Joko Susanto Berjualan Bobo di Lampu Merah Surabaya

Yuli S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Joko Susanto Berjualan Bobo di Lampu Merah Surabaya

Gambar atau konten salah?

Joko Susanto (56) menatap senyum lebar ketika seorang anak menyeruput majalah Bobo dari tangannya. Di tengah transisi ke dunia digital, ia tetap menjajakan lembaran nostalgia masa kecil. Setiap pagi pukul 05.30-07.00 WIB dan sore pukul 17.00-19.00 WIB, pria yang lahir pada tahun 1970 berjualan di lampu merah Jalan Dr. Soetomo. Ia menawarkan Bobo, majalah yang dulu akrab di tangan banyak generasi.

Untuk memudahkan pelanggan, Joko menempelkan secarik kertas berisi identitas dan lokasi dirinya di setiap majalah. Di luar jam berjualan, ia bekerja sebagai juru parkir di Jalan Imam Bonjol 106.

“Tak lihat-lihat aduh nek ngene carane gaiso berkembang (kalau hanya berjualan koran tidak bisa berkembang). Jadi saya coba kalau pagi jualan koran. Nanti jam 7 pagi sampai jam 5 sore aku tak (jaga) parkir di Bubur Ayam Elisabet Koe dan Notaris Agnes Ninik Mutiara Wijaya,” ujar Joko saat ditemui pada Kamis (09 April 2026).

“Tercetus saya harus bikin gini (kertas keterangan yang diselipkan di tiap majalah) biar pelanggan tahu. Tak tulisi nama saya Joko Susanto, saya jual koran dan majalah Bobo, jam segini di sini, dan lain-lain,” tambahnya.

Selama enam bulan terakhir, Joko kembali menjual Bobo setelah sebelumnya menjajakan berbagai jenis koran dan majalah selama puluhan tahun. Di tengah banyaknya media cetak yang tumbang, Bobo masih bertahan. Menurutnya, minat pembeli masih tinggi. Dalam seminggu, ia bisa menjual puluhan hingga ratusan eksemplar.

“Banyak peminatnya, saya jatahnya itu Bobo 70 eksemplar, kadang-kadang sampai 100. Diambil tiap hari Kamis, satu minggu sekali,” tuturnya.

Tak hanya edisi terbaru, edisi lama pun tetap laris. “Alhamdulillah selalu habis, malah yang edisi gini-gini (lama) tak jual, malah laku,” ucapnya.

Mayoritas pembeli adalah anak-anak, namun orang dewasa juga kerap membeli untuk bernostalgia. “Biasanya yang beli mama-mama sama anak-anak. Tapi bapak-bapak kadang-kadang juga suka bilang (ke istrinya), 'Ma beli ae ma, nostalgia,'” kata Joko.

Berjualan di lampu merah tak selalu mudah, terutama saat hujan. Ia harus menepi dan menunggu cuaca membaik. Pernah suatu waktu, hujan turun seharian hingga ia merugi karena koran yang tidak terjual tak bisa dikembalikan ke agen. Meski begitu, ada saja pembeli yang memberi lebih dari harga yang seharusnya. “Kadang-kadang uangnya Rp50.000, harganya cuma Rp20.000, pembeli itu bilang 'sudah pak, buat sampean aja,'” ucap Joko.

Dari tiap majalah, ia hanya mendapat keuntungan sekitar Rp3.000. Namun, ia tetap bersyukur. Joko sudah berjualan sejak kecil untuk membiayai sekolahnya. “1982 saya jualan, dari SD sudah jualan untuk biayai sekolah sendiri. Sampai menikah juga jualan, sampai sekarang jualan koran,” tuturnya.

Dari hasil kerja kerasnya, Joko berhasil membesarkan dua anak hingga sukses di bidang masing-masing. Anak pertamanya menjadi pelatih bulu tangkis dan pernah mengikuti sirkuit nasional hingga melatih ke luar negeri. “Anak saya dua sudah bekerja semua. Yang pertama pelatih bulu tangkis, pernah ikut sirkuit nasional. Pernah melatih sampai ke Malaysia, dengar-dengar ini mau ke Cina juga kalau nggak gitu Singapura,” ujarnya bangga.

Sementara anak keduanya bekerja di perusahaan besar dan aktif dalam kegiatan keagamaan. “Kalau yang nomor dua sekarang kerja di Meratus. Kalau Jumat kadang-kadang jadi imam. Alhamdulillah aktif di kegiatan keagamaan di kampung-kampung,” tambahnya.

Lebih dari 40 tahun Joko berdiri di tepi jalan, menyapa pengendara, dan menawarkan Bobo. Baginya, selama masih ada anak yang membaca dan orang tua yang tersenyum karena nostalgia, ia akan terus berjualan. Ia berharap kebiasaan membaca anak-anak tidak hilang ditelan zaman.

Di Surabaya, kisah seorang penjual majalah yang tetap setia pada produk cetak menegaskan bahwa pasar media tradisional masih ada, meski di tengah arus digital. Joko Susanto menunjukkan bahwa ketekunan, adaptasi sederhana, dan hubungan personal dengan pelanggan dapat menjaga relevansi produk lama di era baru.

Joko SusantoBoboSurabayanostalgiapenjualan koranlampu merahera digital

Komentar

Memuat komentar...