Kampung Naga Terancam Banjir, Harga Ijuk Membebani

Ika P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 57 dibaca
Bisik.id
Kampung Naga Terancam Banjir, Harga Ijuk Membebani

Gambar atau konten salah?

Kampung Adat Naga terletak di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Meskipun dikenal sebagai benteng terakhir budaya Sunda yang masih terjaga, kampung ini menghadapi banyak masalah.

Yang paling menonjol adalah banjir yang sering melanda. Selain itu, harga ijuk di pasar menjadi beban bagi warga yang ingin memperbaiki rumah.

“Sangat mengkhawatirkan. Kampung Naga sering mendapat banjir kiriman yang mengakibatkan rusaknya hutan garapan, sawah dan infrastruktur kampung adat itu sendiri,” kata Ketua Umum Majelis Adat Sunda, Anton Charliyan, Senin (27 April 2026).

Anton menambahkan bahwa trauma banjir besar pada tahun 2017 masih terasa. Tanah dan sawah garapan rusak parah. Ia berharap pemerintah dapat menormalisasi sungai dengan pengerukan atau peninggian tanggul sepanjang 1 kilometer di pinggiran sungai setinggi minimal 0,5 meter untuk menahan luapan air saat curah hujan tinggi.

Menurut Anton, meminta bantuan dianggap pantangan di Kampung Naga. “Meminta itu pantangan bagi warga Kampung Naga. Namun, jika ada yang memberi dengan ikhlas dan tulus, warga tidak akan menolak selama tidak bertentangan dengan tradisi. Sehingga dalam hal ini perlu kepedulian pemerintah,” ujarnya.

Fisik bangunan rumah adat juga banyak yang rusak. Harga ijuk yang tinggi membuat masyarakat tidak mampu membeli bahan untuk memperbarui atap. Akibatnya, atap bocor dan kayu penyangga rumah menjadi lapuk.

“Kondisi memprihatinkan ini tidak hanya menimpa rumah tinggal, tetapi juga fasilitas komunal seperti leuit (lumbung padi), pacilingan (toilet) dan fasilitas lainnya. Harga ijuk sudah tinggi, banyak warga yang tak mampu beli,” kata Anton.

Abah Tajudin, salah seorang sesepuh Kampung Naga, mengekspresikan harapan untuk bangkit secara mandiri melalui revitalisasi pertanian dan peternakan. Ia menginginkan warga menanam komoditas bernilai ekonomis tinggi.

“Ada keinginan warga untuk menanam pala, kopi, kelapa kopyor, atau lainnya dengan cara modern seperti pakai polybag atau green house agar tidak merusak lingkungan,” kata Tajudin.

Tokoh pemuda Kampung Naga, Aceng dan Aep, mengharapkan bantuan permodalan dan akses pasar yang tidak dimonopoli oleh bandar untuk hasil ternak ayam dan domba mereka.

“Ya kalau ada, kita ingin kembangkan peternakan dan perikanan yang sudah ada. Mungkin untuk bantuan modal dan pemasarannya,” kata Aceng.

Selain itu, mereka juga menuntut penataan jalan setapak akses menuju kampung agar tidak becek dan licin saat hujan.

“Termasuk untuk jalan akses juga, supaya tidak becek kalau hujan,” tambah Aceng.

Secara keseluruhan, Kampung Adat Naga memerlukan dukungan pemerintah dalam menanggulangi banjir, menurunkan harga ijuk, memperbaiki infrastruktur, dan membuka peluang ekonomi bagi warga. Tanpa intervensi, kondisi ini berpotensi semakin memburuk, mengancam keberlanjutan budaya dan kehidupan sehari‑hari penduduk setempat.

Kampung Adat Nagabanjirharga ijuksungaiinfrastrukturpertanianpeternakan

Komentar

Memuat komentar...