Iran Tutup Semua Kelas Tatap Muka, Pindah ke Online dan TV

Nurul H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Iran Tutup Semua Kelas Tatap Muka, Pindah ke Online dan TV

Gambar atau konten salah?

Di tengah konflik yang semakin meluas, Kementerian Pendidikan Iran mengumumkan penghentian semua kelas tatap muka di seluruh negeri. Menteri menegaskan bahwa sejak 21 April 2026, semua pelajaran akan berlangsung secara daring melalui platform khusus dan program televisi negara. “Hingga pemberitahuan lebih lanjut, tidak akan ada kelas tatap muka di sekolah‑sekolah di seluruh negeri. Mulai 21 April, kelas akan diadakan secara daring melalui platform khusus dan program televisi negara 'Iran TV School',” kata kementerian, sebagaimana dilaporkan oleh Deutsche Welle (DW) pada 23 April 2026 dan dikutip ulang pada 24 April 2026.

Keputusan ini diambil setelah gencatan senjata yang rapuh berakhir, meninggalkan negara dalam situasi ketidakpastian. Semua jenis sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas, terpaksa beradaptasi dengan sistem belajar baru ini.

Walaupun pembelajaran jarak jauh menjadi solusi utama, kementerian menyoroti hambatan besar yang masih mengintai. Banyak anak tidak memiliki perangkat seperti laptop atau ponsel pintar, dan akses internet sering terputus. Akibatnya, mereka berisiko tertinggal dalam proses pendidikan.

Selain masalah digital, kerusakan fisik pada fasilitas pendidikan juga menjadi beban. Menurut laporan, lebih dari 640 bangunan pendidikan di 17 provinsi mengalami kerusakan akibat serangan udara AS dan Israel. Sekitar 250 di antaranya mengalami kerusakan parah dan memerlukan renovasi total. Sedikitnya 15 sekolah dilaporkan hancur total, sehingga harus dibangun kembali dari awal.

Peralihan ke jaringan intranet nasional membawa tantangan tersendiri. Pakar keamanan siber dari Miaan Group, Amir Rashidi, menjelaskan bahwa otoritas setempat telah merancang sistem intranet terpisah dari internet global untuk kendali digital yang komprehensif. “Masalahnya adalah di beberapa wilayah, seperti Sistan dan Baluchistan, hampir tidak ada koneksi internet karena kurangnya infrastruktur. Sementara, sebagian besar masyarakat mengakses internet melalui HP,” jelas Rashidi.

Ketimpangan digital semakin nyata bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Di wilayah-wilayah tertinggal, ketersediaan perangkat seperti smartphone dan laptop sangat terbatas, sehingga pembelajaran jarak jauh yang kini bergantung pada jaringan nasional menjadi sulit.

Untuk mengatasi keterbatasan akses internet, pemerintah mengalihkan metode pembelajaran melalui program TV “Iran TV School”. Program ini menyiarkan mata pelajaran inti, seperti matematika untuk kelas 7 hingga 9 pada pukul 14.00, serta fisika bagi siswa kelas 12 pada pukul 18.00. Langkah ini diambil sebagai upaya darurat agar siswa yang tidak memiliki perangkat digital atau koneksi internet tetap dapat mengikuti kurikulum.

Di tingkat parlemen, diskusi mengenai perluasan jaringan informasi nasional terus digodok. Alireza Manadi Sefidan, Ketua Komite Pendidikan dan Riset Parlemen, menyerukan perlunya investasi tambahan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran jarak jauh secara nasional.

Upaya ini diharapkan dapat memperkuat infrastruktur publik di tengah pembatasan akses dunia luar yang masih berlangsung. Dengan memanfaatkan TV dan jaringan intranet, pemerintah berusaha menjaga kelangsungan pendidikan meski kondisi fisik dan digital tetap menantang.

Perubahan sistem belajar ini menyoroti betapa rapuhnya infrastruktur pendidikan di tengah konflik. Keterbatasan perangkat, akses internet, dan kerusakan fisik menambah beban bagi siswa dan pendidik. Meski demikian, langkah darurat melalui TV dan intranet menunjukkan upaya pemerintah untuk tetap menyediakan pendidikan bagi seluruh anak di negara tersebut.

pendidikan daring Irankonflik Iranintranet nasionalakses internet terbataskerusakan bangunan sekolahIran TV Schoolinfrastruktur pendidikan

Komentar

Memuat komentar...