Jakarta Siap Hadapi Banjir Rob dengan Tanggul Laut Raksasa
Gambar atau konten salah?
The Great Sea Wall Jakarta adalah proyek besar yang dirancang untuk melindungi ibu kota Indonesia dari ancaman banjir rob dan kenaikan permukaan air laut. Proyek ini merupakan bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), sebuah inisiatif terpadu yang menggabungkan berbagai upaya mitigasi bencana di wilayah pesisir Jakarta.
Jaraknya mencapai 32 kilometer dan terletak di pesisir Jakarta Utara. Tanggul ini tidak hanya menahan air laut, tetapi juga mencegah intrusi air asin ke daratan serta melindungi kawasan permukiman yang berada di bawah permukaan laut. Dengan menahan air, tanggul ini membantu menjaga kestabilan tanah dan menurunkan risiko kerusakan infrastruktur.
Keadaan ini semakin mendesak. Data dari World Economic Forum (WEF) tahun 2024 menunjukkan bahwa permukaan tanah di Jakarta menurun rata-rata hingga 17 sentimeter per tahun. Penurunan ini membuat Jakarta menjadi salah satu kota paling rentan terhadap risiko tenggelam di dunia. Oleh karena itu, keberadaan The Great Sea Wall Jakarta diharapkan dapat meningkatkan ketahanan ibu kota terhadap ancaman perubahan iklim sekaligus menjadi solusi jangka panjang dalam pengelolaan wilayah pesisir.
Jakarta bukan satu-satunya kota yang menghadapi tantangan serupa. Beberapa negara di dunia telah membangun tanggul laut raksasa sebagai bentuk perlindungan terhadap erosi pantai dan banjir rob. Infrastruktur ini terbukti penting dalam menjaga wilayah pesisir dari ancaman bencana yang semakin meningkat. Berikut beberapa contoh negara yang telah menerapkan sistem giant sea wall:
-
Korea Selatan – Proyek Saemangeum Seawall menjadi tanggul laut terpanjang di dunia dengan panjang 33,9 kilometer, membentang di pesisir barat negara tersebut. Tanggul ini tidak hanya bertujuan menahan air laut, tetapi juga menjadi bagian dari proyek reklamasi besar. Melalui Saemangeum Seawall, pemerintah Korea Selatan berhasil menciptakan lahan baru yang dimanfaatkan untuk sektor pertanian, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Selain itu, kawasan di sekitar tanggul dikembangkan menjadi pusat industri dan pariwisata. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan pesisir, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
-
Belanda – Negara yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut memiliki sistem pengelolaan air yang sangat maju. Salah satu proyek paling monumental adalah Delta Works, sistem perlindungan pesisir yang terdiri dari bendungan, pintu air, dan tanggul laut modern. Proyek ini dibangun sebagai respons atas bencana banjir besar pada tahun 1953 yang menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerusakan luas. Sejak saat itu, Belanda berkomitmen memperkuat pertahanan terhadap ancaman air laut melalui teknologi dan rekayasa infrastruktur. Kini, Delta Works menjadi salah satu sistem perlindungan banjir paling canggih di dunia. Keberadaannya mampu melindungi wilayah pesisir Belanda dari ancaman badai, gelombang tinggi, serta kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim.
-
Italia – Italia juga memiliki sistem tanggul laut modern yang dikenal dengan nama MOSE Project. Proyek ini dirancang khusus untuk melindungi Kota Venesia dari ancaman banjir yang kerap terjadi akibat pasang air laut. MOSE terdiri dari serangkaian pintu air raksasa yang dapat dinaikkan saat permukaan air laut meningkat. Sistem ini bekerja dengan cara menutup akses air laut ke laguna Venesia ketika terjadi pasang ekstrem, sehingga mencegah genangan di kawasan kota. Proyek ini mulai diuji coba pada tahun 2020 dan menjadi salah satu upaya besar Italia dalam menjaga kota bersejarah tersebut. Dengan adanya MOSE, Venesia diharapkan dapat lebih tahan terhadap fenomena acqua alta, yaitu banjir musiman yang selama ini menjadi ancaman utama bagi kota tersebut.
Keempat proyek di atas menunjukkan bahwa pembangunan tanggul laut bukan sekadar pertahanan fisik, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk mengelola risiko perubahan iklim. Setiap negara menyesuaikan desain dan fungsi tanggul sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan lokal. Di Jakarta, The Great Sea Wall akan menjadi komponen penting dalam sistem perlindungan terpadu, berkolaborasi dengan upaya lain seperti pengelolaan drainase, pemulihan mangrove, dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Dengan penurunan permukaan tanah yang terus berlanjut dan potensi kenaikan air laut yang semakin nyata, investasi dalam infrastruktur pertahanan pesisir menjadi langkah kritis. The Great Sea Wall Jakarta, bersama proyek-proyek sejenis di dunia, menegaskan bahwa upaya mitigasi bencana harus bersifat holistik, melibatkan teknologi, kebijakan, dan partisipasi publik. Melalui pendekatan terpadu ini, kota-kota pesisir dapat lebih siap menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Porong Lama: Keramaian Mati Akibat Lumpur Lapindo Sidoarjo
Konflik Gebby Vesta & Sopir Taksi Di Bali Berakhir Damai
Ayo ke Taman Nasional Luncurkan Aplikasi E‑Ticketing 93%
Bandung Minta Status Darurat Sampah, Proses Belum Disetujui
Indofest 2026: 80 Brand Outdoor di JCC, Target Rp60 Miliar
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Berita Terbaru
Rumor Nafkah Anak Rp500 Ribu Ditolak, Tuntutan Rp25 Juta
Surabaya Cerah Hari Ini, Suhu 26‑32°C, Waspada Panas
Herdman Pilih Ferarri Meski Cakupan Ringan Berdasarkan Profil
5 Juni 2026: Hari Baik untuk Kegiatan Adat dan Ritual Bali
Piala Dunia 2026: 48 Tim, 3 Tuan Rumah, Estadio Azteca
Sabar & Reza Raih Perempatfinal Indonesia Open di Istora
Jadwal Sholat Surabaya 5 Juni 2026: Mulai Imsak 04.05 WIB
Jonatan Christie Batalkan Alwi Farhan, Raih Papan Indonesia
Jadwal Salat Denpasar 05 Juni 2026: Subuh, Zuhur, Asar
Jakarta Menang di Short Course, Ade Jona Cita Olimpiade
