Iran Tetapkan Biaya Tol Selat Hormuz untuk Kapal di Iran
Gambar atau konten salah?
Selat Hormuz menjadi jalur maritim penting yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas global. Iran, yang menempatkan blokade de facto di selat ini, menegaskan posisi geopolitik sebagai alat tawar-menawar dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Hampir 2.000 kapal terdampar di sekitar selat, yang terletak antara Iran di sisi utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di sisi selatan. Situasi ini menyoroti betapa kritisnya jalur tersebut bagi perdagangan maritim dunia.
Pada 29 Maret 2026, media Iran melaporkan bahwa parlemen sedang membahas undang-undang yang akan mengenakan biaya bagi kapal yang ingin melewati Selat Hormuz. Komite Urusan Sipil Parlemen mengaku bahwa rancangan undang-undang telah disiapkan dan akan segera diselesaikan oleh tim hukum Majelis Permusyawaratan Islam.
“Menurut rencana ini, Iran harus memungut biaya untuk memastikan keamanan kapal yang melewati Selat Hormuz,” kata seorang pejabat, seperti dikutip. “Ini sepenuhnya wajar. Sama seperti di koridor lain, ketika barang melewati suatu negara, bea masuk dibayarkan. Selat Hormuz juga merupakan koridor. Kami memastikan keamanannya, dan wajar jika kapal dan tanker membayar bea masuk kepada kami,” tambahnya.
Meskipun biaya tol tersebut baru dibahas di parlemen, kenyataannya sudah ada sistem pos tol yang diterapkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Jurnal pelayaran Lloyd's List pada hari Rabu melaporkan bahwa IRGC telah memberlakukan sistem pos tol untuk mengontrol lalu lintas kapal melalui selat tersebut beberapa waktu ini.
Dalam dua minggu terakhir, dilaporkan 26 kapal yang melintasi selat telah mengikuti rute yang telah disetujui sebelumnya di bawah sistem 'pos tol' IRGC. Kapal-kapal ini tidak mengaktifkan sistem persinyalan AIS mereka, menandakan bahwa mereka mengikuti prosedur verifikasi yang ditetapkan.
Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, sempat mengatakan kepada saluran televisi Iran International bahwa negaranya telah mengenakan biaya kepada beberapa kapal sebesar US$ 2 juta atau sekitar Rp 33,8 miliar (kurs Rp 16.900) untuk melewati selat tersebut. “Sekarang, karena perang memiliki biaya, tentu saja, kita harus melakukan ini dan memungut biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz,” kata Boroujerdi.
Iran telah mendeklarasikan Selat Hormuz terbuka untuk semua pihak, kecuali AS dan sekutunya. Dalam surat yang dikirim kepada 176 anggota Organisasi Maritim Internasional (IMO), Iran menyatakan bahwa kapal-kapal non-musuh memperoleh manfaat dari jalur aman melalui Selat Hormuz dengan berkoordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang.
“Kapal non musuh yang dimaksud adalah yang dimiliki atau terkait dengan negara selain AS dan sekutunya, mereka juga tidak berpartisipasi atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan sepenuhnya mematuhi peraturan keselamatan dan keamanan yang dinyatakan,” jelas pejabat tersebut.
Setelah pembicaraan dengan negara-negara sahabat, seperti Malaysia, China, Mesir, Korea Selatan, dan India, beberapa kapal diizinkan untuk melewati selat tersebut. Menurut laporan Lloyd's, setidaknya dua kapal yang telah melintasi selat tersebut sejauh ini telah membayar biaya tol dalam yuan, mata uang China.
Dilaporkan juga bahwa setiap transit dimediasi oleh perusahaan jasa maritim China yang bertindak sebagai perantara, yang juga menangani pembayaran kepada otoritas Iran. Namun menurut pemerintah India, pihaknya belum melakukan pembayaran apa pun kepada Iran untuk mengamankan jalur aman kapal-kapal India melalui selat tersebut.
“Tidak diperlukan izin untuk berlayar melalui selat tersebut. Ada kebebasan navigasi melalui selat tersebut. Karena selatnya sempit, hanya jalur masuk dan keluar yang ditandai, yang harus diikuti oleh perusahaan pelayaran. Keputusan untuk berlayar atau tidak berlayar sepenuhnya berada di tangan penyewa kapal dan perusahaan pelayaran,” kata Rajesh Kumar Sinha, Sekretaris Khusus Kementerian Pelabuhan, Pelayaran, dan Perairan India, pada hari Selasa.
Sinha juga menambahkan bahwa dua kapal yang membawa lebih dari 92.600 ton gas minyak cair berbendera India telah transit dan dijadwalkan tiba di anak benua tersebut antara hari Kamis dan Sabtu.
Situasi ini menyoroti ketegangan antara kebutuhan keamanan maritim dan kepentingan ekonomi global. Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial di mana kebijakan politik dan praktik maritim saling berinteraksi, mempengaruhi aliran energi dunia dan dinamika hubungan internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Produksi Minyak Nasional 576k BOPD, Masih Di Bawah Target
BBM Subsidi Tetap Stabil, Harga Tidak Naik Meski Minyak Naik
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
Berita Terbaru
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Tren Strava Fridge: Minuman di Kulkas Minimarket Jadi Viral
Trump Lakukan Tiga Pemeriksaan Medis di Walter Reed
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Martinez: Pensiun Bila Argentina Raih Gelar Dunia Kedua
UB SNBT 2026: 5.842 Lolos dari 82.613 Pilihan, Ketat
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
