Kasus Campak Meningkat, 3 Kabupaten Penuhi KLB di Jawa Tengah

Yuli S. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Kasus Campak Meningkat, 3 Kabupaten Penuhi KLB di Jawa Tengah

Gambar atau konten salah?

1.423 kasus campak telah tercatat oleh Dinas Kesehatan Jawa Tengah (Dinkes Jateng) pada triwulan pertama tahun 2026. Menurut data, tiga kabupaten telah memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB).

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen alias Gus Yasin, menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap campak harus ditingkatkan. Ia menyatakan, “Kalau COVID-19 satu orang menulari lima orang, campak bisa sampai 18 orang. Maka penguatan imunisasi menjadi kunci, tidak hanya untuk campak tetapi juga penyakit menular lainnya seperti TBC.”

Gus Yasin menambahkan bahwa KLB campak di Jawa Tengah baru terjadi di tiga kabupaten, yaitu Cilacap, Klaten, dan Pati. Dua daerah lain masih dalam status suspek, yakni Brebes dan Kudus.

Dalam laporannya pada 02 April 2026, Kepala Dinkes Jateng, Yunita Dyah Suminar, mencatat 1.490 kasus suspek campak di seluruh 35 kabupaten/kota. Puncak kasus terjadi pada bulan Januari dengan 792 suspek, turun menjadi 441 pada Februari dan 257 pada Maret.

Dari total suspek tersebut, ratusan sampel telah diuji. Hasilnya menunjukkan 121 kasus positif campak dan 14 kasus positif rubella di Jawa Tengah.

Distribusi wilayah menunjukkan suspek terbanyak berasal dari Kudus, diikuti oleh Brebes dan Banyumas. Untuk kasus positif campak, wilayah dengan angka tertinggi adalah Cilacap (21 kasus), Pati (18), Banyumas (14), dan Kebumen (11).

Yunita menegaskan bahwa status KLB belum dideklarasikan oleh pemerintah daerah. Menurutnya, kriteria KLB terpenuhi bila ada dua kasus dalam satu rumah dan kedua penderita berhubungan secara epidemiologis serta IgM positif.

Ia menyebutkan bahwa tiga wilayah, yaitu Cilacap, Klaten, dan Pati, sudah memenuhi kriteria tersebut namun belum resmi dideklarasikan. “Jika tidak dideklarasi, yang penting penanganannya,” ujarnya.

Penanganan pasien tetap menjadi prioritas utama. Karena campak disebabkan oleh virus, perawatan bersifat simptomatis. Misalnya, jika demam muncul, maka demam tersebut akan ditangani. Selain itu, Dinkes juga memperkuat pencegahan melalui Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah berisiko.

ORI bertujuan untuk memeriksa kembali apakah ada anak-anak yang belum diimunisasi campak. Meskipun cakupan imunisasi di Jawa Tengah sudah tinggi, dampak pandemi COVID-19 membuat sebagian anak terlewat imunisasi, yang berkontribusi pada munculnya kasus saat ini.

Secara keseluruhan, data menunjukkan peningkatan kasus campak di Jawa Tengah, dengan beberapa kabupaten memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa. Penanganan cepat dan upaya imunisasi terus menjadi fokus utama dalam menanggulangi penyebaran penyakit ini.

Campak Jawa TengahKejadian Luar BiasaImunisasiOutbreak Response ImmunizationCOVID-19Kabupaten CilacapKabupaten Pati

Komentar

Memuat komentar...