Jungkook Terapkan OMAD: Diet Satu Makan, Risiko Tinggi

Surya B. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 58 dibaca
Bisik.id
Jungkook Terapkan OMAD: Diet Satu Makan, Risiko Tinggi

Gambar atau konten salah?

Pada 25 Maret 2024, Jungkook, anggota termuda dari boy group BTS, mengungkapkan bahwa ia menjalani pola diet yang dikenal sebagai OMAD atau One Meal A Day. Diet ini menjadi sorotan karena ia melakukannya bersamaan dengan rutinitas olahraga intens.

Metode OMAD adalah bentuk ekstrem dari puasa intermiten. Dalam satu hari, semua kalori yang dibutuhkan tubuh dikonsumsi dalam satu kali makan, biasanya dalam jangka waktu sekitar satu jam. Sisanya, yakni 23 jam, dihabiskan dengan puasa.

Menurut beberapa penelitian, pola ini dapat membantu menurunkan berat badan, meningkatkan metabolisme lemak, dan memperbaiki sensitivitas insulin. Selain itu, membatasi waktu makan juga dapat mengurangi kebiasaan ngemil dan membantu mengontrol asupan kalori harian.

Namun, para ahli menekankan bahwa manfaat tersebut tidak dapat dicapai tanpa kondisi tertentu, seperti pengawasan medis dan rutinitas olahraga teratur. Bahkan, meski dapat membantu pengendalian berat badan, diet ini dinilai sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Beberapa studi menunjukkan bahwa program diet ekstrem seperti OMAD memiliki tingkat keberlanjutan yang rendah. Di sisi lain, risiko dari diet ini juga perlu diperhatikan. Mengonsumsi seluruh kebutuhan nutrisi dalam satu kali makan dinilai cukup sulit secara fisiologis.

Tubuh sebenarnya membutuhkan asupan energi yang stabil sepanjang hari, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas tinggi. Tanpa asupan yang cukup dan terdistribusi, seseorang bisa mengalami kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga performa fisik menurun.

Efek samping lain yang mungkin muncul, antara lain kembung, gangguan penyerapan nutrisi, serta lonjakan dan penurunan kadar gula darah secara drastis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu defisiensi nutrisi, kehilangan massa otot, hingga perlambatan metabolisme.

Beberapa gejala seperti pusing, sakit kepala, gangguan tidur, dan kelelahan juga bisa terjadi saat tubuh tidak mampu beradaptasi dengan pola makan ini. Pada perempuan, diet ekstrem ini juga berpotensi memengaruhi keseimbangan hormon, termasuk menyebabkan gangguan siklus menstruasi.

Hal ini menunjukkan bahwa dampak OMAD tidak hanya terbatas pada energi tubuh, tetapi juga sistem biologis lainnya. Para ahli juga mengingatkan bahwa diet ini tidak bisa dilakukan sembarangan orang. Gaya hidup, kebutuhan energi, hingga pengawasan medis yang dimiliki selebritas tentu berbeda. Oleh karena itu, mengikuti tren diet tanpa pertimbangan yang matang justru berisiko bagi kesehatan.

Sebagai alternatif, pola makan seimbang dengan asupan protein, biji-bijian utuh, buah, dan sayuran tetap menjadi pilihan yang lebih aman. Metode puasa yang lebih ringan, seperti intermittent fasting dengan durasi 12‑14 jam, juga dianggap lebih realistis untuk dijalani. Pada akhirnya, pola makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh masing-masing, bukan sekadar mengikuti tren.

Kesimpulannya, meski OMAD menawarkan beberapa manfaat, risiko dan tantangan jangka panjang membuatnya tidak cocok bagi semua orang. Pilihan yang lebih aman adalah menjaga pola makan seimbang dan memilih puasa yang tidak terlalu ekstrem.

JungkookBTSOMADpuasa intermitendiet ekstremrisiko kesehatanpola makan seimbang

Komentar

Memuat komentar...