Kanker Kulit Setelah 18 Tahun Pakai Lampu UV Nail Kasus

Dwi H. · 2 min baca · 4 hari lalu · 45 dibaca
Bisik.id
Kanker Kulit Setelah 18 Tahun Pakai Lampu UV Nail Kasus

Gambar atau konten salah?

Seorang wanita berusia 52 tahun mengalami kanker kulit setelah rutin menggunakan lampu UV untuk mengeringkan kuku selama 18 tahun, dengan interval setiap tiga minggu. Lampu ini memancarkan sinar ultraviolet atau LED yang menstimulasi proses pengeringan kuku.

Beberapa tahun kemudian, di punggung tangan wanita tersebut muncul lesi atau benjolan. Satu tahun terakhir, benjolan kecil berwarna kemerahan, menebal, kasar, dan bersisik semakin banyak.

Untuk mengetahui penyebabnya, tiga lesi di punggung tangan pasien diambil untuk biopsi. Hasilnya, dua lesi sudah termasuk kanker kulit tahap sangat awal (SCC in situ), satu lesi lain termasuk actinic keratosis (AK) yang merupakan lesi pra‑kanker akibat paparan UV, tulisan dokter tersebut di Threads.

Menurut Dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, SpDVE, SubspOBK, FINSDV, FAADV, risiko penggunaan lampu UV nail lamp tertinggi dibandingkan paparan sinar matahari langsung. Namun, ia menegaskan bahwa paparan berulang dalam jangka panjang tetap dapat menyebabkan photoaging, flek, kerusakan kolagen, dan akumulasi kerusakan DNA pada kulit.

Ia juga menyebutkan bahwa pada individu dengan faktor risiko tertentu—seperti kulit terang, usia lanjut, atau riwayat paparan UV tinggi—paparan kronis secara teoritis dapat berkontribusi terhadap terbentuknya lesi pra‑kanker seperti actinic keratosis (AK).

Meski demikian, Dr. Darmaputra menegaskan bahwa belum ada bukti kuat yang dapat menunjukkan keterkaitannya. Ia mengatakan bahwa penggunaan UV nail lamp secara rutin belum terbukti menjadi penyebab utama kanker kulit. Sehingga kemungkinan lebih berperan sebagai faktor tambahan terhadap total paparan UV seumur hidup.

Ia menambahkan bahwa orang dengan warna kulit lebih terang atau fototipe Fitzpatrick I–II memang lebih rentan mengalami kerusakan kulit akibat paparan sinar UV. Karena kadar melanin yang lebih rendah, risiko terjadinya kerusakan DNA, actinic keratosis (AK), maupun kanker kulit non‑melanoma cenderung lebih tinggi dibandingkan individu dengan kulit yang lebih gelap.

Ringkasnya, meski lampu UV nail lamp dapat menambah risiko kerusakan kulit, tidak ada bukti yang jelas bahwa alat ini secara langsung menyebabkan kanker kulit. Penggunaan lampu ini tetap harus dipertimbangkan, terutama bagi orang dengan kulit terang atau faktor risiko lainnya.

kanker kulitlampu UVnail lampactinic keratosisphotoagingkulit terangpaparan UV

Komentar

Memuat komentar...