Kanker usus buntu melonjak tiga kali lipat pada usia muda

Sigit W. · 3 min baca · 6 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Kanker usus buntu melonjak tiga kali lipat pada usia muda

Gambar atau konten salah?

Kasus kanker usus buntu kini semakin banyak ditemukan pada orang-orang usia muda. Generasi X dan milenial menghadapi risiko yang tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang lahir di era 1940-an.

Usus buntu adalah kantung kecil yang terletak di sisi kanan bawah perut, tepat di dekat pertemuan antara usus besar dan usus kecil. Kanker di organ ini terjadi ketika sel-sel di usus buntu mengalami mutasi dan mulai tumbuh tidak terkendali.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 10 Juni 2025 di jurnal Annals of Internal Medicine mengungkapkan bahwa generasi X dan milenial mengembangkan kanker usus buntu dengan tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Meskipun jenis kanker ini tergolong sangat langka—hanya menyerang satu hingga dua orang per satu juta penduduk setiap tahunnya—peningkatan yang terjadi cukup signifikan.

"Dibandingkan dengan mereka yang lahir pada 1940-an, generasi X dan milenial yang lebih tua memiliki kemungkinan sekitar tiga kali lebih besar untuk didiagnosis mengidap kanker usus buntu secara keseluruhan. Itu cukup mengejutkan bagi kami," kata penulis utama studi tersebut. Ia adalah seorang asisten profesor hematologi dan onkologi di Vanderbilt University Medical Center dan Vanderbilt-Ingram Cancer Center.

Kiran Turaga, MD, MPH, kepala onkologi bedah di Fakultas Kedokteran Yale, mengatakan bahwa temuan ini mengonfirmasi apa yang sering ia lihat dalam praktik klinisnya. Bukan hanya generasi X dan milenial, ia bahkan menemukan pasien dari generasi Z yang mengidap penyakit ini.

"Minggu lalu di klinik, saya menangani pasien berusia 18 tahun dan 20 tahun yang menderita kanker usus buntu. Ini adalah fenomena nyata yang kami perhatikan," kata Turaga.

Para peneliti menganalisis angka kejadian kanker usus buntu lintas generasi menggunakan data dari registri Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) milik National Cancer Institute. Mereka mengidentifikasi 4.858 kasus kanker usus buntu pada orang berusia 20 tahun ke atas selama periode 1975 hingga 2019.

Hasilnya menunjukkan bahwa angka kejadian kanker usus buntu terus meningkat pada setiap generasi yang lahir setelah tahun 1945. Mereka yang lahir antara 1975 dan 1985 memiliki risiko tiga hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang lahir pada 1940-an.

"Ini bukan sekadar fenomena peningkatan deteksi. Hanya dengan melihat besarnya angka-angka ini, dikombinasikan dengan apa yang kami lihat di klinik dan pemahaman kami tentang para pasien, saya yakin bahwa ini merupakan peningkatan nyata insiden kanker usus buntu, terutama pada orang dewasa muda," kata Turaga.

Gejala umum kanker usus buntu meliputi nyeri perut, perut terasa kembung atau membesar, benjolan di area perut, mual dan muntah, serta cepat merasa kenyang saat makan. Informasi ini dikutip dari National Cancer Institute.

"Meski kejadiannya meningkat, kanker usus buntu masih tergolong jarang. Jadi, tidak semua gejala perut berarti Anda menderita kanker usus buntu. Namun demikian, perhatikan riwayat keluarga Anda, karena adanya anggota keluarga yang pernah menderita kanker dapat meningkatkan risiko Anda terkena kanker," kata Yun Song, MD, seorang asisten profesor onkologi bedah di MD Anderson Cancer Center.

Hingga saat ini, belum ada metode skrining standar yang secara khusus digunakan untuk mendeteksi kanker usus buntu. Bahkan, kolonoskopi—yang selama ini dianggap sebagai standar emas dalam skrining kanker usus besar—masih dapat melewatkan kasus kanker usus buntu.

"Saya menyarankan untuk memperhatikan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan atau gejala perut yang mengganggu, meskipun terkadang samar, seperti nyeri, rasa tidak nyaman, atau kembung yang tidak kunjung hilang. Jika mengalami kondisi tersebut, segera cari pertolongan medis," kata Song.

Generasi muda memiliki risiko lebih tinggi terkena berbagai jenis kanker dibandingkan generasi sebelumnya. Menurut studi tahun 2024 yang diterbitkan di Lancet Public Health, generasi milenial memiliki risiko lebih tinggi mengalami 17 jenis kanker yang berbeda.

Meski tren ini telah teridentifikasi, para peneliti masih belum mengetahui secara pasti penyebab meningkatnya kasus kanker pada usia muda. "Hal ini kemungkinan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Ada banyak faktor yang berperan, termasuk gaya hidup seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan, serta berbagai faktor lingkungan," kata Andreana N Holowatyj, PhD, MS, asisten profesor dari Vanderbilt University Medical Center dan Vanderbilt Ingram Cancer Center yang memimpin riset tersebut.

Kanker usus buntu memang masih jarang terjadi, namun peningkatan kasus pada usia muda menjadi perhatian serius di dunia medis. Para ahli terus meneliti faktor-faktor yang mungkin memicu tren ini, termasuk perubahan gaya hidup dan pola makan pada generasi modern.

kanker usus buntugenerasi Xmilenialrisiko tinggiusia mudagejalapeningkatan kasus

Komentar

Memuat komentar...