ITS Rilis Biogasoline Sawit, Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Jaka M. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
ITS Rilis Biogasoline Sawit, Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Gambar atau konten salah?

Di tengah ancaman krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit. Produk ini, yang dinamakan biogasoline atau Benwit, diklaim menjadi solusi kemandirian energi nasional sekaligus ramah lingkungan.

“Jadi ini momentum yang kita bisa sampaikan dan semoga saja bisa membantu dalam menyelesaikan krisis energi. Salah satunya adalah dengan adanya bahan bakar Benwit, bensin dari sawit,” kata Rektor ITS Prof Bambang Pramujati kepada wartawan, Rabu (08 April 2026).

Pengembangan Benwit didorong oleh tingginya emisi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, sumber utama gas rumah kaca seperti CO₂, NO, dan SO₂. Dalam upaya mengurangi dampak tersebut, ITS memanfaatkan potensi besar Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar.

Produksi minyak sawit nasional mencapai 56 juta ton, dengan ekspor sekitar 26,33 juta ton. Prosesnya dimulai dengan mengolah tandan buah segar kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) dan refined bleached deodorized palm oil (RBDPO). Kedua bahan ini kemudian dimodifikasi melalui metode catalytic cracking untuk menghasilkan biogasoline.

Dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS Hosta Ardhyananta menjelaskan, teknik catalytic cracking berfungsi memecah molekul besar menjadi lebih kecil menggunakan katalis. Awalnya, proses ini menggunakan katalis berbasis alumina (γ‑Al₂O₃) yang berperan sebagai “gunting molekuler” untuk memecah trigliserida dalam CPO menjadi hidrokarbon ringan.

Namun metode tersebut masih membutuhkan suhu tinggi hingga 420 derajat Celsius dengan tingkat konversi sekitar 60 persen. Pengembangan berikutnya menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) yang bekerja lebih efisien. Kombinasi ini mampu menurunkan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta meningkatkan rendemen biogasoline hingga 83 persen.

Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11, komponen utama bensin komersial. Selain itu, hasil samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor. “Sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi yang minim limbah,” kata Hosta. Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor.

Riset ini juga memperhitungkan aspek keberlanjutan melalui life cycle assessment (LCA). Hasilnya menunjukkan jejak karbon produksi biogasoline dari CPO tergolong sangat rendah. Pengembangan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau serta poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Teknologi Benwit saat ini telah diimplementasikan pada mesin-mesin pertanian yang dinilai lebih fleksibel untuk penggunaan bahan bakar alternatif. “Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif,” ujarnya.

Ke depan, ITS menargetkan inovasi ini dapat diperluas dengan kapasitas produksi lebih besar agar mampu menjawab ancaman krisis energi nasional sekaligus mendukung penanganan perubahan iklim. “Diharapkan dapat menjawab ancaman krisis energi di Indonesia. Hal tersebut juga turut menjawab SDGs poin ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim,” harapnya.

Dengan menggabungkan potensi sawit, teknologi katalitik canggih, dan komitmen terhadap keberlanjutan, Benwit menandai langkah kecil namun penting bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan energi dan lingkungan. Keterlibatan akademisi, industri, dan petani menunjukkan bahwa solusi lokal dapat berkontribusi pada tujuan global tanpa mengorbankan sumber daya alam yang ada.

biogasolineBenwitkelapa sawitenergi bersihkatalis bimetalikkrisis energiSDGs

Komentar

Memuat komentar...