Jumrah Aqabah: Tradisi Lempar Kerikil Haji di 10 Dzulhijah
Gambar atau konten salah?
Setiap orang pernah menghadapi godaan—emosi, ego, atau hal yang menjauhkan dari kebaikan. Dalam ibadah haji, godaan itu diwakili oleh ritual lempar jumrah, yang dimulai dari jumrah aqabah. Selain simbolik, pelaksanaannya juga diatur waktu, tempat, dan konsekuensi jika tidak dilaksanakan.
Jumrah Aqabah adalah jumrah pertama yang harus dilempar pada 10 Dzulhijah. Ia terletak paling dekat dengan Ka'bah, di sisi Mina yang paling jauh. Jumrah ini dibangun dari beton besar yang terbagi menjadi tiga bagian, masing‑masing berbentuk dinding melingkar dengan celah bagi pelempar. Jumlah lemparan yang diwajibkan adalah tujuh kali, menggunakan kerikil berukuran kelereng.
Menurut Wahbah Az‑Zuhaili dalam buku Fiqih Islam wa Adilatuhu, kata jumrah berasal dari “ramyul jimaar” yang berarti melempar batu kecil. Secara syariat, jumrah berarti melempar kerikil pada waktu dan tempat tertentu. Jika pelaksanaan jumrah aqabah tidak dilakukan, haji tetap sah, namun jamaah harus membayar dam berupa penyembelihan kambing.
Pelaksanaan jumrah diatur ketat. Jemaah tidak boleh meninggalkan Mina sebelum melempar jumrah kecuali dengan uzur syar'i, misalnya sakit berat. Dalam fiqih, pembadalan jumrah diperbolehkan, namun tidak mewajibkan jamaah lansia atau risti membayar dam. Pembadalan hanya sah bila pelaku melempar jumrah untuk dirinya terlebih dahulu. Jika seseorang tidak sanggup melontar sendiri karena sakit, tertahan, atau uzur, maka ia boleh meminta orang lain membadalkannya untuk melontar. Tetapi lontaran orang yang membadalkannya tidak sah kecuali setelah ia melontar untuk dirinya sendiri. (Taqiyuddin Al‑Hishni, Kifayatul Akhyar)
Setelah jumrah aqabah, pelaksanaan jumrah berlanjut selama tiga hingga empat hari, yaitu pada 11, 12, 13 Dzulhijah (hari tasyrik). Pada 10 Dzulhijah hanya ada jumrah aqabah, sedangkan pada hari tasyrik ada tiga jumrah: ujra, wustha, dan aqabah. Masing‑masing jumrah dilempar tujuh kali, sehingga total 21 lemparan per hari. Jumlah ini diyakini melambangkan pengusiran tiga godaan setan yang dialami Nabi Ibrahim ketika hendak menyembelih putranya, Ismail.
Menurut cerita, ketika Ibrahim berjalan dari Arafah menuju Mina, Iblis muncul tiga kali di tempat berbeda. Pada jumrah aqabah, Ibrahim melempar tujuh kerikil untuk menolak godaan. Iblis muncul lagi di jumrah wustha, dan Ibrahim sekali lagi melempar tujuh kerikil. Akhirnya, di jumrah sughra, Iblis datang sekali lagi, namun Ibrahim menolak dengan tujuh lemparan kerikil. Setelah itu, Iblis tidak lagi muncul.
Urutan lemparan jumrah penting agar ibadah haji tetap sah dan tertib. Berikut urutan yang harus diikuti:
- Jumrah Aqabah – Pada 10 Dzulhijah, lempar tujuh kali. Waktu terbaik adalah pada Duha, sekitar pukul 8–10. Bacaan yang biasa dipanjatkan: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا (Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar kabiira). Tambahan doa: اللّهُمَّ اجْعَلْ حَجَى مَبْرُورًا (Allahumma ij'al hajjan mabruura).
- Jumrah Sughra, Wustha, dan Aqabah – Dilakukan pada 11, 12, 13 Dzulhijah secara berurutan. Setelah sholat Zuhur, lempar ujra, wustha, dan kubra masing‑masing tujuh kali. Pada 12 Dzulhijah, jika sempat kembali ke Makkah sebelum Maghrib, dianjurkan (nafar awwal). Pada 13 Dzulhijah, setelah selesai lempar, kembali ke Makkah (nafar tsani). Jarak antara jumrah aqabah dan wustha adalah 117 meter, antara wustha dan ujra 156 meter.
Doa yang sering dipanjatkan saat lempar jumrah juga memiliki makna mendalam. Berikut dua doa utama:
- Doa ketika melempar jumrah: Bismillahi wallahu akbar, rajman lusysyayaathiini wa ridhan lirrahmaani. Allahummaj'al hajjan mabruuran wa sa'yan masykuuran – “Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar. Laknat bagi setan dan keridhaan bagi Allah yang Maha Kasih. Ya Allah, jadikanlah hajiku ini diterima (mabrur) dan sa'iku ini disyukuri.”
- Doa setelah melempar jumrah: Allahummaj'alhu hajjan mabruuron wa dzanban maghfuuron – “Ya Allah jadikanlah (melempar jumrah ini) sebagai sarana untuk meraih haji mabrur dan dosa yang terampuni.” (HR Ahmad)
Bagaimana cara melempar jumrah secara teknis? Berikut langkah-langkahnya, berdasarkan Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah Agus Arifin:
- Gunakan kerikil, ukuran kira‑kira ruas jari kelingking. Kerikil harus baru jika mengikuti mazhab Hambali dan Maliki; mazhab Hanafi dan Syafi'i mengizinkan kerikil bekas.
- Satu kerikil untuk satu lemparan. Jika tujuh kerikil dilempar sekaligus, tetap dihitung satu lemparan.
- Lempar dengan tangan, tidak menggunakan alat pelontar.
- Setiap lemparan diikuti dengan takbir.
- Ikuti urutan yang benar sesuai tuntunan syariat.
Setiap langkah ini mencerminkan ketundukan hamba kepada perintah Tuhan, sesuai contoh Rasulullah SAW. Praktik ini tidak hanya ritual, tetapi juga pengingat akan pentingnya menolak godaan dan tetap setia pada perintah Allah.
Jumrah aqabah dan jumrah-jumrah berikutnya membentuk rangkaian ibadah yang simbolis dan terstruktur. Melalui tujuh lemparan kerikil, jemaah menandai keberanian Nabi Ibrahim dalam menolak setan. Dengan mengikuti urutan dan doa yang tepat, haji menjadi lebih bermakna dan sah secara syariat.
Praktik ini menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan spiritual. Setiap lemparan kerikil menjadi pernyataan tekad untuk menolak godaan dan memegang teguh iman. Dengan demikian, jumrah menjadi bagian penting dalam meneguhkan hubungan hamba dengan Sang Pencipta.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
