Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting

Sinta R. · 5 min baca · 59 menit lalu · 28 dibaca
Bisik.id
Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting

Gambar atau konten salah?

Indonesia masih banyak kasus Penyakit Jantung Rematik (PJR) dan penyakit katup degeneratif. Sebagai negara berkembang, jumlah penderita tetap tinggi.

Penyakit katup jantung terjadi ketika katup tidak berfungsi dengan baik. Katup berperan seperti pintu satu arah, membuka dan menutup untuk mengarahkan darah ke bagian jantung yang tepat.

Prof Dr dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI dari Siloam International Hospitals menyatakan bahwa Indonesia menghadapi peningkatan kasus katup jantung degeneratif.

Di Indonesia, selain PJR, prevalensi penyakit katup akibat penuaan terus naik. Harapan hidup yang lebih lama membuat lebih banyak orang mengalami kerusakan katup.

Katup jantung bekerja seperti pintu satu arah. Bila katup menyempit atau bocor, jantung harus bekerja lebih keras, yang akhirnya mengganggu fungsi jantung secara keseluruhan.

Prof Antonia mengatakan banyak kasus tidak terdeteksi di tahap awal karena gejalanya tidak khas. “Sering kali pasien hanya merasa lebih cepat lelah atau kemampuan beraktivitasnya menurun dibanding sebelumnya. Keluhan seperti ini kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan,” ujarnya.

Faktor risiko utama adalah pola hidup tidak sehat. “Lifestyle-nya, cara olahraga, asupan makanannya, dan kebiasaan-kebiasaan lain seperti merokok, kegemukan, atau kurang olahraga. Itu semua menentukan bagaimana proses degeneratif pada badannya saat usia mulai bertambah,” tambahnya.

Perubahan tubuh yang mungkin menandakan masalah katup adalah mudah lelah. Prof Antonia menekankan bahwa tanda ini sering samar di awal.

“Khasnya penyakit jantung katup adalah gejalanya tidak kentara. Cepat lelah merupakan salah satu yang paling utama dan juga berdebar-debar, ataupun pingsan. Itu gejala yang menunjukkan gejala yang kondisinya agak lanjut,”

“Jadi memang segera rutinkan medical check-up kalau kita punya anggota keluarga yang sudah lanjut usia. Karena kadang-kadang keluhannya tidak khas memang, jadi sulit terdeteksi,”

Usia menua merupakan faktor utama degenerasi katup. Namun kondisi lain mempercepat proses, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit ginjal kronis, merokok, obesitas, dan kurang aktivitas fisik.

Penyakit katup juga dapat disebabkan oleh demam rematik, kelainan bawaan, infeksi tertentu, atau komplikasi penyakit jantung lain.

Prof Antonia menyarankan pemeriksaan EKG bagi orang berusia di atas 40 tahun atau lansia yang memiliki faktor risiko. EKG dapat mendeteksi aritmia dan pembesaran ruang jantung akibat beban kerja katup yang berat.

“EKG itu karena ada di mana-mana, dan biayanya sangat hemat dan mudah dilakukannya. Tidak perlu spesialis khusus,”

Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan rutin bagi anak muda, terutama yang ingin memeriksa kesehatan katup jantung.

Misalnya, hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penebalan jantung, pembengkakan, dan pelebaran serambi jantung, yang semuanya dapat memicu aritmia.

Gejala awal penyakit katup sering tidak disadari. Seiring bertambah beratnya gangguan, pasien dapat mengalami:

  • Mudah lelah saat beraktivitas
  • Sesak napas, terutama saat berjalan atau menaiki tangga
  • Jantung berdebar
  • Nyeri dada
  • Bengkak pada tungkai
  • Pusing atau pingsan

Prof Antonia menekankan bahwa gejala-gejala ini tidak boleh dianggap sepele, terutama bagi yang memiliki faktor risiko.

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi. Pemeriksaan kesehatan rutin dapat mengidentifikasi kelainan sebelum gejala berat muncul.

EKG merupakan pemeriksaan awal yang mudah dijangkau, sedangkan ekokardiografi atau USG jantung adalah pemeriksaan utama untuk menilai struktur dan fungsi katup.

Melalui ekokardiografi, dokter dapat menentukan jenis dan tingkat keparahan kelainan katup, sehingga penanganan menjadi lebih tepat.

Teknologi medis kini memungkinkan beberapa pasien mendapatkan terapi tanpa operasi jantung terbuka. Salah satu prosedur yang digunakan adalah Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI).

TAVI ditujukan untuk stenosis aorta, kondisi ketika katup aorta menyempit dan menghambat aliran darah ke seluruh tubuh. Prosedur ini menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, sehingga tidak memerlukan pembukaan rongga dada.

Selain TAVI, ada prosedur MitraClip yang digunakan pada pasien dengan kebocoran katup mitral (regurgitasi mitral). Dokter memasang klip khusus pada katup untuk membantu menutup lebih rapat.

Meski demikian, tidak semua pasien cocok menjalani TAVI maupun MitraClip. Penentuan terapi dilakukan berdasarkan evaluasi menyeluruh oleh tim multidisiplin, termasuk dokter spesialis jantung, dokter bedah jantung, dan tenaga kesehatan terkait.

Di Indonesia, layanan diagnosis dan terapi penyakit katup modern telah tersedia, termasuk di jaringan Siloam. Rumah sakit di jaringan Siloam menyediakan pemeriksaan penunjang seperti EKG, ekokardiografi, MRI jantung, dan CT jantung.

Beberapa rumah sakit Siloam juga menawarkan tindakan intervensi kardiovaskular, termasuk TAVI dan MitraClip bagi pasien yang memenuhi indikasi medis.

Pendekatan di Siloam tidak hanya fokus pada tindakan, melainkan juga evaluasi menyeluruh, pemilihan terapi yang sesuai, dan pemantauan jangka panjang untuk memastikan hasil optimal bagi pasien.

Masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan bila mengalami gejala seperti mudah lelah, sesak napas, jantung berdebar, atau penurunan kemampuan beraktivitas yang tidak dapat dijelaskan.

Deteksi dan penanganan dini dapat membantu mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

Menyoal TAVI dan MitraClip, Prof Antonia menjelaskan bahwa kedua prosedur ini termasuk Minimal Invasive Surgery (MIS), sehingga pasien hanya membutuhkan waktu pemulihan singkat.

“Itulah kekuatan multidisiplin dan hati untuk menentukan seseorang ini, sudah pantas dilakukan yang mana yang paling aman dan paling bagus untuk jangka panjangnya,”

Pasien biasanya dapat pulang ke rumah setelah tiga hari, dan membutuhkan waktu 6-8 minggu untuk kembali beraktivitas normal, meski tidak langsung berat.

Prof Antonia menambahkan bahwa sebelum memutuskan TAVI atau MitraClip, para dokter seperti dokter jantung hingga dokter bedah akan berkumpul untuk membuat keputusan.

Di jaringan Siloam International Hospitals, kedua prosedur ini sudah tersedia, menandakan komitmen rumah sakit untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi pasien.

Siloam Hospitals Lippo Village telah menjadi Chest Pain Ready Hospital (CPRH), rumah sakit yang siap menangani kegawatdaruratan jantung secara cepat, tepat, dan terintegrasi.

Persiapan CPRH didukung oleh sistem end-to-end mulai dari IGD, pemeriksaan EKG dalam waktu kurang dari 10 menit, hingga kesiapan Cath Lab untuk tindakan katerisasi, dan tim medis jantung multidisiplin 24/7.

Dengan prinsip “time is muscle”, setiap menit sangat krusial dalam menyelamatkan otot jantung dan meningkatkan peluang hidup pasien.

Jika mengalami gejala nyeri dada, masyarakat diimbau untuk segera menghubungi call center darurat Siloam di 1500911 untuk mendapatkan penanganan cepat dan tepat.

Gaya hidup memegang peranan besar. Pola makan tinggi garam, kurang sayur, dan kebiasaan merokok dapat mempercepat kerusakan katup. Olahraga teratur membantu menjaga elastisitas katup.

EKG tidak hanya mendeteksi aritmia, tapi juga menilai tekanan pada jantung. Hasil EKG dapat menunjukkan adanya pembesaran ruang jantung, yang sering kali menjadi tanda beban kerja katup yang berlebihan.

Ekokardiografi menggunakan gelombang suara untuk memvisualisasikan katup. Dokter dapat melihat seberapa rapat katup menutup, seberapa cepat darah mengalir, dan apakah ada kebocoran.

Prosedur TAVI dimulai dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di paha. Kateter membawa katup baru ke posisi katup aorta, lalu katup lama diangkat dan digantikan.

Untuk MitraClip, dokter menempatkan klip melalui kateter yang masuk lewat arteri. Klip ini menempel pada daun katup mitral, membantu menutup lebih rapat dan mengurangi kebocoran.

CPRH di Siloam Hospitals Lippo Village dilengkapi dengan ruang gawat darurat khusus, ruang EKG, dan laboratorium cepat. Semua prosedur dapat dilakukan dalam hitungan menit setelah pasien masuk.

Waktu yang cepat sangat penting. Setiap menit yang terbuang dapat menyebabkan kerusakan otot jantung. Oleh karena itu, penanganan segera menjadi kunci dalam menyelamatkan nyawa.

Jika Anda merasakan nyeri dada atau gejala lainnya, jangan menunda. Hubungi call center darurat Siloam di 1500911. Tim medis akan menilai dan mengarahkan Anda ke perawatan yang tepat.

Dengan kombinasi pemeriksaan rutin, teknologi minimal invasif, dan layanan darurat yang responsif, Indonesia dapat menanggulangi peningkatan penyakit katup jantung. Kesadaran masyarakat dan akses layanan medis menjadi faktor penentu.

Penyakit Katup JantungTAVIMitraClipEKGEkokardiografiFaktor RisikoSiloam International Hospitals

Komentar

Memuat komentar...