatu yang “wajar” atau common sense. Dalam dunia kesehatan, pandangan seperti ini dapat membuat penyandang disabilitas dipersepsikan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah hanya karena membutuhkan alat bantu seperti kursi roda, ventilator, atau selang makan.

Menurut penelitian tersebut, ableism yang mengakar di masyarakat dapat meningkatkan kerentanan penyandang disabilitas terhadap berbagai bentuk diskriminasi sosial maupun psikologis. Oleh karena itu, para peneliti menekankan pentingnya memahami pengalaman hidup penyandang disabilitas secara langsung untuk mengurangi stigma dan stereotip negatif. Dr Adam menambahkan, "Penyandang disabilitas yang terus-menerus melihat representasi negatif seperti ini berisiko mengalami kecemasan, penurunan harga diri, hingga gejala depresi," jelasnya.

Hal ini juga didukung oleh penelitian tahun 2024 yang dipublikasikan di Journal of Media Psychology. Studi tersebut menemukan bahwa humor mengenai disabilitas dapat memperkuat stereotip negatif, menurunkan empati penonton terhadap kelompok disabilitas, serta memicu tekanan emosional bagi penyandang disabilitas yang menjadi sasaran candaan. "Meskipun pembuat konten mengklaim hanya bercanda, korban sering mengalami ejekan, cyberbullying, dan self-censorship, karena takut diejek lebih lanjut. Cukup, semoga tidak ada lagi humor-humor seperti ini," tegasnya.

Belakangan, pemilik akun yang viral tersebut mengirimkan permintaan maaf. Ia mengaku menyesali konten yang dibuat dan berjanji tidak akan kembali membuat video serupa di masa mendatang. Menurut para ahli, kasus ini menjadi pengingat bahwa disabilitas bukanlah bahan hiburan. Edukasi publik mengenai ableism dan dampaknya dinilai penting agar media sosial menjadi ruang yang lebih inklusif dan aman bagi semua kelompok masyarakat.

Dalam konteks ini, penting bagi pengguna media sosial untuk menyadari bahwa representasi negatif dapat memengaruhi persepsi dan perasaan penyandang disabilitas. Kesadaran akan hal tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang menghormati keberagaman dan mengurangi diskriminasi. Dengan demikian, peran edukasi dan tanggung jawab pribadi menjadi kunci dalam mencegah penyebaran konten yang menyinggung atau merugikan kelompok tertentu.

influencerdisabilitasableismmedia sosialstigmakesehatan mental

Komentar

Memuat komentar...