Kampung Kapitan: Peninggalan Tionghoa Menarik Lebaran Penuh Pengunjung

Hari W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Kampung Kapitan: Peninggalan Tionghoa Menarik Lebaran Penuh Pengunjung

Gambar atau konten salah?

Kampung Kapitan, yang terletak di Jalan KH Abdullah Azhari, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan, adalah pemukiman etnis Tionghoa tertua di kota tersebut. Sejak sekitar tahun 1644, kawasan ini berdiri di tepi Sungai Musi, menjadi saksi sejarah panjang komunitas Tionghoa di Palembang.

Selama momen Idul Fitri, kunjungan ke kawasan ini meningkat secara signifikan, berbeda dengan hari biasa atau bulan Ramadan yang cenderung sepi. Suriyanto, pemilik generasi ke-14, menjelaskan bahwa jumlah pengunjung saat Lebaran dapat mencapai puluhan orang setiap harinya.

“Kalau Lebaran memang lebih ramai, bisa puluhan pengunjung dalam sehari. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, bahkan ada juga dari luar daerah seperti Jambi dan Bengkulu,” ujarnya.

“Kalau Ramadan sepi, begitu juga hari biasa. Kadang dalam sehari tidak ada pengunjung sama sekali,” katanya.

“Sejauh ini kalau Lebaran, pasti ada saja yang datang setiap hari,” sambungnya.

“Biasanya yang datang itu dari komunitas, organisasi, anak sekolah, sampai wisatawan juga banyak, terutama saat momen liburan seperti Lebaran,” ujarnya.

Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk. Namun, pihak pengelola menyediakan kotak donasi bagi pengunjung yang ingin memberikan sumbangan secara sukarela. “Tidak ada tiket masuk, pengunjung hanya memberikan donasi seikhlasnya saja, kami sudah sediakan kotak donasi,” jelasnya.

“Tidak ada bantuan khusus dari pemerintah untuk perawatan kawasan tersebut, karena Kampung Kapitan belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Untuk perawatan rumah-rumah tua ini, kami lakukan secara mandiri. Tidak ada biaya dari pemerintah karena statusnya belum cagar budaya,” ujarnya.

Pihak keluarga dihadapkan pada pilihan jika kawasan tersebut dijadikan cagar budaya. Namun, hal itu dinilai memiliki konsekuensi besar. “Di sini bukan hanya rumah, tapi juga ada tempat sembahyang dan pusaka keluarga yang tidak bisa dipindahkan. Kalau dikelola pemerintah, kami tidak tahu bagaimana nantinya untuk beribadah,” jelasnya.

Kampung Kapitan tetap menjadi tempat yang menarik bagi wisatawan dan komunitas lokal, meski belum mendapat status cagar budaya, sehingga pemeliharaan tetap dilakukan secara mandiri oleh keluarga pemilik.

Kampung KapitanPalembangTionghoaIdul FitriCagar BudayaDonasiSungai MusiWisatawan

Komentar

Memuat komentar...