Investasi Indonesia Mencapai Rp498,8 Triliun, 7,2% Naik
Gambar atau konten salah?
Realisasi investasi pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pada tiga bulan pertama tahun ini, nilai investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp 498,8 triliun.
Menurut data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), secara tahunan realisasi investasi tumbuh 7,2 % jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini setara 24,4 % dari target investasi sepanjang 2026 yang sebesar Rp 2.004,1 triliun.
Distribusi sumber investasi menampilkan keseimbangan antara penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Pada kuartal pertama 2026, PMA tercatat sebesar Rp 250 triliun atau 50,1 %, sedikit lebih tinggi dibandingkan PMDN yang mencapai Rp 248,8 triliun atau 49,9 %.
Investasi tiga bulan pertama tahun ini juga mulai menunjukkan pemerataan geografis. Investasi di luar Jawa mencapai Rp 251,3 triliun atau 50,4 %, sedikit lebih besar dibandingkan di Pulau Jawa yang sebesar Rp 247,5 triliun.
Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar dan barang logam masih mendominasi dengan nilai Rp 69,4 triliun. Sektor jasa lainnya menyusul dengan nilai Rp 64,2 triliun. Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran tercatat Rp 48,4 triliun. Sektor transportasi dan pergudangan mencatat Rp 45,4 triliun.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan ini merupakan capaian yang cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama dari investasi dalam negeri atau PMDN.
Memang investasi ini, kalau lihat dari investasi pembelian barang modal baik pemerintah maupun juga swasta memang mengalami peningkatan. Kalau klasifikasinya banyak yang PMDN. Investasi yang dalam negeri terutama, dan tren itu sudah mulai dari 2025. PMA itu sebetulnya lebih terbatas minatnya walaupun masih ada penambahan investasi asing untuk yang sektor-sektor terkait hilirisasi, tapi pada umumnya kalau yang PMA itu agak terbatas, tapi yang PMDN ini memang naik, kata Faisal kepada detikcom, Sabtu (2/5/2026).
Ia berpendapat bahwa pertumbuhan realisasi PMDN didorong oleh pelaksanaan program-program Presiden Prabowo Subianto. Kondisi ini terlihat dari tingginya investasi pada sektor properti (perumahan, kawasan industri, dan perkantoran) dan pembelian mesin.
Dugaan saya ada memang di-trigger dari program prioritas pemerintah, MBG, lalu Koperasi Desa Merah Putih. Jadi, kalau kita melihat di sini makanya yang tinggi itu juga adalah investasi di pembangunan, ya selain juga mesin, terang Faisal.
Data ini menegaskan bahwa investasi dalam negeri terus tumbuh, sementara minat pada PMA tetap terbatas. Program pemerintah dan inisiatif pembangunan daerah berperan penting dalam mendorong investasi, sehingga target 2026 dapat dicapai secara bertahap.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Produksi Minyak Nasional 576k BOPD, Masih Di Bawah Target
BBM Subsidi Tetap Stabil, Harga Tidak Naik Meski Minyak Naik
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Perpanjang ke Bekasi, Tangerang: 48 Stasiun, 600k Penumpang
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
